logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 24 Oktober 2007 BUDAYA
Line

Dari Model, Winda Merambah Sinetron

TEKAD Winda Ria menapak dunia hiburan bulat sudah. Jauh-jauh hari, model asal Semarang itu punya harapan besar: bisa merambah dunia akting, baik sinetron maupun film. Maka, ketika didapuk jadi pendukung sinetron Pukis yang kini ditayangkan SCTV, cewek kelahiran Medan 22 Februari 1993 itu pun girang bukan alang kepalang.

Dia makin bungah saat ditawari berakting dalam film layar lebar Last in Love. Untuk mempermudah pengembangan karier, dia pun hijrah ke Jakarta. Ya, kini dia tinggal di Ibu Kota dan menjadi siswa kelas I SMA Dewi Sartika, Jakarta.

Kendati baru menjadi pemain pendukung, Winda Ria tak ingin setengah hati. Anak kedua dari tiga saudara pasangan Ir Khairul dan Roshayani itu mantap sudah meniti karier di dunia hiburan.

"Sejak kecil saya senang dunia entertainment, dari model, menyanyi, hingga akting. Saya ingin memperdalam dan mengasah ilmu akting. Jika ada jalan, kenapa tidak saya coba?" ujar Winda.

Winda menjadi bintang sinetron bukan tanpa sebab. Itu dia awali setelah menjuarai beberapa lomba model. Dia pun meraih beberapa penghargaan, antara lain juara umum Zema Model, juara Inti Model Indonesia, juara Best of the Best Kebaya Modifikasi, dan juara umum Idola 2007.

Menarik Perhatian

Bakat Winda makin mengilap setelah diasah dan diarahkan Totok Shahak. Setelah menjuarai Model of the Mount 2006, Winda menarik perhatian Benny Simanjuntak, bos Contoh Management.

Saat itu, Totol Shahak mengenalkan Benny yang berada di Semarang dengan gadis belia campuran Padang dan Medan itu. Setelah mengobrol dan melihat talenta Winda, Benny tertarik membesutnya sebagai artis. Namun, dengan syarat Winda tinggal di Jakarta agar bisa total.

Sang ibu pun mendukung. "Asal Winda senang. Apa pun yang dikerjakan, saya merestui. Termasuk, jika ada yang menawari dia menyanyi," ujar Roshayani yang selalu menemani sang anak saat syuting.

Ya, kini Winda sudah mantap menapaki dunia yang menjanjikan ketenaran. Ikhtiar saja tentu tak cukup untuk mewujudkan cita-cita, tetapi harus ditopang kemampuan, kesabaran, dan keuletan. (Fahmi Z Mardizansyah-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA