| Rabu, 31 Oktober 2007 | SEMARANG |
Biaya Distribusi Ditekan agar Harga Obat MurahSEMARANG - Kebutuhan masyarakat terhadap obat yang bermutu seringkali tidak bisa didapatkan, dan terkadang hanya bisa dijangkau kalangan tertentu. Obat yang ''murah meriah'' pun seringkali tak mampu menuntaskan sakit yang terasa. Produk farmasi ini memang tergolong barang mewah, walaupun yang ''mahal'' ini sebenarnya dapat dikurangi dengan menekan biaya produksi dan distribusi. ''Harga obat yang terlalu murah juga tidak bagus, selain margin keuntungan yang diperoleh minim perlu dipikirkan juga kualitasnya,'' jelas Dirut PT Kimia Farma Tbk M Samsul Arifin usai peresmian kantor baru PT Kimia Farma Trading & Distribution Cabang Semarang di Jl Gedongsongo Timur, Senin (29/10). Syamsul mengatakan, dengan pembangunan gudang dan kantor distribusi, perusahaan farmasi itu diharapkan mampu menekan biaya distribusi yang saat ini mencapai 15 persen menjadi di bawah 10 persen. Biaya distribusi obat murah, menurut dia, masih cukup tinggi karena volumenya besar. ''Harga obatnya memang murah, namun banyak permintaan yang harus dipenuhi. Mahalnya harga satu sisi bisa disebabkan bahan baku yang memang harus impor, biaya promosi, marketing, distribusi, pajak, dan lain-lainnya,'' tuturnya. Kadinas Kesehatan Provinsi Jateng dokter Hartanto mengatakan, dengan distribusi yang lancar diharapkan dapat menjamin ketersediaan farmasi ke kabupaten/kota di Jateng. Namun demikian, dia mengingatkan agar konsumen tetap dilindungi untuk mendapatkan obat-obatan yang bermutu. Obat Seribu Sementara itu, Komisi E DPRD Jateng pekan lalu mengumumkan obat murah seharga Rp 1.000 per strip telah hilang dari pasaran. Menurut wakil rakyat hilangnya obat produksi PT Indofarma itu akibat diborong oleh produsen obat lain. Kondisi itu dikhawatirkan dapat merugikan masyarakat. Menanggapi temuan itu, Manajer Indofarma Global Medika Budi Santoso mengatakan bila obat murah itu memang diborong produsen lain, justru sangat menguntungkan pihaknya. Namun demikian, dia menegaskan akan terus mengisi pasar, dari apotek hingga warung dan rombong. Bila di apotek belum ditemui obat murah, hal itu bisa karena tidak setiap apotek menyediakannya. (J14-62) |