logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Oktober 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

RS Panti Wilasa Citarum

Tanggal 1-7 Oktober suami saya dirawat di RS Panti Wilasa Citarum Semarang untuk menjalani operasi batu ginjal. Ada beberapa kecerobohan yang saya catat selama dia dirawat di antaranya: Penggantian infus sering terlambat hingga menyebabkan darah naik ke kantong infus yang vakum. Juga kurang koordinasi dalam pengambilan darah sehingga beberapa kali double.

Sehari setelah operasi, pasien mengeluh tidak bisa kentut yang menyebabkan perut keras dan sulit bernafas serta sakit. Lebih dari 3 kali saya melapor dan selalu mendapat jawaban agar menunggu dokter. Lalu saya lapor dokter penyakit dalam saat visite tapi beliau berkata itu bukan bidangnya.

Saya menunggu dokter lain tapi karena belum datang juga akhirnya saya lapor Iagi ke perawat. Tapi mereka malah menjawab ''Lha tadi tidak lapor dokter''. Saya marah dan mengatakan sudah lapor Iebih dari 4 kali tapi selalu dipingpong.

Malam sebelum pulang, saya minta perincian agar bisa cek silang. Saya melihat perincian kunjungan dokter tidak benar hingga komplain tapi dijawab besok saja di Ioket. Paginya, saat membayar di loket saya mendapati biaya kunjungan dokter yang saya kamplain semalam tidak dikoreksi senilai Rp 140 ribu.

Selain itu juga tercantum pemakaian infus yang terlalu banyak. Padahal hari terakhir, suami sudah lepas infus. Di situ tertulis pemakaian infus hari itu sebanyak 5 buah senilai Rp 65.000. Bisa dibayangkan jika hal itu terjadi pada pasien yang tidak mengecek kembali biaya rumah sakit. Berapa keuntungan yang mereka peroleh.

Walau mereka memperlakukan seperti itu namun tidak ada permintaan maaf dari perawat. bahkan pemberitahuan bahwa koreksi sudah diserahkan ke kasir pun saya yang menanyakan, bukan mereka yang memberitahu. Inikah pelayanan yang disebut memuaskan. Belum lagi pembersihan kamar yang dilakukan tidak optimal.

Saya imbau masyarakat teliti agar tidak rugi dan mohon RS Pantiwilasa Citarum tidak mengambil keuntungan dari orang yang sedang susah. Mohon perawatnya dilatih lebih profesional dan berjiwa melayani. lni semua saya lakukan agar timbul kesadaran konsumen akan hak dan kewajibannya. RS Pantiwilasa selamat berbenah.

B Moedjiati Nurmeitasari

Jl Sidomulyo II/35, Semarang

Sayuran untuk

Bayar Sekolah

Sungguh lain, Banyuwangi ada SMP swasta yang telah dua tahun menerima pembayaran dari orang tua tidak mampu sebanyak Rp 3 juta diganti dengan bahan makanan yaitu beras, sayuran seperti terong, sawi, kacang panjang, bayem, kenikir, kangkung, gereh. Penyetoran 1 minggu sekali, langsung dimasak dan dimakan bersama. Ini cara mengangsurnya.

Di sekolah tersebut di samping pelajaran umum diajarkan juga berbagai bahasa seperti bahasa Jawa, Indonesia, Mandarin, Arab dan Jepang. Wah benar-benar globalis. Sepatutnya bila baik Pemkab setempat, provinsi, bahkan pusat meniru dan mengembangkan manajemen sekolah tersebut untuk diterapkan di daerah pertanian yang lain.

Hal ini selaras dengan substansi UUD '45, bidang pendidikan bahwa seluruh warga negara wajib belajar dan ditanggung oleh negara. Karena itu wajar dan lebih baik bila unsur Dinas Pendidikan Jateng mengadakan studi banding ke sekolah tersebut, apa tujuan, latar belakang, implementasinya, untung-ruginya dan kelangsungan hidup sekolah.

Padahal di Kota Semarang, untuk masuk sekolah masih memerlukan/butuh dana jutaan rupiah. Lalu bagaimana dengan yang tidak mampu, menyetop anak bersekolah atau mengadu ke dinas P dan K, dinas sosial, camat, wali kota atau orang kaya untuk mohon bantuan

Mari berpikir bersama terutama stakeholder agar tidak ada anak wajib sekolah yang keluyuran di jalan sebagai peminta-minta dan sikap lain yang tak peduli untuk hari depannya. Lalu apa tujuan merdeka yang sudah 62 tahun, kok makin lama makin sulit sekolah bagi anak dari keluarga tak mampu.

Moeljono HP

Jl Banteng Utara VII/1, Semarang

***

Untuk Cakra TV

Saya penggemar Cakra TV Semarang terutama dalam acara dialog interaktif termasuk yang dilaksanakan oleh Suara Merdeka setiap 2 minggu sekali pada hari Jumat dengan pemandu Mas Adi Ekopriyono. Dia cukup cerdas mengemas acaranya, opini yang dibahas juga baru dan nara sumber yang ditampilkan berkompeten serta kapabel.

Usul saya, adakan sarasehan atau temu penggemar acara dialog interaktif. Barangkali dengan acara tersebut, stasiun TV ini akan mendapat masukan dari para pemirsa hingga bisa memenuhi keinginan masyarakat. Ahirnya program yang ditampilkan akan makin dekat di hati pemirsa.

Selamat ulang tahun ke-2 semoga cepat terpacu untuk berbenah sehingga Cakra TV bisa menjadi ikon TV- nya orang Semarang. Selamat menggunakan logo baru juga.

S Handoko ( 08156552480 )

Tugurejo A9 RT 5/RW I Tugu, Semarang

***

Penerimaan CPNS

Tahun ini hampir seluruh daerah menutup pintu rapat-rapat lowongan CPNS untuk umum. Alasannya keterbatasan dana, jatahnya hanya sedikit akan diakumulasikan tahun depan. Sedangkan tahun ini khusus diperuntukkan bagi tenaga honorer yang sudah terdaftar dalam database. Sungguh kebijakan golek gampange, tanpa kearifan dan tidak memperhitungkan pihak lain yang dirugikan.

Di satu sisi tidak dipungkiri memang tenaga honorer telah mengabaikan dirinya walau mendapatkan honor dan kini ada harapan. Sementara di sisi lain penutupan kesempatan bagi mereka yang ada di luar (umum) terlebih yang usianya diambang batas usia CPNS 39 tahun. Haruskah mereka demo menunjukkan eksistensi untuk mendapatkan haknya mendaftar sebagai CPNS ?.

Kiranya ada hal yang patut dipertanyakan, di antaranya siapakah sejatinya tenaga honorer itu. Apakah ada keterbukaan, bila di suatu instansi butuh tenaga honorer dan bagaimana mekanisme cara rekrutmennya. Hambeg parama arta adalah ungkapan yang ternyata hanya ada dalam teori kepemimpinan.

Walau sesungguhnya penuh kesadaran bahwa negeri ini milik segenap bangsa dan sangat disesalkan jika kita membunuh anak bangsa sendiri (menutup kesempatan berkarya sebagai CPNS). Bukan hanya mimpi, ternyata hal ini bisa dan telah diterapkan dalam sistem penerimaan CPNS di instansi vertikal di Jateng.

Kasiyanto

Klipang Pesona Asri II Blok C/25, Semarang.

***

Terima Kasih Unnes

Kondisi masyarakat Desa Podosari Kecamatan Cepiring Kendal yang kebanyakan bekerja sebagai petani dan pedagang, terkadang menjadi hambatan tersendiri untuk memberikan tambahan pendidikan yang memadai bagi anak-anaknya. Keterbatasan ini mungkin menimbulkan rasa simpati dari tim Kuliah Kerja Nyata Tematik Penuntasan Buta Aksara Universitas Negeri Semarang.

Bentuk bantuan yang diberikan berupa ratusan eksemplar buku yang terdiri atas buku cerita anak, buku cetak IPS untuk murid kelas 1 dan 2, poster alat peraga baca dan hitung serta poster pendidikan penunjang lainnya. Tim yang berposko di RT 1/RW 2 itu juga menularkan ilmu pengetahuan kepada para murid SD setempat.

Mereka praktik mengajar dengan materi Bahasa Inggris, Jawa dan IPA. Stigma mahasiswa yang sok keminter tampaknya tidak ada dalam kamus mereka. Para mahasiswa ini dikenal supel dan luwes bergaul dengan orang desa. Tak heran nama angota tim seperti Susandari (20), Arsita Dwi Putra (21), Dhimas Yhoga Seputra (20), dan Sida Sari Agustina (20) lekat sebagai teman karib warga.

Sedikit banyak kiprah mereka membantu bidang pendidikan itu mengikis keraguan bahwa mahasiswa KKN selalu menjadi beban tersendiri bagi para lurah. Dulu terbetik berita, beberapa kepala desa menolak kedatangan mahasiswa dengan berbagai alasan.

Namun penolakan segelintir lurah itu tidak berdampak apa pun, sebab dengan kesadaran tinggi mayoritas lurah di kabupaten ini ternyata menerima para mahasiswa dengan tangan terbuka. Kedatangan para mahasiswa di Desa Podosari dan seluruh desa di Kendal ternyata sedikit banyak membawa dampak positif bagi kemajuan desa.

Dengan niat tulus mereka menstransfer ilmu yang didapat di bangku kuliah untuk warga. Ke depan diharapkan langkah para mahasiswa ini ditiru oleh rekan mereka yang lain. Bravo mahasiswa.

Aryo Widiyanto AMd

Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal

***

Uang Palsu di Mandiri

Saya kurir perusahaan dengan gaji pas-pasan bahkan bisa dibilang kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Pada 8 Oktober 2007 pukul 10.35, saya mengambil uang milik kantor di Bank Mandiri Cabang Ungaran. Karena jumlah yang saya ambil lumayan banyak (200 lembar) maka tidak mengecek lagi keaslian uangnya.

Saya percaya 100% Bank Mandiri telah mengecek uang itu asli atau tidak (saya sudah ratusan kali mengambil uang cash dalam jumlah besar di bank yang sama dan tidak pernah ada masalah). Uang tersebut langsung saya masukkan ke BCA Cabang Ungaran.

Namun tak disangka ternyata dari 200 lembar uang tersebut, terselip 1 lembar uang palsu yang langsung disita oleh pihak BCA. Betapa kagetnya saya mengetahui hal tersebut. Tanpa menunggu lama saya kembali ke Bank Mandiri untuk konfirmasi, namun tentu saja mereka menyangkal dengan alasan uang sudah dibawa keluar dari bank.

Dengan terpaksa saya harus mengganti uang tersebut yang nilainya cukup besar bagi saya. Dengan pengalaman ini saya mohon Bank Mandiri dapat lebih teliti menerima atau mengeluarkan uang sehingga tidak merugikan pihak lain.

Suwito

Genuk Karanglo RT 6/RW 2, Semarang

***

Sidang atau Titip

Belum lama ini sekitar pukul 11.30 saya melintas di Jl Gatot Subroto Krapyak Semarang. Saya dari arah timur menuju Kendal dan saat saya hendak melintas, lampu berubah kuning kemudian merah. Saya yang terlanjur melaju pun menjadi gelagapan. Mau berhenti atau terus pasti sama-sama salah.

Jika berhenti saya khawatir akan ditabrak dari belakang, mengingat adat masyarakat kita bila lampu berwarna kuning, bukannya memperlambat kendaraan tetapi justru mempercepat lajunya. Akhirnya saya memutuskan terus dan bisa ditebak sesaat kemudian seorang polisi mengejar.

Di Pos Jl Gatot Subroto saya ditanya apakah ikut sidang dengan ancaman denda minimal Rp 45.000. Saya bingung karena tidak punya uang sebanyak itu. Karena saya hanya membawa uang untuk membayar kuliah, saya minta disidang saja. Mungkin karena ingin menolong, polisi itu bertanya apakah saya membawa uang Rp 20 ribu.

Akhirnya saya nurut, uang Rp 20.000 saya titipkan kepadanya. Saya pun diizinkan pergi. Melalui surat ini saya ingin berterima kasih pada Pak Polisi tersebut yang mau saya titipi uang denda. Semoga uang denda tersebut dapat menjadi pemasukan keuangan pemerintah dari sektor nonpajak dan digunakan memperbaiki fasilitas umum.

Atau menambah anggaran untuk meningkatkan gaji polisi yang katanya masih di bawah standar. Saya juga ingin bertanya pada pihak yang berwenang, apakah pengadilan bagi pelanggar lalu lintas sama seperti pengadilan umum, yang salah didenda dan yang benar dibebaskan.

Soalnya bila argumen saya bisa digunakan untuk bebas dari denda, mungkin lain kali saya terpaksa melanggar lalu lintas lagi, saya akan memilih disidang saja.

Rian Bayu Sanjaya

Plantaran RT 2/RW 13 Kaliwungu, Kendal

***

Ditemukan Perdana

Flexi 0291)3376317

Pada 28 September 2007 saya dalam perjalanan pulang, di depan PG Rendeng Kudus menemukan Kartu Perdana (Sim Card) Flexi Trendy (0291)3376317) yang masih baru dan segelnya utuh. Saya menunggu beberapa saat di pinggir jalan kalau ada yang mencari kartu tersebut, ternyata tak ada hingga akhirnya kartu saya bawa pulang. Saya berharap yang merasa kehilangan kartu tersebut dengan nominal Rp 30.000 dan masa berlaku s.d 30 April 2008 menghubungi saya.

