logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Kisah Pemburu Ijuk dari Limbangan

SUARA parang beradu pokok daun pohon aren bertalu-talu menyeruak di keheningan Wanawisata Hutan Penggaron, Ungaran, suatu siang. ''Tak tok tak tok'', menggema sampai di kejauhan.

Suara-suara itu berasal dari aktivitas Sumardi (45) dan Ngadimin (35) mencari ijuk. Untuk dapat mengambil serat alam berwarna hitam di pohon aren itu dengan mudah, mereka terlebih dahulu memangkas pangkal daun bagian bawah. Lalu dengan ujung parang, ijuk dilepaskan dari batang.

Menjelang tengah hari, ijuk yang mereka kumpulkan telah menggunung. Kedua lelaki asal Limbangan, Boja itu pun menyudahi aktivitas. Ijuk diikat dan mereka pun beristirahat. Sumardi dan Ngadimin adalah pemburu ijuk. ''Pemburu'', karena mereka mencari bahan baku sapu dan tambang itu ke pelbagai daerah. Selain di desa asal, keduanya juga berkeliling ke luar daerah: Ungaran, Batang, Pekalongan, Wonosobo, Banjarnegara, serta Magelang.

''Karena pohon aren di daerah saya terbatas, kami harus mencarinya sampai ke luar daerah. Pokoknya, di mana ada pohon aren, kami datangi,'' kata Sumardi.

Ijuk tumbuh berlapis-lapis di bagian atas batang pohon aren. Selapis ijuk, jelas dia, tumbuh dalam kurun empat bulan. Idealnya, panen ijuk dilakukan sekali dalam setahun, yakni pada saat lapisannya berjumlah tiga. Wanawisata Penggaron baru kali pertama mereka sambangi. Sumardi dan Ngadimin mengetahui adanya pohon-pohon aren di kawasan itu dari informasi seorang teman.

Memang, dibanding dari Limbangan, kualitas ijuk Penggaron relatif lebih rendah. Bulatan seratnya lebih tipis dan warnanya cenderung kusam. Namun karena stok di daerah lain masih kosong, ijuk tersebut tetap diambil. ''Menurut saya ijuk dengan kualitas terbaik ada di daerah Boja. Daerah lain masih berada di bawahnya.''

Bayar Uang Rokok

Untuk bisa memanen ijuk di Penggaron, Sumardi dan Ngadimin cuma membayar uang rokok kepada petugas mantri hutan setempat.

Untung banyakkah mereka berdua? Tidak juga. Kata Sumardi, dia masih mengeluarkan biaya produksi yang lain, yakni membayar kendaraan untuk mengangkut ijuk ke Boja. ''Kalau dihitung-hitung untungnya pas-pasan,'' ungkapnya.

Ijuk hasil perburuan selanjutnya mereka jual ke pengepul di daerah Boyolali. Namun sebelumnya diolah dan dibersihkan terlebih dahulu menggunakan seritan. Sebagian ijuk dibuat sendiri menjadi sapu. Harga ijuk mentah kualitas pertama saat ini mencapai Rp 1.500/kg, sedangkan kualitas di bawahnya Rp 1.200/kg. Ada pun kalau sudah menjadi sapu dijual seharga antara Rp 3.500 sampai Rp 6.000. ''Boyolali adalah pusatnya jual beli ijuk. Di sana, ijuk diproduksi menjadi sapu atau tambang. Ijuk yang besar untuk sapu, yang kecil dibuat tambang. Ijuk yang berkualitas bagus bahkan diekspor ke luar negeri,'' ujar Sumardi.

Sudah 20 tahun Sumardi menggeluti dunia ijuk. Tak terhitung berapa ton ijuk yang telah ia panen dalam kurun waktu itu. Ya, lelaki berkumis itu memang tak pernah menghitung, seperti halnya rupiah yang dia dapatkan untuk menghidupi keluarganya. (Rukardi- 41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA