SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Rabu, 31 Oktober 2007

Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA memberikan prediksi, untuk meningkatkan popularitas seorang calon presiden hingga mencapai 80 persen diperlukan dana sekitar Rp 300 miliar. Tentu jumlah itu tidak sedikit bahkan sangat mahal. Itu berarti hanya pengusaha besar atau yang telah memiliki popularitas tinggi yang bisa mencalonkan. Dan kalau asumsi dan prediksi itu benar maka posisi incumbent akan lebih untung karena relatif sudah sangat dikenal tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Berbeda misalnya dengan penantang yang belum banyak dikenal sehingga harus merogoh kocek jauh lebih banyak.

Respons pembaca atas tertangkapnya penyanyi Fariz Rustam Munaf karena membawa lintingan ganja patut kita renungkan. Tidak sedikit pembaca harian ini yang menelepon untuk mengungkapkan opininya. Ada yang bersimpati, ada yang secara sinis mempersoalkan mengapa media membesar-besarkan berita semacam itu padahal sebenarnya sudah menjadi "hal yang biasa". Ada pula yang berkontemplasi dengan caranya, "Itu karena ketahuan, yang tidak ketahuan tentu lebih banyak lagi". Pernyataan kedua dan ketiga sama-sama menariknya, karena memaparkan sebuah realitas menyangkut urusan publik dengan narkoba.

PADA 24 Oktober 2007 Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengumumkan kelompok Al-Qiyadhah al-Islamiyah (selanjutnya disebut Al-Qiyadhah) sebagai aliran sesat dan menyesatkan. Karena itu, MUI kemudian melaporkan organisasi tersebut ke Mabes Polri.

PENAMBAHAN jumlah penduduk miskin yang menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 39% secara nasional amat merisaukan. Beragam program dicoba dikerjakan, baik oleh pemerintah, NGO (LSM) maupun oleh lembaga-lembaga lokal lain, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan.

Mungkin ada orang yang menuduh sebagai "pengkhianat" bangsa kalau saya mengatakan, sekarang ini tidak relevan atau tidak ada gunanya lagi memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober. Satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, sudah lama dikubur dan tidak lagi menjiwai bangsa ini. Jangan tepuk dada punya ikon sumpah pemuda yang hanya diperingati seremonial.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA