| Selasa, 30 Oktober 2007 | BUDAYA |
Catatan Harian Berbahasa Rupa
KISAH, seperti kesaksian, milik siapa saja. Ia tak mengenal pembedaan subjek penutur atau objek yang dituturkan. Siapa pun berhak berkisah. Siapa pun boleh bersaksi. Tak terkecuali tiga pelukis yang berpameran di Rumah Seni Yaitu (RSY), Kampung Jambe 180, Semarang, 27 Oktober-5 November. Dalam pameran "Kisah: Kesaksian" itu, Agus Siswanto, Ekwan Marianto, dan Sakini SKM berkisah dengan bahasa rupa tentang dunia mereka. Belasan karya di dinding RSY menjadi semacam catatan harian yang dipublikasikan. Sakini, misalnya, mengisahkan apa yang dia lihat dan rasakan sehari-hari. Perempuan itu memunculkan objek-objek yang lekat dengan lingkungannya. Dalam "Hariku Sehari-hari", Sakini membabar aktivitas keseharian sebagai ibu rumah tangga sejak pagi hingga larut malam: mencuci, memasak, memandikan dan mengantar anak ke sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, melukis, menyiram tanaman, sampai kembali ke peraduan. Dengan gaya serupa, dia mengisahkan Posyandu Rabu Kliwon, Penyambutan Jabang Bayi, Pengantin Kudus, Aktivitas Desa Papringan, serta Kudus Kota Kretek. Bahasa rupa Sakini bersifat lokal dan amat personal. Dia menggunakan banyak objek yang berserak: gorden, seprai, rumah kudus, mainan anak, sepeda motor, tas sekolah. Boleh dibilang, dalam soal itu dia cenderung realis. Terlepas dari kisah dalam kanvasnya, Sakini adalah sosok yang menarik. Melihat karyanya, orang tak bakal menyangka sang kreator baru sekitar setahun memulai debut sebagai pelukis. Corak lukisannya yang childish dan karikatural seolah dapat menyelimurkan mata apresian. Tertuang Lancar Praksis melukis memang baru saja dia lakukan. Namun proses kreatif dalam benak Sakini sejatinya telah berlangsung lama. Sebagai istri Solichin KM, perupa dari Kudus, dia dekat dengan aktivitas kesenirupaan. Maka, ketika suatu hari Sakini tiba-tiba berkehendak melukis, proses kreatif yang mengendap bertahun-tahun itu tertuang dengan lancar. Tubagus P Svarajati, pemilik RSY, "menemukan" Sakini secara tak sengaja. Suatu ketika dia diundang Komunitas Perupa Kudus (Paku) ke Kota Kretek. Tak hanya berdiskusi, Tubagus juga melihat karya mereka. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah karya Sakini. Ketertarikan itu menguat setelah dia mengetahui latar personal sang pelukis. Agus Siswanto dan Ekwan Marianto yang punya latar pendidikan formal seni rupa berkisah dengan teknik visual relatif kuat. Agus memajang Orkhestra, Sengketa, Pagi-pagi Sarapan Kacang, Suka Ngeyel, dan Keras Kepala yang cenderung bercorak kubisme. Itulah endapan pengalaman, sesuatu yang pernah dia lihat dan rasakan. Berbeda dari Sakini dan Agus Siswanto, karya Ekwan bernuansa surealis. Gaya bertutur Ekwan cenderung simbolis. Objek-objek figuratif dalam kanvasnya menyimpan gagasan sosial. Taruh misal Pohon Kehidupan, Budaya Tikus, dan Otot Kawat Balung Wesi.(53) |