| Rabu, 31 Oktober 2007 | NASIONAL |
Rencana Mantu Terpaksa DitundaSETIAP kali membicarakan nasibnya, Sudarwati (46) selalu tak habis pikir. Bayangkan, gajinya yang tak seberapa, kini harus habis untuk membayar angsuran plus bunga di sejumlah lembaga keuangan. Padahal, guru SD Cangkiran, Mijen itu tak merasa mengajukan pinjaman. "Uangnya saya tidak terima, eh..., malah disuruh mengangsur utang. Sekarang tiap bulan saya tekor, gaji saya minus," keluh Sudarwati. Perempuan setengah baya itu adalah satu dari 39 guru SD di Kecamatan Mijen, yang menjadi korban penipuan dengan total nilai mencapai Rp 1,4 miliar. Yang menyakitkan dia, penipuan itu diduga dilakukan oleh bendaharawan gaji di kantor Cabang Dinas Pendidikan kecamatan tersebut. Selain Sudarwati, para guru mengeluhkan pemotongan gaji hingga jutaan serta mendapatkan surat tagihan dari sejumlah lembaga keuangan. Nasib serupa menghinggapi Jumiran (52), guru SD Pesantren. Jumiran mengaku, namanya dipinjam oknum bendaharawan gaji itu untuk meminjam uang di BPR BKK Jambu. Dia juga mengaku punya utang di Bank Jateng Mijen Rp 50 juta. Namun yang Rp 40 juta dipinjam dulu pelaku, yang menguruskan pinjaman tersebut. Kepada Jumiran, oknum bendaharawan gaji itu berjanji untuk mengembalikan uang itu seminggu kemudian. ''Ternyata sampai sekarang blong. Padahal uang itu akan digunakan untuk mantu anak saya," katanya. Karena uangnya telanjur dipakai orang, hajatan mantu Jumiran yang sedianya akan dilaksanakan Syawal ini, terpaksa ditunda hingga Januari mendatang. "Yang saya heran, saya tidak merasa memiliki utang, tapi kok mendapat surat tagihan yang nilainya jutaan," katanya. (Achiar M Permana-18) |