logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

Lagi-lagi, "Zat Setan" di Dunia Impian

Respons pembaca atas tertangkapnya penyanyi Fariz Rustam Munaf karena membawa lintingan ganja patut kita renungkan. Tidak sedikit pembaca harian ini yang menelepon untuk mengungkapkan opininya. Ada yang bersimpati, ada yang secara sinis mempersoalkan mengapa media membesar-besarkan berita semacam itu padahal sebenarnya sudah menjadi "hal yang biasa". Ada pula yang berkontemplasi dengan caranya, "Itu karena ketahuan, yang tidak ketahuan tentu lebih banyak lagi". Pernyataan kedua dan ketiga sama-sama menariknya, karena memaparkan sebuah realitas menyangkut urusan publik dengan narkoba.

Benarkah "zat setan" itu sudah menjadi "hal yang biasa"? Rangkaian penangkapan oleh polisi, baik di kalangan selebriti maupun masyarakat umum, termasuk terbongkarnya jaringan - bahkan pabrik ekstasi atau sabu-sabu, terasa benar makin menyempit dalam jarak waktu maupun kecenderungan. Padahal masih ada kemungkinan yang tidak ketahuan lebih banyak lagi. Ya di kalangan selebriti, ya di kalangan masyarakat biasa. Itulah realitas: penegakan hukum terus berjalan, pelanggaran juga terus berlangsung. Hukum mencoba mencari terapi, sementara pelaku kejahatan tetap mencari-cari modus dan peluang.

Dari kasus Fariz RM, termasuk yang sebelum ini juga menimpa Gogon, Roy Marten, Polo, Doyok, Derry, dan seterusnya, kita bisa mempersempit wilayah pelanggaran itu seakan-akan berbanding lurus dengan kehidupan dunia gemerlap yang realitasnya memang penuh dengan tekanan psikologis. Misalnya dipetakan menyangkut keglamoran dunia selebritas, lingkaran pergaulan, upaya-upaya mempertahankan eksistensi, atau juga pelarian ketika popularitas secara alamiah mulai menjauhi kehidupannya. Narkoba seolah-olah menjadi "pilihan" dalam ruang "kelaziman" yang bertali-temali dengan kemudahan untuk mengaksesnya.

Sudah sering dipertanyakan, mengapa mereka yang hidup di "langit", yang menjadi trendsetter dalam banyak sikap dan pola kehidupan, akhirnya gagal bertahan dari usikan atau godaan "pilihan jalan" itu? Padahal bukankah sebagian dari mereka acapkali menjadi ikon dalam kasting yang memerankan tokoh-tokoh teladan? Bukankah ada kesadaran mereka justru menjadi "perhatian", memiliki barisan fans, sebagian lagi merupakan penghibur atau alternatif yang menyemarakkan hidup kita - misalnya - dengan pencerahan-pencerahan humor segarnya? Atau kita mudahkan jawaban itu bahwa "selebriti juga manusia"?

Distribusi obat-obatan terlarang berkemungkinan membentuk lalu lintas yang makin luas. Semua lini bisa menjadi jalur yang sama-sama potensialnya. Jadi kita tidak lagi bisa mengklaim hanya di dunia hiburan malam, dunia gemerlap, di kalangan artis dan lingkarannya semua itu bisa ditransaksikan. Kita mengamati, gerakan-gerakan antinarkoba yang digalang oleh sejumlah elemen masyarakat memang sudah cukup menggaungkan gema. Namun kita juga menyadari, gema gerakan pasti terus berpacu dengan modus-modus distribusi di dalam jaringan pengedar maupun pengguna yang makin rapi dan serbatidak terduga.

Bukankah kasus Fariz RM dan sederet artis itu menggambarkan tidak ada terapi yang dapat diandalkan untuk memutus mata rantai peredaran narkoba? Satu tokoh tertangkap, berurusan dengan hukum, mengaku menyesal, tetapi segera muncul kasus yang lain. Nuansa represif masih lebih kuat ketimbang tindakan-tindakan yang menerbitkan kondisi preventif. Di sinilah pentingnya jaringan mata rantai kontrol itu melalui revitalisasi komunikasi di dalam keluarga, lingkungan pergaulan - sekolah, kerja, sosial, dll - serta berbagai medium yang memungkinkan terciptanya kehangatan interaksi yang saling asah-asih-asuh.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA