| Rabu, 31 Oktober 2007 | MURIA |
Degradasi Muria Diikuti Kerusakan Pesisir
JEPARA - Kawasan Muria terus mengalami degradasi menyusul kerusakan pada hutan rakyat dan negara. Perambahan hutan tak terkendali sejak 1980-an hingga 2001 berdampak pada kerusakan sekitar 50% dari areal keseluruhan. Kerusakan itu meliputi Jepara, Pati, dan Kudus. Kerusakan di dataran tinggi itu juga diikuti kerusakan hebat pada kawasan pesisir terutama di Jepara. Lebih dari 90% dari total panjang pantai 72 km rusak. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada kemiskinan masyarakat sekitar. Penanganan menyeluruh dan fokus mendesak dilakukan. Demikian dikemukakan Ahmad Mahalli, koordinator Lembaga Studi Aksi dan Refleksi (LSKaR) Jepara, dalam konferensi persnya di Jepara, Selasa (30/10). "Problem lingkungan, kemiskinan, tata kota, kesehatan, dan pertanian akan terus melilit jika penataan kawasan Muria dan pesisir tidak dilakukan bersama-sama," tandas dia. LSKaR melakukan riset di kawasan Muria dan pesisir dalam beberapa tahun terakhir. Lembaga ini akan menggelar kegiatan workshop tentang problematika kawasan Muria dan pesisir di Jepara dengan melibatkan masyarakat sekitar, akademisi, pemerintah, serta perwakilan masyarakat dari Kudus, Pati, dan Jepara. Hutan Produksi Mahalli menyebutkan, saat ini kawasan hutan produksi yang semula 70% dari total luas kawasan Muria, kini hanya tinggal kurang dari 25% atau 9.500 hektare. Proses degradasi saat ini terus berlangsung di tengah kurangnya perhatian pemerintah. Dia mengutip data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Jepara dan Perhutani Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan Muria Pati Ayam mengenai luas hutan keseluruhan baik hutan rakyat maupun negara yang rusak. Di Jepara, dari 20.095 hektare, yang rusak 13.258 hektare. Di Kudus, dari luasan 2.377 hektare, yang rusak 1.249 hektare. Di Pati, dari 47.338 hektare, yang terindikasi rusak 23.807 hektare. Banjir dan tanah longsor, kekeringan, sumber mata air yang terus berkurang adalah sekian dampak yang terus ada sepanjang tahun. Tentang wilayah pesisir, kerusakan terjadi di semua desa yang dilaluinya. Di Jepara kawasan pesisir itu ada di delapan kecamatan dan membentang di 33 desa. Abrasi di pantai menyebabkan pengembangan bidang perikanan darat, laut, industri garam, dan pariwisata terkendala. Kemiskinan terus mengancam ribuan penduduk dari total 164.281 orang yang tinggal di pesisir. Kerusakan pantai menimbulkan kerusakan pada lahan pertambakan, pertanian, tanaman bakau, terumbu karang, dan mengancam populasi ikan. "Masalah lain yang muncul adalah permukiman kumuh, kualitas kesehatan rendah, dan masalah ekonomi," ungkap dia. Abrasi pantai terparah, ucapnya, terjadi di Pantai Semat-Kedung dengan tingkat abrasi rata-rata empat meter/tahun. "Kami berharap, ada strategi yang tertata dan fokus untuk menangani masalah ini," tandas dia. (H15-69) |