logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 OLAHRAGA
Line

Roh Sumpah Pemuda Tergerus di Sepak Bola? (2-Habis)

Perpindahan Medan Persaingan Suporter

  • Oleh Sumaryoto

NELSON Mandela pernah berpendapat tentang kedahsyatan sepak bola. ''Itu merupakan salah satu aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia,'' ujarnya. Demikian ucapan seorang negarawan besar, yang menjadi ilham penyelenggaraan konferensi bertopik ''Sepak bola dan Perdamaian Internasional'' oleh Korean Political Science Association dan Korea Football Association, menjelang Piala Dunia Korea-Jepang 2002.

Penyelenggaraan Piala Dunia oleh dua negara itu merupakan contoh aktual dari cita-cita hadirnya perdamaian internasional. Ketua PSSI-nya Korea Selatan, Chung Mong-joon, menyebut salah seorang pangeran dari Jepang yang hadir saat upacara pembukaan di Korea merupakan kerabat keraton Jepang pertama yang menjejakkan kaki di negara yang dibelit perasaan permusuhan sejak setengah abad lampau.

Tetapi, kolumnis sepak bola terkenal, Rob Hughes, yang menjadi pembicara konferensi menyodorkan realitas lain. Katanya, sepak bola memang mampu menerobos perbatasan antarnegara, tetapi apakah para politikus akan menghormati aturan yang berlaku di dalamnya? Ia sebutkan, dari Hitler, Idi Amin sampai pemimpin di Amerika Latin, telah membajak popularitas sepak bola untuk mengobarkan ideologi kriminal. Alih-alih membawa pengaruh positif, tetapi justru menggunakan olahraga sebagai kendaraan untuk menyebarkan kebencian.

''Negara Suporter''

Pengalaman pribadi pada tahun 2000: akibat kerusuhan suporter di Jawa Tengah, beberapa bis saya hancur kaca-kacanya. Memanglah, primodialisme sempit dalam sepak bola kita, belum menjadi persoalan yang selesai. Bahkan mungkin lebih menjadi-jadi.

Coba simak tulisan di kolom surat pembaca salah sebuah harian. Dikemukakan, dalam siaran langsung pertandingan

sepak bola lokal melalui televisi, sering terlihat spanduk-spanduk suporter yang memproklamasikan kelompok mereka dengan sebutan republik. Hitung saja berapa banyak ''negara suporter'' yang mendukung timnya di divisi utama, divisi satu dan dua, yang ada di negara kesatuan RI ini.

Memproklamasikan kelompok suporternya dengan sebutan semacam itu mungkin bermaksud hanya lelucon. Tetapi mungkin juga tidak.

Apalagi bila dikaitkan dengan militansi buta kelompok-kelompok suporter di Tanah Air selama ini, terutama fenomena tawuran antarmereka, yang selalu merambah pihak-pihak lain di luar stadion pertandingan.

Baik sebagai pelaku kerusuhan maupun korbannya. Betapa mengerikan ketika tawuran antarmereka kini telah diberi label baru, ibaratnya sebagai perang antarnegara!

Untuk menemukan solusi, bersama ini saya ingin mengajak tukar-menukar pendapat, berdiskusi, dengan sahabat-sahabat muda saya, sesama pencinta sepak bola, yaitu kalangan suporter yang berada di Jawa Tengah.

Kreatif

Kita tahu adanya titik-titik panas yang muncul bila terjadi pertemuan atau pergesekan antarpendukung tim sepak bola di berbagai kota di Jawa Tengah. Menurut pengamatan saya, pergesekan itu terjadi karena energi anak-anak muda itu terlalu tertumpu kepada satu medan persaingan, yaitu di lapangan pertandingan.

Memang sejak tahun 2000 telah muncul fenomena kelompok suporter kreatif, atraktif dan bersemangatkan anti kekerasan. Fenomena tersebut harus terus kita pupuk, antara lain dengan ide yang sederhana ini, yaitu upaya memberikan ruang-ruang persaingan di medan-medan kegiatan budaya. Atau di lahan pendidikan, latihan, juga kewiraswastaan. Semuanya itu dirancang dan dilaksanakan oleh mereka sendiri.

Kelompok suporter dari Solo telah memulai. Tokohnya, Gondrong Suryadarma, mengeluarkan album lagu-lagu kelompok suporter Pasoepati yang dikemas dalam bentuk CD, bahkan dikabarkan juga dijual. Merujuk contoh baik itu, Pendopo Sumaryoto, ingin mengadakan lomba menulis dan menyanyikan lagu-lagu kelompok suporter sepak bola Jawa Tengah. Dari Batang sampai Karanganyar. Dari Jepara sampai Wonogiri.

Konsep detailnya sedang dimatangkan. Sebagai bocoran, terdapat dua jenis lomba : (a) yel-yel suporter, dan (b) lagu. Jenis lagu yang dilombakan adalah (a) lagu asli dan, (b) lagu modifikasi, baik Barat, Indonesia ataupun tradisional. Untuk yang (b), misalnya seperti suporter klub MU di Liga Inggris yang memodifikasi lagunya Boney M, Brown Girl in The Ring saat memuja strikernya, Ruud van Nistelrooy.

Liriknya: Ruud van Nistelrooy, la.. la.. la..la ; Ruud van Nistelrooy..la..la..la..la..la ; Ruud van Nistelrooy, la..la..la..la..la ; Heís Dutch, and scores a lot of goals !. Atau lagu Gambang Semarang dimodifikasikan teksnya, misalnya, isinya untuk menunjukkan sportivitas kelompok Panser Biru.

Apakah lomba dan pembuatan album-album karya suporter mampu menjadi obat bagi sakitnya sepak bola kita ? Bisa ya, bisa pula tidak. Tetapi hemat saya, dengan berkreasi di bidang budaya, mereka terjun dalam aktivitas yang melibatkan citra, rasa dan karsa. Anak-anak muda kita dapat saling belajar, juga bertoleransi, karena terjadi persaingan yang menghormati pluralitas. Bukankah ini wajah asli Indonesia yang bhinneka tunggal ika?

Dalam atmosfer sejuk itu, marilah kita terus berpikir dan berkarya demi kemajuan sepak bola Indonesia. Juga di bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Jalan yang jauh itu harus kita tempuh, dengan keoptimistisan dan kebersamaan. Salam sepak bola!

(Drs H Sumaryoto adalah ketua kehormatan PSSI Jateng-22)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA