| Rabu, 31 Oktober 2007 | KEDU & DIY |
Berantas Tikus, Petani Usulkan Dana StimulanBANTUL - Banyaknya hama tikus yang menyerang lahan pertanian, membuat petani Bantul kalang-kabut. Meski tindakan gropoyokan tikus dilakukan, namun kenyataannya belum mampu membantu petani untuk memberantas hama tersebut. Bahkan hewan pengerat ini telah menyerang lahan persawahaan seluas 250 hektare. Apabila hal ini tidak segera diatasi bisa jadi petani mengalami gagal panen. Karena itu, petani meminta pemkab kembali memberikan dana stimulan untuk membantas tikus. Dengan stimulan itu diharapkan mampu memicu petani untuk melakukan gropyokan tikus. Sumarjan, ketua Unit Pengelola Penyuluhan Desa (UPPD) Desa Argorejo, Kecamatan Sedayu mengungkapkan, pemkab pernah memberikan stimulan ini bagi kelompok-kelompok tani di Sedayu. Namun pada tahun 2000 dihentikan. "Sayangnya, banyak penyimpangan di lapangan. Tidak sedikit kelompok tani yang mengaku menangkap tikus padahal kenyataan di lapangan tidak,'' ujarnya menjawab pertanyaan wartawan, Selasa (30/10). Menurutnya, penyimpangan itu dilakukan hanya karena semata-mata ingin mendapatkan uang stimulan. Namun, lanjutnya, apabila stimulan ini dilakukan sesuai prosedur kemungkinan tidak terjadi penyimpangan dana. Dijelaskannya, saat ini pemkab memberi Rp 500 untuk seekor tikus yang berhasil ditangkap petani. Untuk itu, dia berharap pemkab bisa kembali memberikan stimulan tersebut. Menurut dia, harga Rp 500 untuk seekor tikus sudah bagus. Uang stimulan ini bisa digunakan untuk membeli snack dan minuman saat gropyokan tikus. Jika ada sisa masih bisa digunakan untuk kepentingan kelompok tani yang lain. Sudah Memikirkan "Hanya pemerintah perlu membuat aturan yang jelas dan lebih tegas. Semua itu untuk menghindari kecurangan di lapangan," terangnya. Sementara itu, Edy Suhariyanta, kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul mengaku, pihaknya sudah memikirkan tentang stimulan tersebut. "Tahun depan rencananya kita akan mengusulkan kembali sistem stimulan ini. Semoga usulan ini disetujui agar bisa segera direalisasikan di lapangan," tuturnya. Kecamatan Sedayu merupakan wilayah yang paling parah terkena serangan tikus. Berdasarkan data di lapangan ada tiga dusun yang mengalami gagal panen akibat serangan hewan pengerat ini, masing-masing Dusun Gubug dan Klangon serta Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo. Di lahan seluas 250-an hektare ini, tambah dia, selama dua tahun terakhir mengalami gagal panen hingga 50%. "Untuk sekali masa panen kerugian bisa mencapai 900 ton gabah kering atau senilai dengan Rp 1,8 miliar," jelas Edy. Yang menjadi kendala selama ini, ungkap dia, binatang ini bersarang di bawah rel KA yang melintas di persawahan tersebut. Karena itu, saat dilakukan gropoyokan tikus langsung lari dan bersembunyi di bawah rel. (sgt-70) |