logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 31 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Mendung yang Mencemaskan

LORONG gang itu terasa kian menyempit. Lebarnya yang tidak lebih dari satu meter itu, mengharuskan pengguna jalan untuk lebih pelan melangkahkan kaki. Itu bila Anda memang ingin celana atau rok panjang tidak basah kuyup. Air menggenang hingga 30-40 cm di sepanjang lorong gang Perbalan Purwosari RT 5 RW 5 Semarang Utara. Setiap kali musim hujan, banjir benar-benar mengakrabi kehidupan sehari-hari mereka, yang tentu dengan perasaan cemas.

''Seharian nampak mendung. Kami khawatir banjir tambah tinggi lagi, padahal banjir akibat hujan semalam belum surut,'' papar Aris Musliman (58).

Gang dengan rumah-rumah petak mini menjadi lebih sumpek dengan air banjir yang masuk ke dalam rumah.

Lihatlah rumah Aris. Begitu melewati pintu masuk terlihat dua bangku kayu panjang, dipan, lemari kecil, dan meja makan. Semua perabot itu terendam banjir, termasuk dua unit sepeda motor yang dimilikinya. Begitu pula dengan becak yang turut dibiarkan mangkrak.

Bahkan Rondiyah (53), istri Aris harus menyelamatkan perkakas dapur, seperti kompor dan peralatan makan, dengan menaruhnya di atas salah satu bangku. Ia pun melakukan aktivitas menyiapkan sarapan dengan kondisi banjir. Meski telah mengenakan sepatu boot, tetap saja ia tidak merasa nyaman.

''Mau bagaimana lagi? Banjir masuk ke rumah tanpa bisa dicegah,'' katanya sedih sambil menggendong cucunya, Bima (1 tahun 7 bulan).

Pascalebaran, banjir telah menggenangi rumahnya dua kali. Hingga siang kemarin, ia belum bisa membersihkan rumah. Lantaran air saluran masih tinggi. Ya, saluran sudah tidak lagi bisa menampung limpahan air hujan, kemudian meluap dan menerjang ke mana-mana. Tempat rendahlah yang menjadi korbannya.

Aris menuturkan, air mengalir deras di jalanan saat hujan turun Senin malam lalu pukul 20:00. Dalam waktu 30 menit, banjir pun tidak terhindarkan. Mulut gang sempit itu terletak di samping rumahnya. Sekitar 45 kepala keluarga menempati RT tersebut dan 80% nya tergenang banjir. Rumah berdiri ala kadarnya dengan atap yang rendah akibat beberapa kali lantai ditinggikan. Bagi rumah berlantai 2, tempat itu serasa menjadi ''pelindung aman'' dibanding lantai bawah.

Seperti hari-hari biasa, aktivitas tetap berjalan normal, namun dengan segala keterbatasan. Anak-anak berangkat ke sekolah dan sebagian warga menuju tempat kerja. Sementara yang lain, hanya duduk-duduk di depan rumah.

''Kami sudah mengajukan proposal bantuan melalui kelurahan untuk pembangunan kampung, tapi belum tahu hasilnya. Sebenarnya kami sendiri bingung, bila jalan ditinggikan maka rumah kami akan kalah dengan jalan. Bisa-bisa tenggelam oleh banjir,'' kata Indro Kristanto, Ketua RT 5 RW 5 Purwosari.

Menurutnya, peninggian jalan bukanlah solusi tepat mengatasi banjir. Hal itu hanya memindahkan air banjir ke tempat yang lebih rendah. Ia berharap Pemkot bisa memerhatikan warga korban banjir dengan menemukan solusi mengatasinya.

''Bila harus meninggikan rumah maka kami angkat tangan. Semua warga di sini umumnya bekerja sebagai buruh dan wiraswasta kecil-kecilan.'' (Moh Anhar, Adi Prianggoro-56)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA