logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Mengundi Nasib Menjadi PNS

  • Oleh Fani Ayudea

SIANG itu, Selasa (30/10), matahari bersinar teduh. Di halaman kantor Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng Jl Dr Suratmo No 171 Semarang, ratusan laki-laki dan perempuan berjubel sembari membawa map bertuliskan "Berkas Pelamar CPNS Dephut Formasi Tahun 2007". Mereka bercampur baur dalam antrian panjang di depan dua buah meja.

Dua petugas dari Departemen Kehutanan sibuk memeriksa kelengkapan formulir serta persyaratan. Setelah itu, sebuah nomor antrean diberikan kepada pelamar. Sementara seruan seorang petugas polisi hutan yang terus mengingatkan agar para pelamar berbaris rapi terdengar begitu keras. "Ayo, baris yang rapi. Dua baris. Kalau tidak dua baris tidak akan dilayani," teriaknya.

Retno (26), pelamar asal Tegal cepat-cepat berlari ke arah belakang mengikuti deret barisan yang sudah tertata. "Nggak apa-apa kalau arus ngantre begini. Yang penting dapat nomor," ujarnya seraya mengusap peluh di dahinya.

Karena datang terlambat, ia terpaksa mengikuti antrean periode kedua. "Saya baru datang jam sepuluh. Kalau tidak terlambat harusnya saya tinggal menunggu dipanggil untuk pengecekan administrasi," kata perempuan berbaju merah ini.

Tak jauh dari tempat Retno berdiri, seorang pelamar asal Klaten bernama Rio (28) tengah menggerutu kepada seorang temannya. "Padahal, saya sudah datang dari pukul 05.30. Tapi baru dilayani sekarang. Selesai jam berapa nih?" katanya seraya mengipasi tubuhnya karena gerah.

Ya, tak hanya Retno dan Rio saja yang harus rela antre berjam-untuk mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Departemen Kehutanan. Ratusan orang lainnya juga mengalami nasib sama. Mereka semua sedang mengundi nasib menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pekerjaan yang masih dianggap paling bergengsi dan menempati posisi kelas satu di Indonesia.

Menurut Sokhib, salah seorang panitia, para pelamar di BKSDA Jateng harus bersaing dengan ribuan pelamar lainnya dari seluruh Indonesia.

"Pendaftaran yang dibuka mulai 30 Oktober sampai 1 November itu, berlangsung di tiap provinsi di seluruh Indonesia. Proses penilaiannya pun akan diambil yang terbaik dari seluruh Indonesia," ujar dia.

Ia menambahkan, pada Selasa saja, pihaknya telah mengeluarkan 1.000 formulir. Padahal, satu hari ditargetkan hanya 500 formulir. Namun ternyata peminat membludak dua kali lipat.

Dari ribuan pelamar, hanya 555 orang saja yang nantinya diterima menjadi pegawai di Departemen Kehutanan.

Sungguh ironis. Padahal 70% lapangan pekerjaan di luar pemerintahan, jauh lebih menggiurkan dengan gaji yang jauh lebih tinggi. Mungkin karena PNS bisa makan gaji buta. Karena kerja tak begitu banyak, cukup mengisi absen, lantas duduk dan baca koran atau main game di komputer. Setelah itu pulang.

Terlebih lagi, dengan sistem lima hari kerja. Kendati jam kerja menjadi panjang dari sebelumnya, tetap saja kerja yang diharapkan tidak maksimal.

Karena memang tidak ada pelayanan yang akan diberikan. Kalaupun ada sesuatu yang bisa dikerjakan, bisa didelegasikan ke rekan yang lain dengan dalih macam-macam. Begitulah rata-rata kondisi PNS di Indonesia. (56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA