logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 11 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Batik Butuh Keberpihakan Pemerintah

AKIBAT modernisasi, terutama sejak masuknya bahan-bahan tekstil dari luar negeri, orang mulai berpaling dari kerajinan batik. Sehingga kerajinan batik semakin lama kian turun, pemakainya pun makin lama kian berkurang. Padahal batik adalah kekayaan budaya Indonesia.

"Seperti kita tahu, batik itu produksinya tidak cepat. Karena batik baik cap maupun tulis dibuat dengan tangan. Sementara tekstil dibuat dengan mesin sehingga lebih cepat dan murah," ujar Dewi Tunjung, ketua Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Bokor Kencono dalam "Berkah Obrolan Sahur Ramadan 1428 H", Rabu (10/10), yang disiarkan langsung dari lobi Hotel Ciputra oleh 105,2 Suara Sakti FM, dan dimoderatori oleh Eriyati R Saptoputratmo.

Menurutnya, penurunan perajin batik di Jateng sangat drastis. Dulu, di tahun 1950-1960-an, batik pernah mengalami masa keemasan. Namun memasuki era 1970-an produksi batik mulai menurun karena masuknya produk tekstil dari luar negeri. Kemudian, batik benar-benar jatuh pada tahun 1990-1998 karena krismon. "Itu betul-betul memicu. Contohnya di Banyumas. Dari seratusan perajin tinggal 12 perajin. Di Lasem juga sama dari ratusan tinggal puluhan," papar Dewi dalam acara yang didukung oleh Djarum Super, Telkom Flexi, Wawasan, dan Mandiri Prioritas. Dalam acara ini pendengar juga bisa berinteraksi melalui SMS di (024) 70400550 dan telepon interaktif di (024) 8447154.

Oleh karena itu, lanjutnya, paguyuban Bokor Kencono bertujuan untuk memotivasi pemerintah. Agar pemerintah kembali membantu dan mendorong para perajin. Karena harus ada keberpihakan dari pemerintah daerah. "Perajin batik tidak bisa bersaing sendiri dengan tekstil. Karena biasanya pengusaha tekstil itu berekonomi kuat. Sementara perajin adalah kaum lemah di mana mereka menghasilkan satu-satu untuk hidup sehari-hari," katanya dalam acara yang dipandu oleh Wina, host dari Suara Sakti FM.

Sekarang para perajin telah mulai berinovasi. Mereka menggabungkan motif tradisional dengan motif baru. Mereka juga sudah membuat warna-warna yang lebih cerah sehingga lebih mudah dipasarkan. (Fani Ayudea-41)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA