logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Kisah Penjual Nasi Gandul Pati

Terima Pesanan Ribuan Porsi, Semalam Tak Tidur

NASI gandul bagi masyarakat Pati sudah tak asing lagi. Makanan dari Bumi Mina Tani itu tidak hanya bisa dinikmati di warung-warung makan di berbagai sudut kota. Tapi dalam acara-acara resmi atau pesta, nasi gandul kerap menjadi sajian utama.

Tidak mudah membuat nasi dengan kuah paduan rempah-rempah dan santan kental itu. Setidaknya butuh waktu satu jam lebih untuk meracik bumbu menjadi masakan yang sedap dalam jumlah ratusan porsi. Itu belum termasuk memasak daging sapi sebagai lauk pendampingnya.

Jika ditotal waktu memasaknya, tiap-tiap pedagang bisa menghabiskan waktu hampir lima jam sebelum membuka warungnya. Namun jika sedang mendapat pesanan, tentu memakan waktu lebih lama lagi.

Sejauh ini sejumlah pedagang mengaku, baru kali pertama mendapat pesanan sampai ribuan porsi pada Senin (29/10) . Kebetulan saat itu PT Garudafood Putra Putri Jaya Pati menggelar acara halalbihalal yang melibatkan seluruh jajaran direksi, karyawan dan mengundang secara khusus muspida plus.

Tidak kurang dari 6.500 karyawan turut dalam acara yang digelar di pabrik kacang terbesar di Pati itu.

Seperti tahun sebelumnya, sajian utama dalam halalbihalal selalu masakan khas Pati. Tahun lalu seluruh karyawan dan tamu undangan disuguhi soto ayam kemiri, sedangkan tahun ini giliran nasi gandul.

Angkat Produk Lokal

"Dalam setiap acara kami memang menyuguhkan menu khas Pati. Ini bertujuan untuk mengangkat produk khas lokal," ujar Ketua Panitia Halalbihalal Priyo Supraptono yang didampingi wakilnya Pamudji Hery Setyawan.

Pihak panitia secara khusus mempersiapkan acara tersebut. Enam pedagang nasi gandul dilibatkan untuk mempersiapkan hidangan tersebut. Untuk mengantisipasi panjangnya antrean, enam pedagang membuka 17 meja untuk melayani ribuan karyawan dan tamu.

Kebanyakan dari pedagang itu belum pernah mendapat pesanan lebih dari 1.000 porsi dalam sekali waktu. Dengan begitu mereka kerja ekstrakeras mempersiapkannya.

"Saya semalam tidak tidur untuk meracik bumbu dan memasak daging," ungkap seorang pedagang, Mutiman, yang kebagian order 1.200 porsi.

Dia mengaku, mulai memasak pada Minggu (28/10) sekitar pukul 21.00. Pertama dia merebus daging lebih kurang dua jam, setelah itu membuat kuah lebih dari tiga jam. Sisa waktunya digunakan untuk mempersiapkan peranti untuk penyajian.

Pemilik warung nasi gandul Kasmaran di Jalan Kiai Saleh Pati ini mengaku agak kewalahan mempersiapkan pesanan sebanyak itu. Dia terpaksa menyewa 700 piring untuk memenuhinya, karena yang dipunyai hanya 500 piring sesuai kebutuhan jualan sehari-hari.

Hal yang sama juga diungkapkan pedagang lainnya Laspin. Pria asal Desa Gajahmati, Kecamatan Pati ini juga tak tidur semalaman untuk mempersiapkan order dari PT Garudafood.

"Tidak seperti biasanya, saya harus melekan dan melibatkan delapan orang untuk mempersiapkan," ujar dia.

Butuh waktu lama mempersiapkan nasi yang biasa disajikan di piring dengan diberi alas daun pisang itu. Pasalnya, hampir semua jenis bumbu dapur di antaranya bawang merah, bawang putih, laos, kencur, kemiri, merica, dan pala diracik bersama santan kelapa. Untuk mencampurnya perlu diaduk cukup lama.(M Noor Efendi, Alman Eko Darmo-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA