| Rabu, 31 Oktober 2007 | SEMARANG |
Perajin Krupuk Rambak, dari 3 Kg Menjadi 70 Kg Per HariBERMULA dari pengalaman yang didapatkan secara turun temurun dari keluarga, Siti Aliyah (46) warga RT 2 RW 1 Pulutan Kecamatan Sidorejo Kota Salatiga mulai mengembangkan usaha membuat krupuk rambak. Dalam usahanya tersebut, dia tidak berjalan sendiri. Dia dibantu Suharto (45), suaminya dalam memulai usahanya dari nol. Menurut penuturan Siti, mulanya dia hanya membuat krupuk dalam jumlah yang sedikit. ''Pertama kali, saya hanya membuat krupuk sebanyak tiga kilogram per hari. Itu pun saya pasarkan sendiri,'' ungkap Siti yang memulai usahanya sejak 16 tahun yang lalu. Berkat ketekunan dan keuletannya, lambat laun usahanya mulai berkembang. Dari membuat tiga kilogram per hari, sedikit demi sedikit mulai naik hingga mencapai 70 kg per hari. Mulai dari memasarkan sendiri, kini banyak dari langganan yang datang ke rumah untuk membeli krupuk buatannya. ''Untuk memenuhi permintaan pelanggan yang meningkat cukup banyak, saya memperkerjakan tiga orang karyawan dalam pembuatan krupuk,'' terang Siti. Digarang Dijelaskannya, krupuk tersebut dia buat dari bahan tepung terigu dan tapioka yang diaduk bersama dengan bumbu. Adonan tersebut kemudian direbus dengan menggunakan kayu bakar selama dua jam. Setelah masak, adonan yang sudah jadi itu, kemudian di bungkus dalam sebuah plastik. ''Pembuatan tersebut saya mulai dari pukul 13.00 hingga pukul 21.00. Baru keesokan harinya, adonan tersebut dirajang tipis-tipis dan dijemur sampai kering,'' jelasnya. Diakuinya, kendala utama dalam pembuatan krupuk tersebut bila terjadi turun hujan. Sebab, jika hujan dirinya terpaksa mengeringkan krupuk dengan cara digarang (di oven dengan cara tradisional). Hal itu yang membuat proses pembuatan menjadi lebih lama. Lebih lanjut dikatakannya, dalam sehari dia mengeluarkan uang sekitar Rp 450 ribu untuk membeli bahan-bahannya. ''Setelah jadi, krupuk tersebut saya jual Rp 27 ribu per 4 kilonya. Langganan yang biasa membeli berasal dari Babadan, Ungaran, Jimbaran, Karangjati, dan Kaligawe,'' ungkapnya. Dari penjualan krupuk tersebut, hasilnya dia pergunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup dan menyekolahkan anaknya. (Leonardo Agung B-16) |