logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Setahun Bersama CAPD


SM/Dini Tri W Nanik

SEKILAS penampilan Nanik (45), warga RT 2 RW 10 Jagalan, Jebres, Solo itu tampak sama dengan perempuan lainnya. Namun siapa yang menyangka selama setahun terakhir di dalam rongga perutnya terpasang kateter yang siap dibuka-tutup untuk membantu ginjalnya yang sudah tak berfungsi.

Awalnya, dia sempat menjalani perawatan HD dua minggu sekali selama sebulan. Tapi karena kesakitan setiap cuci darah, dokter menawarkan alternatif perawatan. "Saya merasa kesakitan bahkan sampai beberapa kali sampai menjerit-jerit nggak kuat. Lalu saya ditawari dokter untuk operasi saja," ujar ibu dari tiga orang anak itu.

Dia baru benar-benar paham setelah mendapat penjelasan rinci dan training usai operasi.

Seperti masyarakat awam, Nanik tak begitu paham soal CAPD. Asalkan bisa mengurangi sakitnya operasi tersebut dia tempuh. Usai operasi dia tak langsung bisa memakai CAPD karena jahitan belum kering. Selama itu dia tetap harus menjalani HD, sambil terus dilatih untuk melakukan cuci darah mandiri.

"Rasanya lebih enteng pakai ini, karena saya nggak perlu bolak-balik ke rumah sakit. Apalagi kalau terlalu sering HD bisa berdampak ke jantung juga," katanya.

CAPD ini membuat perutnya jadi lebih besar karena berisi cairan dua liter. Pengaturan air minum pun dijaga ketat karena dapat menyebabkan bengkak.

Meski banyak kemudahan, peserta Askes itu sempat mengeluhkan soal distribusi cairan dialisa yang sempat terlambat diantar. "Kalau stok habis bisa langsung lemes, seperti balon. Dulu pernah kehabisan, saya beli sendiri sekitar Rp 3 juta. Nggak apa-apa itu masih lebih murah ketimbang HD," katanya.

Hingga sekarang dia bersyukur masih diberi kesempatan hidup lebih lama meski dengan alat bantu. (Dini Tri W-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA