logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 NASIONAL
Line

Kesehatan

Merawat Ginjal Mandiri

Cukup 30 Menit untuk Ganti Cairan


SM/ Dini Tri W CUCI DARAH MANDIRI: Kepala Ruang Hemodialisis RSUD Dr Moewardi, Solo Eko Haryati memperlihatkan cara kerja Continuous Ambulatory Peritoneal Dyalisis (CAPD) atau cuci darah mandiri berkesinambungan dengan boneka peraga. (57)

Sistem cuci darah yang lebih baik dan relatif murah, kini tengah diperkenalkan RS Dr Moewardi Solo. Berikut laporan wartawan Suara Merdeka Dini Tri W mengenai sistem yang dapat menggantikan Hemodialisasi itu.

APA jadinya bila salah satu organ tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, seperti yang terjadi pada penderita gagal ginjal. Pasien dikatakan gagal ginjal ketika melalui serangkaian pemeriksaan, diketahui bahwa fungsi ginjal hanya tersisa kurang dari 15 persen.

Di RSUD Dr Moewardi Solo, kematian yang disebabkan karena gagal ginjal menduduki peringkat II, setelah endokrin (diabetes/gula). Dokter Wurjanto SpPd KGH, Kepala Bagian Penyakit Dalam RSUD Dr Moewardi Solo, menjelaskan, selama ini penanganan penyakit gagal ginjal dilakukan dengan tiga cara, yaitu hemodialisis (HD) atau cuci darah, transplantasi atau cangkok ginjal, dan Continuous Ambulatory Peritoneal Dyalisis (CAPD).

"Selama ini masyarakat lebih banyak menggunakan HD, padahal pada sebagian pasien itu menyakitkan. Setiap cuci darah dengan sistem itu memakan waktu 4-5 jam. Sementara untuk cangkok ginjal persyaratannya cukup sulit karena harus dari keluarga kandung dan baru bisa dilakukan di beberapa kota besar," jelasnya.

Konsultan ginjal hipertensi itu menjelaskan CAPD atau cuci darah mandiri berkesinambungan adalah cuci darah yang dilakukan melalui rongga peritoneum (rongga perut), dimana yang berfungsi sebagai filter adalah selaput rongga perut.

"Pemasangan kateter di dalam perut pun sebenarnya hanya berupa operasi kecil selama 30 menit, dengan pembiusan punggung. Setelah jahitan mengering pasien bisa menggunakan CAPD, " jelasnya.

Pada waktu 30 menit itu, kata dia, cairan yang mengandung racun dikeluarkan lewat kateter dalam waktu 20 menit. Selanjutnya dimasukkan cairan dialisa sebanyak dua liter ke dalam rongga perut selama 10 menit. Cairan dibiarkan tinggal di dalam perut 4-6 jam, dan pasien masih bisa beraktivitas seperti biasa.

Cara yang sudah diperkenalkan sejak 1,5 tahun terakhir itu diyakini bisa memperpanjang harapan hidup mengingat cuci darah lebih sering dilakukan. "Belum ada penelitian soal itu, tetapi secara medis proses ini jauh lebih sehat karena racun dibersihkan sehari tiga kali, sehingga kondisi tubuh lebih stabil," tuturnya.

Namun, kata dia, ada prasyarat yang harus dipenuhi pasien sebelum memakai CAPD. Yaitu, pasien tidak buta warna dan tak mengalami gangguan jiwa, masih bisa merawat diri, rumah sudah berubin dan dinding tembok, serta punya kamar yang higienis ketika mengganti cairan.

"Kebersihan ini penting karena pasien CAPD mudah terkena infeksi, dan bisa berakibat kematian," tambahnya.

Dari sisi biaya, CAPD lebih ringan dibading HD. Kepala Ruang Kepala Ruang Hemodialisis RSUD Dr Moewardi Solo, Eko Haryati mengatakan, sekali cuci darah pasien harus merogoh kocek antara Rp 324.000 - Rp 550.000. "Paling sampai Rp 4 juta per bulan harus disiapkan untuk HD, sedangkan dengan CAPD sebulan sekitar Rp 3 juta," katanya.

Di RS tersebut, sedikitnya sudah ada 63 pasien CAPD dari Solo, Pacitan, Ngawi, Pati, dan sekitarnya. Meski bisa mempermudah pasien, cara itu belum banyak dilirik pasien. (62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA