logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Teror Hantu yang Kedodoran

APA pesan yang bisa diambil dari film hantu Indonesia? Nyaris tak ada. Formulasi film hantu kebanyakan cenderung menghadirkan kekagetan, jeritan, dan muncratan darah. Selebihnya, omong kosong belaka. Kreator acap kali menafikan pesan.

Hasilnya? Sebagaimana Pulau Hantu karya Jose Poernomo, film adalah media pelarian diri dari dari dunia nyata. Sebagai sutradara yang sukses menghasilkan Jelangkung (2001) bersama Rizal Mantovani dan Angker Batu (2007), Jose cuma mampu memberikan alternatif berupa pengambilan sudut gambar. Itulah gambar dari bawah laut. Sisi sinematografi, keaktoran, dan penyutradaran kedodoran.

Penggarapan latar musik mudah saja. Jika adegan mengagetkan, cukup dihadirkan musik pengiring yang mengentak penonton. Jadi, tak perlu banyak bekal untuk menikmati film produksi MVP Picture itu.

Simpan saja logika sehat. Sisanya, biarkan logika horor film berdasar skenario Jose dan Benny Akhmad Basuni itu berjalan atas kemauan sendiri. Setelah 90 menit salah kaprah, pungut kembali logika sehat dan tinggalkan gedung bioskop dengan lapang dada.

Kisah Pulau Hantu bermula ketika delapan sekawan hendak meluangkan waktu akhir pekan di Kepulauan Seribu. Dante (Ricky Harun), Alisha (Kartika Ayuningtyas), Mario (Yediael Luntungan), Radella (Indri Yanuarti), Meryl (Ufara Dzikri), Abel (Bramasto), Nero (Abdulrahman Arif), dan Tracy (Rini Oktaviani) membelokkan tujuan karena kapal pesiar yang mereka tumpangi harus segera kembali ke Jakarta.

Mereka diturunkan di sebuah pulau kecil yang indah. Pulau tak bernama itu dikelola dua orang penunggu. Penjaga pulau, suami-istri, mengajukan syarat sederhana kepada delapan orang itu. "Boleh menikmati semua fasilitas di pulau ini, kecuali mendatangi halaman belakang pulau," kata mereka.

Karena, di belakang pulau ada kuburan kosong bagi seorang gadis kecil yang hilang dan tak ditemukan hingga sekarang. Singkat cerita, mereka justru ingin tahu misteri itu. Bisa ditebak, hantu pulau terusik. Satu per satu menemui ajal dengan cara tak lazim. (Benny Benke-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA