logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 30 Oktober 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Bhinneka Tunggal Ika

Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya untuk bangsa, tetapi dapat pula diaplikasikan ke dalam kerukunan antarumat Islam. Pasalnya, tahun ini umat secara umum merayakan Idul Fitri pada hari dan tanggal yang berbeda. Muhammadiyah, berdasarkan hisab dari pakarnya menetapkan 1 Syawal 1428 H. jatuh pada Jumat 12 Oktober 2007.

Sedangkan, pemerintah dengan metode imkan al-ru'yah (menggabungkan perhitungan falak dengan melihat kondisi nyata hilal/bulan menetapkan Idul Fitri tahun ini jatuh pada Sabtu 13 Oktober 2007 dan ternyata hilal/bulan tidak dapat di-ru'yah /dilihat. Walau berbeda hari, namun yang patut diacungi jempol adalah terciptanya kerukunan antarumat.

Umat Nabi Muhammad SAW. memang warna-warni. Perbedaan adalah keniscayaan bagi mereka. Perbedaan ini merupakan rahmat dan bukan dipertentangkan. Beliau memang sengaja menciptakan ruang perbedaan kepada umatnya selama hal itu di luar yang bukan inti agama.

PP Muhammadiyah, Prof Dr Din Syamsudin dan ketua Tanfidziyyah PBNU, KH Drs Hasyim Muzadi telah berhasil meneruskan prinsip toleransi kepada warganya. Sikap saling menghargai pendapat masing-masing dan tidak menganggap paling benar dalam konteks keindonesiaan patut terus dipertahankan dan ditingkatkan.

Kalau sebatas memegang keyakinan ajaran, hal itu tidak menjadi persoalan. Namun bila kefanatikan itu menyebabkan tindakan menyalahkan pihak lain yang tidak sejalan, bahkan mengafirkan pihak lain maka menurut saya tidak cocok diterapkan di negeri ini.

Meminjam istilahnya Prof. Dr Amin Abdullah MA, Rektor UGM, truth claim (mengklaim ajaran kelompoknya yang paling benar) harus menjadi common enemy (musuh bersama) bagi rakyat, apapun golongan, suku atau agamanya.

Kemudian dalam perspektif NU terkenal dengan ajaran tawasuth (tengah-tengah), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), i'tidal (tegak lurus), serta al-amru bi al-ma'ruf wa al-nahy 'an al-munkar (memerintahkan kebaikan dan mencegah kekeliruan).

Dalam aplikasinya, sedikit benturan memang terjadi di kalangan akar rumput kedua ormas Islam terbesar tersebut. Perdebatan sering terjadi, tetapi sebatas masalah furu'iyyah (cabang agama) yang selama ini berhasil diatasi. Prinsip tasamuh/toleransi terbukti berhasil dilaksanakan oleh kalangan nahdliyyin. Semoga perbedaan tetapi tetap rukun tidak sebatas saat ini saja. Sekali lagi, apresiasi patut diberikan kepada Muhammadiyah dan NU yang berbeda tetapi tetap satu negara, Indonesia.

Mujibur Rohman SPd I

Guru SMPN 2 Wonokerto, Pekalongan

Dicari Calon Gubernur

Provinsi Jateng tahun 2008 akan mengadakan pilgub untuk masa jabatan 2008-2013. Banyak kandidat yang jauh hari sudah mempromosikan diri sebagai calon. Kami yang tergabung dalam Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP) mohon kepada semua calon, memberi penjelasan mengenai tindakan konkret yang kelak dilakukan seandainya terpilih.

Saat ini di negeri ini benar-benar terjadi defisit agen perubahan. Selama kurun waktu 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru, nampaknya tidak dipersiapkan kaderisasi pemimpin nasional. Yang terjadi hanyalah Soeharto sebagai pemimpin tunggal. Dia tak menghendaki terjadinya proses alih generasi kepemimpinan secara demokratis.

Akibatnya begitu Soeharto tumbang, seluruh tatanan sosial politik kacau balau. Sekarang bisakah Jateng melahirkan putra terbaiknya yang mampu mrantasi gawe?. FPSP ingin bekerja sama dengan seluruh anggota dan penggemar kolom ini untuk merumuskan apa yang seharusnya dikerjakan calon gubernur.

Calon nantinya harus sosok pemimpin yang mampu mengenali seluruh problem rakyat. Harapan masyarakat, dalam waktu 5 tahun pemimpinnya mampu menyelesaikan problem dengan baik. Tetapi jika tidak memungkinkan seluruhnya teratasi, harus ada skala prioritas. Skala prioritas itu: Pertama, penegakkan hukum dan keadilan.

Ke dua, pembangunan ekonomi berbasis kerakyatan bukan ekonomi kapitalistik yang liberal. Ke tiga, meningkatkan kualitas SDM melalui pemerataan pembangunan sektor pendidikan. Ke empat menjadikan Jateng sebagai pusat kebudayaan yang mampu menghidupkan sektor pariwisata dan menjadikan masyarakat sadar lingkungan termasuk menjunjung tinggi pluralisme.

Ke lima, adanya jaminan keamanan dan kenyamanan sosial. Ke enam, membangun jaringan (infrastruktur) bagi terciptanya mass rapid transportations (MRT) yaitu sarana angkutan masal yang aman, murah, dan cepat untuk menghindari kemacetan dan polusi udara. Ke tujuh, membangun kesehatan masyarakat melalui kesehatan produksi makanan, minuman, buah-buahan dan sayur serta lingkungan hidup (sanitasi).

Ke delapan, membangun sistem perawatan dan pengobatan yang murah/terjangkau bagi seluruh rakyat. Kesembilan, membangun profesionalitas, efektivitas dan efisiensi birokrasi (PNS). Dari kesembilan program yang kami tawarkan tersebut, mana yang tidak sanggup dikerjakan oleh calon gubernur?.

Saran kepada masyarakat, jangan pilih calon yang tidak sanggup bekerja untuk kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi masyarakat. Terus terang saat ini sebagian besar kiblat para pemimpin dan pejabat bukanlah pada "rakyat" tetapi pada "uang". Sehingga cara kerja atau politik yang ditempuh cenderung ke machiavellianisme yakni menghalalkan segala cara demi meraih kekuasaan. Mohon cagub menanggapi.

Suprayitno (081325736405)

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

ADA Majapahit

Pada 8 Oktober 2007 sekitar pukul 14.00 WIB saya belanja di swalayan ADA Jl Majapahit Semarang di antaranya kurma curah dengan harga Rp 12.950/Kg. Setelah ditimbang ternyata beratnya hanya 440 gram Kebetulan saya agak terburu-buru jadi tidak membaca struknya. Setiba di rumah, istri membaca struk pembayaran ternyata tertulis Anggur RRT 0,330 x Rp 21.950 = Rp 9.658.

Padahal yang saya bawa pulang adalah kurma curah yang harganya Rp 12.950/Kg. Akibatnya saya dirugikan beberapa ribu rupiah. Bagi saya bukan masalah uang yang tersedot ADA, tapi bagaimana manajemen swalayan sebesar ADA yang iklannya menggiurkan itu. Mohon tanggapan.

Fuad AZ

Jl Tlogo Putih 192, Semarang.

***

Pizza Hut Simpanglima

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Harry selaku pimpinan dan Bapak Eddi (supervisor) yang telah menanggapi komplain saya. Saat itu, saya memesan Sprite tetapi yang dihidangkan petugasnya terasa seperti air soda tawar. Setelah mengajukan komplain, saya mendapat tanggapan. Hal ini menunjukkan Pizza Hut menjaga nama baik dan kualitas pelayanan.

Dewi

Jl Aloon-Aloon Barat 9A, Semarang.

***

Kecewa Print World

Tanggal 4 Oktober 2007 saya pesan kartu lebaran di Print World JI Pandanaran Semarang dengan harga promo Rp 12.000/lembar sebanyak 4 lembar dengan jenis kertas A3 yang per lembarnya bisa jadi 6 kartu lebaran. Esok harinya saya datang lagi untuk ACC design dan disanggupi 6 Oktober 2007 pesanan jadi.

Tapi saat pengambilan, mereka mengatakan perlembarnya hanya jadi 5 kartu. Padahal sekitar 4 jam sebelumnya (saya telepon dulu) Print World mengatakan pesanan sudah jadi tapi tidak memberitahu jumlah cetakan yang ternyata berkurang. Meski kecewa tapi saya memaklumi. Setelah saya buka ternyata jumlah cetakan perlembarnya tidak hanya berkurang menjadi 5 tapi malah hanya 4 buah.

Ukuran kartu pun tidak bisa masuk ke amplop. Padahal contoh amplopnya juga saya tinggal. Akhirnya sesuai kesepakatan, mereka sanggupi mengganti dan menyelesaikan kekurangan tersebut dan jadi tanggal 8 Oktober 2007 pukul 17.00. Tapi saat saya ambil pukul 18.00, ternyata memang belum dicetak.

Setelah saya tunggu 1 jam akhirnya tahu bahwa pesanan saya belum dikerjakan. Ini keterlaluan dan tidak profesional. Apakah memang begini cara kerjanya dalam melayani konsumennya. Tanggal 9 Oktober saya kembali lagi untuk mengambil tapi lagi-lagi hasilnya salah. Kertas yang dicetak lebih tipis dari yang ditawarkan semula.

Waktu dan tenaga saya banyak terbuang karena harus bolak balik ke Print World dengan hasil mengecewakan. Sampai 2 hari menjalang Lebaran, kartu tersebut belum saya terima hingga saya kecewa. Walau tidak puas tapi saya berterima kasih pada karyawannya yang menemukan kunci motor saya yang tertinggal.

Elly Rosita Handayani

Jl Bukit Permata Puri F 6/9, Semarng

***

Soal BNI Capem Sragen

Komplain saya di Surat Pembaca 2 Oktober 2007 berjudul ''BNI Capem Sragen'' telah mendapat respon dari pihak Bank BNI melalui Bapak Mul Hartono untuk melakukan klarifikasi langsung sekaligus menjelaskan permasalahan secara tuntas dan dapat saya pahami dengan baik. Karena itu permasalahannya saya nyatakan selesai dan saya yakin Bank BNI pasti bisa membina karyawannya dengan baik. Pencabutan tulisan ini saya buat tanpa tekanan dari pihak mana pun dan dalam keadaan sadar.

Sugiyanto

Jetak Pabrik RT 1 Sidoharjo, Sragen

***

Dari Kasatlantas Kendal

Menunjuk Surat Pembaca Sdr Joko Wiyono 25 Oktober 2007 berjudul "Untuk Kasatlantas Polres Kendal", kami ucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya sebagai bentuk kepedulian masyarakat kepada Satuan Lalulintas Polres Kendal agar ke depan bisa melaksanakan tugas lebih baik lagi.

Untuk persoalan pertama, dasar yuridis yang kami pakai untuk menahan kendaraan adalah ketentuan mengenai pelanggar tanpa SIM dan STNK. Dalam UU No 14 tahun 1992 Pasal 51, tidak dibenarkan menahan kendaraan kecuali terlibat kecelakaan, kejahatan, tidak dapat menunjukkan STNK dan SIM serta kendaraan tersebut tidak laik jalan.

Dasar logikanya, bila petugas membiarkan orang yang tidak memiliki SIM mengendara kendaraannya kembali, artinya petugas membiarkan pelanggaran tetap terjadi sehingga hal tersebut menyalahi ketentuan hukum yang berlaku. Untuk permasalahan kedua, kami Satuan Lalu Lintas Polres Kendal tidak pernah menganjurkan membayarkan uang titipan (bukan uang damai).

Kami justru mengimbau kepada para pelanggar agar mengikuti prosedur penindakan tilang dengan menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Kendal setiap Kamis sesuai jam dan tanggal yang tertulis di Surat Tilang. Tanggapan ini semoga dapat memberikan penjelasan dan pembelajaran kepada masyarakat. Kritik dan saran bisa langsung sampaikan kepada Kasatlantas Polres Kendal AKP Erwin Harta Dinata SIK di 081795766655

AKP Erwin Harta Dinata SIK

***

Soal Penetapan Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri baru saja berlalu, namun masih menyisakan perasaan yang sedikit mengganjal di hati. Mengapa, karena seering ada perbedaan pelaksanaannya. Perbedaan yang satu ini menurut saya tidak lebih dari bentuk keangkuhan/gengsi kelompok yang merasa lebih dari yang lain sehingga mengaburkan makna kebenaran hakiki dari ilmu yang telah diakui keakuratannya oleh ilmuwan dunia.

Seharusnya umat Islam sadar, dengan perbedaan tersebut akan menjadi tertawaan pihak lain. Agama samawi yang lain, bahkan agama bumi saja yang merasa satu sumber dalam menetapkan hari raya bisa bersama tapi mengapa umat Islam yang jelas sumbernya Alquran dan Hadis justru menjadi pelopor perbedaan.

Bahkan Idhul Adha lalu, elite Islam Indonesia seolah menghakimi panutannya. Sang "hakim" lupa bahwa saat jamaah haji wukuf di Arafah disunahkan umat Islam untuk puasa sunah, pagi harinya sholat Idhul Adha. Tetapi di Indonesia sholatnya sehari kemudian. Aneh. Sepertinya hal tersebut hanya terjadi di negeri ini.

Seharusnya para elite sadar bahwa hal tersebut bisa membingungkan umat lapisan bawah yang merupakan mayoritas umat Islam di Indonesia. Jangan karena kepentingan kelompok/golongan tertentu, mengorbankan keutuhan umat yang merupakan makmum. Janganlah mengorbankan umat dari kepentingan dunia. Sadarlah bahwa akan ada tuntutan di akhirat kelak. Saya orang awam tidak bisa memaksakan kehendak, tetapi paling tidak mengingatkan para pembuat penetapan sehingga tidak menimbulkan kebingungan umat lapisan bawah, sebaliknya justru harus menyejukkan.

HM Suratno (081325752297)

Jl Jend Soemitro 70 Prokimad

Tengaran, Kab Semarang

***

Mas Celathu...

Rasanya bagai sayur tanpa garam jika tiap kali membaca Suara Merdeka edisi Minggu tanpa menyimak kolom Celathu Butet. Di tengah headline news dan berita berskala berat yang menghiasi halaman depan, kehadiran kolom tulisan karya seniman Butet Kertarajasa ini sungguh merupakan oase menyegarkan.

Bagaimana tidak, membaca kolom ini kita akan disuguhi anekdot sisi problematika dari realitas perjalanan hidup yang diperankan oleh tokoh "fiksi" Mas Celathu. Kisah nyatanya yang dikemas dalam setiap kutipan dialog, selalu merepresentasikan permasalahan up to date di negeri ini yang memang harus dicarikan solusi tepat.

Kita akan tertawa terbahak-bahak, bahkan bisa "gila" dibuatnya jika membaca seksama kata demi kata, kalimat dan kutipan dialog yang penuh humor segar namun sarat hikmah itu dan patut kita renungkan. Si Butet Jogja melalui Mas Celathu-nya senantiasa memberi semangat untuk selalu berpikir jernih dan menggiring kita menuju alam rasional dengan melepas paradigma irasional.

Baca saja "Menyumbat Kekerasan.", di mana Mas Celathu mendeklarasikan diri sebagai mahluk antikekerasan. Dia coba menawarkan solusi jitu mengatasi kekerasan dengan mengadai-andai jika budaya kekerasan bisa minimalisasi setidaknya dalam lingkup keluarga. Misal, membudidayakan toleransi dan tidak main pukul pada anak.

Juga mengutamakan dialog jika terjadi pertengkaran internal keluarga hingga dipastikan kelak akan lahir generasi cinta damai. Sebab umumnya kekerasan terjadi karena selalu ada pemantik sebelumnya. Jadi setiap muncul kekerasan seyogianya diatasi secara arif, bijak dan lebih mengutamakan musyawarah.

Pendeknya, mengatasi kekerasan tanpa pergolakan baru. Jika ini bisa terwujud walhasil negeri tercinta ini bakal menuai tradisi kedamaian. Ada juga anekdot lain, pada edisi "zaman gunjil" Mas Celathu geleng-geleng kepala heran seribu heran. Dia merasakan tanda keganjilan zaman yang dulu dianggap baik sekarang buruk, dulu memalukan kini membanggakan.

Jika membaca berita tentang sepak terjang narapidana sekarang, mereka justru berkesan bangga lantaran jadi selebritis dadakan. Fotonya dimuat di media dan dengan pede-nya sambil senyum, sekali pun itu pejabat yang notabene public figure panutan masyarakat.

Lalu ada pula edisi "Pensiunan Aktor", kita seperti diajak menyetujui sebuah image bahwa mental para pegawai (negeri) memang jauh dari kreativitas, suka melempar tanggung jawab, tak cekatan mengatasi masalah dan takut berkompetisi. Lantaran selama mengabdi pada negara, di kantor kerjanya hanya main catur atau menggunjing orang. Kolom clekit semacam ini perlu dilestarikan agar surat kabar bisa jadi lebih hidup mengingat news value-nya yang sedemikian penting.

Yanuar Isa M.

Dibal RT 1/RW 5 Ngemplak, Boyolali

***

Tolong Saya

Saya membutuhkan alamat televisi swasta ANTV, Indosiar, Trans TV, Global TV, RCTI, SCTV, TPI, Lativi, Trans 7 dan Metro TV. Terima kasih bantuannya.

Ariesta Widya

Jl Peterongan Tng 371, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA