| Rabu, 31 Oktober 2007 | BUDAYA |
Seni Rupa Lintas Wilayah DipamerkanGALERI Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Surakarta sejak 23 Oktober lalu disesaki karya seni rupa. Karya-karya itu terpajang sampai 28 Oktober besok. Pameran itu menyodorkan keragaman tema dari para perupa yang sebagian besar almunus sekolah seni rupa. Ya, itulah kondisi pameran "Ekspresi Seni Joglosemar 2007" yang diselenggarakan Ikatan Keluarga Alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (Ikassri) Surakarta. Para perupa yang terlibat dari lintas wilayah, terutama Yogyakarta, Solo, dan Semarang (Joglosemar). ''Meski sebagian besar alumnus sekolah seni rupa, bukan berarti semua perupa profesional. Sebab, sebagian sekarang berprofesi sebagai guru atau karyawan,'' ujar ketua II pameran Mahyar Suryaman. Maka, pengertian lintas wilayah itu dikatakan tak sekadar berkenaan dengan daerah asal mereka. Namun juga erat berkait dengan keragaman latar belakang profesi. Meski sebagian besar dari 123 peserta adalah perupa profesional. ''Selain alumnus Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI), ada pula alumnus Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) dan SMK 3 Yogyakarta. Ini kegiatan tahunan yang seperti jadi ajang reuni,'' katanya. Guyub Pameran itu menampilkan karya seni rupa berbagai jenis, antara lain 237 lukisan. Karya kriya 16 buah dan patung 10 buah. ''Respons alumnus sekolah seni rupa cukup besar. Padahal, semula kami cuma menargetkan 100 peserta,'' katanya. Begitu banyak karya dihadirkan. Begitu banyak pula aliran dan tema muncul. Untuk mempermudah apresiasi, panitia membagi ruang pamer menjadi "wilayah" naturalis, surealis naif, abstrak, dan posmodern. Menarik bahwa keragaman tema itu banyak mengungkap kehidupan di wilayah Joglosemar. Itulah tempat bagi para perupa menghabiskan waktu. Dan, di sana terselip pula kritik sosial yang berujung pada harapan akan kearifan lokal. Keterselenggaraan pameran itu menunjukkan pula keguyuban para perupa. Mahyar Suryaman menyatakan terbantu oleh ikatan batin para alumnus sehingga mereka ikut berpa-meran. Dia menuturkan tak tertutup kemungkinan membentuk organisasi baru, meski baru wacana. "Itu tergantung keinginan peserta. Apakah tetap dengan Ikassri atau membentuk organisasi baru." Sebab, kata dia, sekarang ada pula bukan alumnus bergabung dalam Ikassri. Apalagi alumnus sekolah seni rupa tak cuma bekerja sebagai perupa. Misalnya, Butet Kertaradjasa (teater), Gogon (komedian), dan Picuk Siwi (penyanyi). (Wisnu Kisawa-53) |