Ady Prasetyo (08156598840)

Perumda 5 RT 3/RW Jati, Kudus

***

Listrik Mati Terus Menerus

Jika ada penilain dari Muri untuk aliran listrik yang mati secara terus menerus, saya akan usulkan aliran di daerah Pleburan Raya bisa jadi nominator. Bayangkan, hampir tiap sore atau minimal dua hari sekali, di Pleburan Raya, anehnya hanya sebelah barat, kemudian Pleburan Barat di sebelah timur, serta beberapa gang, aliran terputus. Aliran terputur biasanya mulai jam 15.00, minimal hidup kembali setelah Magrib, malah terkadang sampai tengah malam. Bisa dipastikan, selain menggangu aktivitas kerja, belajar peralatan elektronik jadi rusak.

Setiap kali mati, beberapa warga langsung telepon ke dinas gangguan, dan ketika ditanyakan katanya trafo di derah itu overload. Ketika kami tanya kok tidak diganti, dijawab harus tunggu, karena harus pesan terlebuh dahulu. Padahal kondisi ini sudah berlangsung lama, dan menjadi-jadi belakangan ini. Tolong ya Bapak petugas PLN, perhatikan aliran listrik kami.

Ny Uti, Pleburan Raya Semarang

****

Stop Pembodohan

Meski pilpres masih jauh yaitu tahun 2009, namun para capres sudah mulai menggeliat. Bahkan Sutiyoso tampak lebih agresif dalam melakukan kampanye awal dengan mendekati tokoh Gunung Merapi Mbah Maridjan. Tokoh lain seperti Megawati sudah menyatakan kesediaannya, sedang Wiranto masih menunggu perkembangan partai Hanura dan SBY belum memutuskan mencalonkan atau tidak.

Hiruk pikuk kampanye tentu akan terus menggelinding. Para calon dengan segala upaya akan berusaha memikat hati rakyat dengan berbagai retorika dan obral janji. Forum Penulis Surat Pembaca (FPSP) punya gagasan bahwa menghadapi pilkada, pilgub atau pilpres seharusnya masyarakat mau bersatu.

Rakyat jangan lagi mau dijadikan obyek tipu daya dengan segudang janji. Sistemnya perlu dibalik, bukan calon pemimpin yang obral janji melainkan rakyat yang "menetapkan janji". Rakyat yang akan menentukan konsep untuk masa depan Indonesia.

Para calon tidak lagi leluasa membodohi rakyat sebab arah pembangunan baik di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pendidikan, pertahanan negara dan sebagainya kelak rakyatlah yang akan menentukan. Rakyat yang masih mencintai bangsa dan negaranya tentu tidak akan rela jika negeri ini makin tenggelam.

Mari segenap eksponen masyarakat bersama FPSP merumuskan bersama tentang arah pembangunan bangsa yang dikehendaki rakyat. Setelah konsep disetujui bersama kemudian tantang para calon pemimpin baik calon bupati, wali kota, gubernur sampai calon presiden untuk bisa melaksanakan.

Beranikah mereka menerima tantangan pembangunan (semacam GBHN) yang telah ditetapkan rakyat. Andai mereka tidak berani, umumkan secara terbuka biar rakyat yang menentukan, apakah akan memilih calon pengecut atau pemberani. Jika berani, harus ada "garansi" keberhasilan sebab jika gagal maka rakyat akan memaksa dia turun dari jabatannya.

MoU ini harus memiliki kekuatan hukum yang disyahkan notaris. Dengan demikian rakyat tidak bisa lagi dibohongi dan kini tiba waktunya rakyat menjadi majikan bagi para "abdi prajanya". Saya harap konsep ini mendapat perhatian serius dari masyarakat yang peduli terhadap masa depan bangsa dan negaranya.

Sebab, ternyata nasib negeri ini tidak bisa hanya dipasrahkan kepada eksekutif, legislatif dan yudikatif.Mereka telah terinfeksi virus "kambing hitam" jika gagal dalam tugas. Tidak seperti para pemimpin Jepang yang lebih memilih mengundurkan diri atau bunuh diri jika merasa gagal dalam menjalankan tugas. Tipe para pemimpin kita lebih terobsesi pada kekuasaan semata, bukan pada aspek tanggung jawab pekerjaan dan moral. Ciri yang menonjol yaitu para pemimpin makin menjauh dari rakyatnya. Mereka baru mendekat kalau "ada maunya". Karena itu sulit sekali negeri ini bangkit. Silakan rakyat menilai.

Suprayitno (081325736405)

Jl Tlogomukti Tmr I/878


HexWeb XT DEMO from HexMac International

Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA