| Rabu, 10 Oktober 2007 | SEMARANG |
Pembagian Zakat Diserbu WargaSAMPAI serak suara panitia pembagian zakat yang mengatur, ribuan orang yang berharap memperoleh bagian itu seperti tak mendengar. Mereka terus maju, mendesak dan merangsek. ''Tertib, Bu, tertib. Semuanya duduk. Ngerti antre ra?'' teriak salah seorang panitia. Tapi, lagi-lagi, keinginan untuk memperoleh zakat mengalahkan segalanya. Mereka berebut maju sehingga suasana sangat gaduh dan menyulitkan panitia melaksanakan tugasnya. Begitulah pemandangan di kompleks PT Trika Langgeng Jaya, dealer elpiji beralamat di Jl Barito 24, Semarang Timur, Selasa (9/10). Siang itu, H Triyanto Cahyo Legowo, pemilik perusahaan itu membagikan zakat mal kepada fakir miskin di sekitarnya. Saban tahun, pengusaha yang akrab dipanggil Yoyok itu selalu menunaikan kewajiban zakat serupa, demi membersihkan hartanya. Para ''pencari zakat'' itu, berdatangan dari kampung-kampung sekitar. Antara lain, dari Kampung Krese, Karangtempel, Mataram, Purwodinatan, Bugangan, dan Kampung Jambu. Setiap mustahik (penerima zakat-Red) yang berusia dewasa, baik ibu-ibu atau bapak-bapak, memperoleh uang Rp 12.000, terdiri atas selembar uang Rp 10 ribuan dan dua lembar Rp 1.000-an yang dimasukkan dalam amplop kecil. Sementara anak-anak memperoleh Rp 6.000, berupa selembar uang lima ribuan dan selembar uang seribuan. Pemandangan di Barito itu, sekilas mengingatkan pada adegan ketika Pak Jalal pada sinetron Para Pencari Tuhan, membagikan uang kepada warga kampung. Lihatlah, orang-orang yang berebut memperoleh bagian lebih dulu, dan terkadang menafikkan keberadaan ''pencari zakat'' lainnya. Berapa besaran zakat yang dibagikan itu? ''Kami tidak tahu persis. Yang jelas, setiap orang dewasa mendapat Rp 12.000 dan anak-anak Rp 6.000,'' ujar salah seorang panitia, yang enggan disebut namanya. Sulit Diatur Pembagian zakat dibagi dua tempat, yakni di halaman kantor dan seberang jalan supaya berlangsung lebih tertib. Halaman kantor diperuntukkan bagi ibu dan anak, sedang pembagian di seberang jalan khusus untuk pria. Pada awalnya, pembagian tersebut memang lancar. Namun panitia harus bekerja keras mengendalikan atau mengatur orang-orang yang berebut mendapatkan zakat tersebut. Khusus di bagian pria, panitia sempat ingin menghentikan pembagian. Hal itu lantaran mereka sulit diatur. Mereka berdesak-desakan tanpa mempedulikan anak-anak yang berada di tengah kerumunan. Akibatnya, beberapa anak terperangkap dalam desakan itu terpaksa digotong ke atas truk yang dijadikan tempat pembatas. Rukinah (40) warga Tambakdalam mengakui sudah antre di depan kantor sejak pukul 10.00. Dia mendengar pengusaha gas di Jl Barito tersebut akan membagikan zakat pada tukang becak yang biasa mangkal di daerahnya. ''Saya rela tidak masak hanya untuk antre dan mendapatkan zakat yang dibagikan. Ya, namanya juga usaha untuk menambah dana buat Lebaran,'' katanya. (Budi Winarto, Achiar M Permana-56) |