| Rabu, 31 Oktober 2007 | NASIONAL |
Peringatan Pertempuran Lima HariDor! Dor!, Mengenang Heroisme
KAWASAN Tugu Muda seketika diselimuti kegelapan, sesaat setelah sirine meraung membelah udara malam. Lalu, terdengarlah tembakan pertama yang datang dari arah selokan depan Gereja Katedral Randusari. Dor! Tembakan tunggal itu seperti menjadi pemantik pertempuran heroik, yang di kemudian hari tercatat dalam buku sejarah sebagai ''Pertempuran Lima Hari di Semarang''. Semalam, pertempuran yang berlangsung 14-19 Oktober 1945 itu diperingati dengan khidmat di kawasan Tugu Muda, Semarang. Kapolda Irjen Pol Dody Sumantyawan HS SH bertindak sebagai inspektur upacara, sementara komandan upacara dilakukan oleh Danyonif 400/Raiders Letkol (Inf) Khairuddin Fakhri Siregar. Suara rentetan tembakan pun menyusul, ganti-berganti dengan dentuman ledakan dari pelbagai arah. Dari arah Lawangsewu, Gedung Pandanaran, dan persimpangan Jl Imam Bonjol. Suara riuh rendah peperangan itu untuk menghadirkan heroisme dan gegap-gempita perjuangan para pemuda Semarang melawan tentara Jepang, 62 tahun silam. Semalam, kawasan Tugu Muda bak padang Kurusetra, tempat perang Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa. Para pejuang republik dengan kain merah putih mengikat kepala mereka, berlari mengejar tentara Jepang yang terbirit-birit ketakutan. Satu dua korban jatuh, dan segera diusung dengan tandu oleh sukarelawan Palang Merah yang cekatan. Di tengah centang-perenang fragmen pertempuran itu, lagu ''Gugur Bunga'' mengalun dalam gesekan biola. Menghanyutkan. Lantas, para peserta upacara peringatan diajak merenung lewat puisi ''Renungan Pertempuran''.(Achiar M Permana-77) | ||||