logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 MURIA
Line

Hujan Belum Merata

Petani Operasikan Pompa Air 24 Jam

PATI - Mengingat turunnya hujan belum merata, para petani di Kecamatan Gabus, Pati, terpaksa harus mengoperasikan pompa air secara maksimal. Hal tersebut untuk mendapatkan air, agar areal pertanian yang masih tadah hujan bisa terairi secara merata.

Dengan demikian, kata beberapa petani di Desa Tanjang dan Kosekan, sepanjang siang dan malam banyak pompa yang terpasang di pinggir alur Kali Juwana, tak pernah berhenti. Apalagi saat ini, para petani yang memanfaatkan jasa pompa air itu harus mulai mengolah lahan.

Selama kemarau banyak areal persawahan yang dibiarkan tidak tergarap, karena khawatir jika ditanami palawija terancam kekeringan. Sedangkan saat kemarau, tanaman yang cocok hanyalah kacang hijau, tapi serangan hama ulat merajalela.

Karena itu, kata Yanto, salah seorang petani di Desa Tanjang, tidak ada pilihan lain kecuali membiarkan areal sawah miliknya tidak tergarap. Dengan demikian, yang tumbuh hanyalah rumput atau tumbuhan perdu lainnya.

Saat hujan turun hingga lahan sawah kembali basah, pembajakan baru dilakukan. ''Di sela-sela kesempatan itu, para petani membuat tempat persemaian bibit padi. Bibit tersebut harus ditunggu sampai cukup umur, maksimal 21 hari,'' ujarnya.

Siap Tanam

Bila bibit padi tersebut benar-benar siap tanam, lanjut dia, lahan yang sebelumnya sudah dibajak kembali diolah untuk ditanami. Dengan demikian, air untuk mengairi lahan sawah harus tersedia cukup.

Karena hujan belum maksimal, maka pengoperasian pompa harus rutin. Air yang diangkat dari Kali Juwana, semua dialirkan ke tempat-tempat saluran tersier dan siap dialirkan ke lahan setelah penanaman padi siap dilakukan.

Hanya dengan cara itu, penanaman padi bisa secara serentak dilakukan para petani, karena tidak harus menunggu datangnya hujan. Panenannya pun diharapkan bisa serentak. Langkah seperti itu juga sebagai upaya mencegah terjadinya serangan hama.

Alasannya, waktu tanam padi beberapa petani sering tidak sama. Hal itu menjadi penyebab terjadinya kerawanan serangan hama. Apalagi jika serangan hama yang muncul adalah tikus, seperti di Kecamatan Sukolilo.

Upaya lain dalam mempersiapkan tanam padi Oktober-Maret, bagi petani yang lahannya tidak bisa terjangkau aliran air yang dipompa, maka sistem tanam ''sawur tinggal'' harus dilakukan.

''Dengan pola penanam seperti gogo rancah itu, jika hujan sudah normal, pemindahan tanaman bisa dilakukan.'' (ad-54)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA