logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 03 Nopember 2007 BUDAYA
Line

Timur Sinar Memang Masih Bersinar

LAMA tak terdengar berkiprah, bukan berarti Timur Sinar Suprabana kehilangan daya pesona. Penyair itu masihlah pembaca puisi dengan aksentuasi khas yang mampu jadi magnet untuk menyedot perhatian pendengar.

Tak percaya? Lihatlah, ketika dia mempresentasikan puisi "Rick dari Corona", pada peluncuran Sanggar Sastra di SMA PGRI 1 Kendal, Kamis (1/11). Sekitar 100 siswa SMK se-Kendal yang menyimak puisinya bergeming di kursi masing-masing.

"Betsyku bersih dan putih sekali/lunak dan halus bagaikan karet busa//Rambutnya mewah tergerai/bagai berkas benang-benang rayon warna emas//Dan kakinya sempurna/singsat dan licin/bagaikan ikan salmon..."

Suaranya masih bening, masih melengking. Artikulasinya mantap, dengan intonasi meliuk-liuk sesuai dengan pesan puisi itu. Tak heran, siswa pun menyambut dengan keplok di sesela bait-bait puisi yang dibaca.

Sesekali dia tampil gagah, ketika mengucapkan "dialog" Rick yang merayu sang kekasih. Kali lain, lagak lagunya begitu genit kemayu saat menghadirkan Betsy. Tak lupa, dia menggeraikan rambut panjang yang semula terkucir sehingga aktingnya makin paripurna.

Selain Timur, peluncuran Sanggar Sastra itu juga dimeriahkan dengan Jurnalis Baca Puisi. Mereka antara lain Slamet Priyo (Cempaka/Rasika FM), Abbas Effendi dan Umar (Wawasan), dan Edhie Prayitno Ige (Radio Elshinta).

"Kehadiran para penyair membacakan karya mereka, kami harapkan bisa memantik ketertarikan siswa pada sastra, terutama puisi. Eh, siapa tahu dari Sanggar Sastra bisa lahir para penyair berprestasi," kata Kepala SMA PGRI 1 Kendal, Puji Hastuti.

Pembaca Puisi

Penampilan Timur tak jauh beda dari penampilannya pada masa jaya, awal dekade 1980-an sampai 1990-an. Masa itu, nama Timur memang berkibar tinggi di langit perpuisian Indonesia. Di tangan Timur, puisi Rendra itu hadir sebagai kisah menghanyutkan. Dia membacakan puisi itu dengan penghayatan, yang menunjukkan kelasnya.

Ya, selain penyair, dia adalah pembaca puisi andal. Terlebih jika dia membacakan karya penyair yang selalu dipanggilnya dengan sebutan akrab Mas Willy itu.

"Puisi 'Rick dari Corona' merupakan salah satu karya Mas Willy yang sangat saya suka. Sebab, puisi itu bisa saya baca dengan cara sesuka saya," ujar Timur.

Ternyata bukan cuma "Rick dari Corona" yang menunjukkan kualitas Timur. Pembacaan puisinya sendiri pun menunjukkan: Timur memang masih bersinar. (Achiar M Permana-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA