logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Nopember 2007 EKONOMI
Line

Inflasi Sesuai Target

  • Ekspor Komoditas Harus Ditingkatkan

JAKARTA-Bank Indonesia optimistis target inflasi enam plus-minus satu persen pada 2007 ini akan tercapai, meski harga minyak dunia akhir-akhir ini naik. Alasannya, sampai saat ini masih tercapai enam plus minus satu, sehingga angka ini masih sesuai prediksi. Sikap optimistis itu dilontarkan Direktur Direktorat Statistik dan Moneter Bank Indonesia (BI) Triono Widodo di Gedung BI kemarin. Optimisme itu, kata dia, didukung kebijakan yang hati-hati. Karena itu, meski terdapat guncangan akibat kenaikan harga minyak dunia, pihaknya yakin tidak akan membuat krisis seperti tahun 1997. BI yakin, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) tetap surplus dan kemungkinan terjadi penambahan 1 hingga 2 juta dolar AS.

Sebelumnya Menko Perekonomian Boediono mengatakan, target inflasi 2007 sebesar 6,0 persen masih bisa dicapai, meskipun pemerintah hanya memiliki ruang inflasi 0,76 persen dalam dua bulan ke depan.

"Saya kira asal bahan pokok stabil masih bisa mendekati. Yang penting difokuskan pada harga kebutuhan pokok," ujarnya.

Menko juga menambahkan, tekanan inflasi terbesar mendatang bulan Desember, karena ada hari natal dan tahun baru. Kamis (1/11) lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, selama Oktober 2007 terjadi inflasi sebesar 0,79 persen. Laju inflasi tahun kalender (Januari-Oktober) 2007 sebesar 5,24 persen dan angka year on year sebesar 6,88 persen.

Dimarjinalkan

Optimisme serupa disampaikan Wapres Jusuf Kalla yang meyakini ekonomi Indonesia akan tetap 6,5%, meski harga minyak mentah dunia terus melonjak. "Harus dicari hal positif lain untuk meningkatkan, dan saya yakin ekonomi akan tetap baik," ujar Kalla di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta.

Kalla menjelaskan, upaya yang harus dilakukan dengan meningkatkan ekspor komoditas yang saat ini sedang naik harganya di dunia. "Apa yang naik di dunia kita ekspor, misalnya jagung. Kita cari negara-negaranya," ujarnya.

Disinggung mengenai defisit neraca perdagangan minyak mentah Indonesia bulan September, Boediono mengatakan, pemerintah akan mengandalkan hasil minyak di Blok Cepu yang akan beroperasi pada akhir tahun depan. Semua blok minyak kecil pun akan dijadikan andalan. "Ada yang kecil-kecil, saya tidak tahu detailnya. Pak Menteri ESDM mengatakan ada yang kecil kecil," ujarnya.

Dia menambahkan, minyak mentah posisi Indonesia memang dimarjinalkan, namun untuk ekspor energi secara keseluruhan yang meliputi gas, batubara, ekspor Indonesia masih positif.

Berdasarkan data BPS pada Januari-September 2007 nilai ekspor minyak mentah (freight on board/FOB) sebesar 6,309 miliar dolar AS. Sementara impor minyak mentah mencapai 6,431 miliar dolar AS. (bn-33).


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA