logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 30 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Umat Paroki Bongsari Ratapi Nasib Gerejanya

SEMARANG- Melihat tanda-tanda tidak adanya kejelasan mengenai visi dan misi yang akan dituju, sejumlah perwakilan umat Katolik Paroki St Theresia Bongsari meratapi kelangsungan perkembangan iman umat dalam hidup menggereja.

Pendapat itu tercermin dalam sarasehan perayaan 40 tahun berdirinya paroki tersebut, Sabtu (27/10) malam di halaman gereja. Umat yang hadir tidak hanya dari Paroki Bongsari, tapi juga mereka yang dulu tinggal dan pernah aktif di paroki itu. Ada yang dari Jakarta, Pati bahkan Sumba. Malam itu umat mencoba nguda rasa terkait dengan perkembangan kehidupan iman paroki itu. Mereka men-sharing-kan dengan melihat perkembangan sejak berdiri hingga kini.

Sarasehan sengaja tidak menghadirkan pembicara, namun mencoba menampung unek-unek dari ratusan umat yang hadir. ''Saya melihat hubungan antara umat dengan umat, dan pastor dengan umat terjadi penurunan, baik kualitas maupun kuantitas,'' kata Bambang P, salah satu umat yang hadir.

Komunikasi Kurang

Menurut dia yang pernah menjabat Ketua Dewan Paroki, segi komunikasi sangat kurang dengan jarangnya kunjungan pastor dan Dewan ke umat, bahkan ada yang sama sekali belum pernah dikunjungi. Begitu pula dengan nasib umat dalam melakukan kegiatan pembinaan.

Pendapat itu dibenarkan salah satu umat, Djuwarno, yang mengungkapkan ciri khas kian menghilang, seperti upacara visualisasi setiap hari-hari besar hilang. Padahal dengan acara seperti itu, umat bisa ikut terlibat dan semakin guyub.

''Umat Bongsari ini terkenal guyupnya, tapi tidak akhir-akhir ini,'' kata Djuwarno yang mantan guru itu. Yang lebih memprihatinkan lagi, adalah vakumnya kepengurusan organisasi muda-mudi Katolik (Mudika) Paroki. ''Saat ini kita tidak mempunyai ketua mudika. Sungguh suatu yang memprihatinkan,'' tutur moderator sarasehan Ign Dadut Setiadi.

Meski demikian, puncak peringatan 40 tahun Gereja Bongsari dengan Misa Syukur yang dipimpin oleh Romo Ekonom Keuskupan Agung Semarang Rm Sugijarto Pr didampingi 13 romo yang sebagian besar pernah berkarya di paroki tersebut berlangsung meriah.

Suasana gereja Minggu (28/10) pagi itu, diwarnai dengan dua gunungan buah yang langsung diperebutkan umat di halaman depan gereja. Selain itu, umat juga dijamu dengan berbagai jenis bubur.

Tradisi pesta bubur ini sudah berlangsung sejak lama, dan disiapkan oleh umat dari berbagai wilayah di Paroki Bongsari. ''Saya sudah menyiapkan dan memasak bubur sumsum dan bubur candhil ini sejak pukul 3 pagi,'' kata Ismuroso (60), umat wilayah Krobokan yang menyiapkan hingga 200 porsi. (J14-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA