| Rabu, 31 Oktober 2007 | NASIONAL |
Pemimpin Bangsa Jangan Coba-cobaJAKARTA- Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak sependapat jika pencalonan presiden dikait-kaitkan dengan masalah umur. Menurutnya, yang terpenting bagi seorang presiden adalah kesanggupan dan kemampuan memimpin bangsa. Berbicara di depan peserta Pertemuan Pemuda Indonesia 2007 di Istana Wapres, Selasa (30/10), Kalla mengatakan memilih seorang pemimpin bangsa tidak bisa dilakukan dengan cara coba-coba sebagaimana memilih pemimpin daerah atau organisasi pemuda seperti KNPI. ''Kalau (memilih) pemimpin negara nggak bisa coba-coba. Ini bukan soal umur, tapi kesanggupan dan kemampuan. Tapi bahwa pemuda harus punya peran, itu pasti,'' katanya. Kalla mengemukakan itu menanggapi wacana di kalangan generasi muda terkait dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dua hari lalu yang menyerukan perlunya memunculkan calon pemimpin dari generasi muda pada pemilihan presiden 2009 mendatang. Dia berpendapat, pemimpin, apalagi pemimpin negara, tidak ada kaitannya dengan umur. ''Umur itu kaitannya dengan kesehatan. Dulu pemimpin pemuda itu usianya 20 tahun. Tapi sekarang 50 tahun juga masih jadi pemimpin pemuda,'' katanya. Kalla mencontohkan, meski umurnya saat ini 65 tahun, tapi dia merasa semangatnya masih muda. Jadi sepanjang masih memiliki kemampuan dan kesanggupan, baginya umur tidak ada masalah. Kalla-pun menunjuk keberadaan Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjoguritno yang sudah berusia lanjut namun masih mampu berperan di tengah pemimpin fraksi yang rata-rata berusia muda. Kalangan Pengusaha Entah serius atau sekadar bercanda, Kalla yang berlatar belakang pengusaha justru berpendapat pengalaman sebagai pemimpin dunia usaha justru lebih diperlukan dibanding sekadar muda usia. Buktinya, saat ini banyak pemimpin yang sebelumnya berangkat dari pengusaha. ''Banyak pemimpin yang dulunya pengusaha. Ada 16 menteri itu pengusaha. Jadi kalau mau jadi pemimpin, jadi pengusaha dulu,'' ujarnya. JK justru prihatin dengan anak muda Indonesia yang cenderung pasif, lebih suka berpangku tangan dan hanya pandai mengritik pemerintah tanpa memberikan solusi atau membantu mengatasi persoalan bangsa. Dalam pertemuannya dengan Wapres, peserta Pertemuan Pemuda Indonesia 2007 menilai kepemimpinan bangsa saat ini belum bisa menyejahterakan bangsa karena bobroknya elite baik di tingkat esksekutif maupun legislatif. Menurut mereka jika tidak segera diperbaiki pemerintahan SBY-Kalla di ambang kegagalan. Para pemuda selanjutnya meminta pemerintah mengelola utang dengan sebaik-baiknya, menghentikan penjualan aset-aset negara, menuntaskan kasus BLBI secara adil, dan meminta pemerintah membangun kepercayaan diri kembali. (A20-48) |