| Rabu, 10 Oktober 2007 | SALA |
JABURANDari Perawatan Jenazah hingga Zakat FitrahBULAN Ramadan memiliki arti tersendiri bagi keluarga besar MAN I Boyolali. Ya, sekolah setingkat SMTA di bawah naungan Depag tersebut tak ketinggalan menggelar berbagai kegiatan keagamaan. Tak hanya di sekolah, namun mereka juga mempraktikkan langsung ilmunya di masyarakat. Selama seminggu terakhir di bulan puasa, para siswa diwajibkan mengikuti pesantren kilat yang digelar di sekolah. Selama tujuh hari, para siswa di bawah bimbingan guru digembleng beragam kegiatan yang langsung berkaitan dengan ibadah, baik ibadah yang berkait langsung dengan Allah maupun ibadah yang berkaitan dengan kemasyarakatan, seperti tata cara merawat jenazah dari memandikan hingga mengkafani. ''Menyenangkan bisa mengikuti kegiatan seperti ini,'' ujar seorang siswa. Kepala MAN I Boyolali, Drs H Cholid Trenggono MPd mengatakan, selama ini bila ada orang yang meninggal, perawatannya menunggu komando Modin atau Kaur Kesra desa. Pasalnya, warga tidak tahu menahu tata cara merawat jenazah dari memandikan, mengkafani hingga memberangkatkan jenazah ke kubur. Bahkan masih ada warga yang merasa takut bila berdekatan dengan mayat. ''Hanya beberapa warga saja yang tahu. Nah, kami ingin agar para siswa juga memiliki ilmu tata cara merawat jenazah, sehingga bila ada keluarga atau tetangganya meninggal bisa segera dirawat sesuai tuntunan agama Islam,'' jelasnya. Tingkatkan Keimanan Kegiatan lain yang digelar adalah bimbingan menjadi pengajar baca Alquran, zikir dan praktik shalat sunah. Diharapkan, dengan beragam pelatihan itu maka para siswa bisa berperan meningkatkan keimanan di tempat tinggal masing- masing. Misalnya, menjadi pembimbing di TPQ. Hal itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad agar senantiasa mengamalkan ilmunya. Sekolah juga mewajibkan bagi siswa yang mampu untuk membayar zakat fitrah melalui sekolah. Selanjutnya, zakat yang terkumpul dibagikan kepada para fakir miskin sekitar sekolah dan sebagian lainnya diserahkan para siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Lewat cara itu, sekaligus melatih para siswa untuk mengembangkan sikap tepa slira dan menolong sesama. ''Kami akui, banyak pula siswa yang kurang mampu. Nah, dengan pembagian zakat fitrah inilah maka para siswa dilatih untuk membantu sesamanya.'' Selama empat hari, para siswa juga melakukan safari Ramadan di Desa Denggungan, Kecamatan Banyudono. ''Di sana, para siswa dan guru pembimbing terlibat langsung dengan masyarakat. Tak hanya semata menggelar pengajian, namun juga membimbing berbagai kegiatan keagamaan dan tata cara membaca Alquran,'' tegasnya. (Joko Murdowo-42) |