| Sabtu, 03 Nopember 2007 | INTERNASIONAL |
Sanksi Iran Dibahas di LondonLONDON - Enam negara besar, kemarin, bertemu di London untuk membahas pembelakukan sanksi ketiga terhadap Iran karena penolakan negara itu menghentikan proses pengayaan uranium. Mereka menduga uranium yang diperkaya itu untuk membuat bom nuklir. Perundingan antara pejabat tinggi dari lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB - AS, Rusia, China, Inggris, dan Prancis - plus Jerman itu dimulai kemarin, kata sumber-sumber diplomatik. Iran menolak menghentikan proses itu setelah dua resolusi sanksi PBB sebelumnya. Teheran juga membantah ingin membuat bom atom. Menurutnya, program nuklirnya hanya untuk pembangkit tenaga listrik. Amerika Serikat, yang diwakili wakil Menlu urusan politik Nicholas Burns, mengatakan Washington menginginkan kemajuan dalam merancang resolusi sanksi dan para menteri kemudian bisa memutuskan waktunya. China Menentang Namun para diplomat dari negara lain menyatakan mereka ingin terlebih dahulu mendengar kemajuan dalam perundingan Iran dengan badan pengawas nuklir PBB, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA). Kemajuan itu dicapai setelah Teheran bersedia menjawab pertanyaan tentang aktivitas nuklir rahasia di masa lalu. Burns mengatakan Rusia dan China, mitra dagang besar dengan Iran, secara efektif menggagalkan langkah menuju resolusi sanksi ketiga selama enam bulan. AS memberlakukan sanksi ekonomi pekan lalu dan tidak mengesampingkan aksi militer terhadap Iran. Inggris juga menyatakan akan mendesakkan sanksi ketiga PBB. Namun Rusia yakin dialog, bukannya sanksi lebih lanjut, sebaiknya ditempuh sedangkan China menyatakan menentang tindakan yang "terlalu gegabah". Mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani, kemarin, mengatakaan Teheran bekerja sama dengan IAEA, tentang kesepakatan Agustus lalu bahwa Teheran berjanji menghilangkan kecurigaan mengenai aktivitas atom rahasianya di masa lalu. Rafsanjani adalah ulama berpengaruh dan ketua Majelis Pakar. Dia mengatakan, "Amerika melakukan kesalahan. Iran telah melakukan negosiasi dengan IAEA. Teheran menyatakan IAEA telah mengajukan pertanyaan dan memperoleh jawaban. Orang itu perlu sabar dan berunding." Mengacu pada kemungkinan aksi militer AS, dia menyatakan, "Saya yakin jika Amerika melancarkan serangan, seluruh negara di dunia akan segera menyadari bahwa Amerika telah melakukan kesalahan fatal."(rtr-niek-26) |