| Selasa, 30 Oktober 2007 | BANYUMAS |
Bungkus Teh Menjadi Surat NikahMELIHAT sosoknya yang kurus dan renta, orang mungkin tidak menyangka kalau Dr A Arifin MMiss DMiss (85) ini dulunya seorang pasukan pengawal Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ditemui di stan Kantor Administrasi Veteran dan Cadangan (Karminvetcad) IV pada acara expo TNI, belum lama ini, Arifin yang juga seorang Pendeta Gereja Kemah Injil Indonesia Purwokerto ini menghilangkan rasa tidak percaya itu dengan semangatnya saat menceritakan kegagahan Jend Soedirman dalam menghadapi pihak Belanda. Khususnya saat perang gerilya dalam menghadapi agresi militer II dari Belanda selama 203 hari. Yang unik, dalam situasi yang tidak menentu itulah, dia menemukan belahan jiwanya. Adalah Sutari, rekan seperjuangan dalam Laskar Wanita Indonesia (LASWI) yang menarik hatinya. Tak ingin gadisnya direbut orang sekaligus untuk membuktikan cintanya, dia memutuskan menikahi. Todong Pistol Saat itu, penghulu yang bertugas di daerah kekuasaan Belanda pada mulanya tidak berani melakukan tugasnya karena takut ketahuan membantu pejuang Indonesia. ''Terpaksa saya todongkan pistol agar ia mau menikahkan saya,'' katanya sambil tersenyum mengenang saat itu. Ketika sampai di sebuah rumah penduduk yang menjadi tempat persembunyian para pejuang Indonesia, persoalan lain muncul. Ternyata penghulu tidak membawa kertas karena khawatir jika ada razia dari Belanda. Tidak hilang akal, Arifin muda melayangkan pandangan mata ke sekelilingnya. Ketika itulah, dia melihat kertas bekas pembungkus teh yang terselip di dinding bambu rumah. Kertas itulah yang kemudian menjadi surat nikah mempelai berdua. Di kemudian hari, dia mendatangi kantor catatan sipil untuk mengurus surat nikah resmi. Sayangnya, petugas meminta kertas bersejarah yang dimilikinya sebagai bukti pernikahan. Sikap petugas tersebut sangat disayangkannya. ''Saya tidak mungkin menyerahkan benda yang begitu bersejarah dalam hidup saya,'' katanya. Untungnya, keinginan Arifin bisa terlaksana ketika tanpa diduga dia bertemu dengan penghulunya yang juga bekerja dalam instansi catatan sipil. Akhirnya, dia berhasil mendapatkan surat nikah dengan kertas pembungkus teh masih di tangannya. (Aniek Hadi Puspitosari -55) |