| Senin, 08 Oktober 2007 | RAGAM |
Pepaya Borobudur (1)Tak Kalah dari Pepaya HawaiiPEPAYA (Carica papaya) termasuk salah satu jenis tanaman tropis yang sudah lama ditanam oleh para petani. Tetapi belum semua dibudidayakan secara baik dan benar. Salah satu masalah yang perlu diperbaiki dari pengusahaan pepaya adalah tidak mantapnya kualitas buah yang dihasilkan. Dalam beberapa diskusi tentang agribisnis buah yang penulis ikuti bersama Direktorat Buah, Ditjen Hortikultura, Deptan, disebutkan bahwa pepaya merupakan buah ''paling aman'' dan tidak punya efek negatif bagi konsumen. Selain mengandung vitamin, pepaya mengandung papain yang berfungsi melancarkan pencernaan. Karena banyak jenis pepaya yang dikembangkan petani, kadang konsumen kecewa dengan kualitas buah yang dibelinya. Akhir-akhir ini muncul pepaya jenis hawaii yang dijual di beberapa swalayan atau toko buah, dengan kualitas seragam. Lagi-lagi kita, Indonesia yang hampir semua lahannya cocok untuk budidaya pepaya dan mempunyai aneka jenis pepaya, dibikin ''malu'' dengan masuknya pepaya impor atau benih pepaya impor, yang sebenarnya kalah lezat ketimbang pepaya borobudur, misalnya. Jika boleh disamakan, pepaya hawaii yang besarnya hampir sama dengan mangga golek rasanya seperti pepaya untuk konsumsi burung ocehan, yang tak laku dipasar. Mungkin konsumen tertarik dengan cara makannya, yang dicontohkan memakai sendok. Yang jelas, untuk hotel atau jamuan pesta, pepaya jenis borobudur yang banyak ditanam di Boyolali, Malang, Bogor, Magelang dan beberapa daerah lain masih paling disukai. Buahnya terasa manis, kenyal, dan berwarna merah tua. Untuk itu, petani perlu menjaga mutunya, agar tak keduluan pengusaha besar mengebunkannya secara modern. Petani perlu memilih bibit yang baik dan seragam, terutama kualitas buahnya. Di pasaran, kualitas buah yang disenangi adalah berbentuk lonjong, daging buah tebal, warna merah tua, rasa manis, struktur buah tak lembek atau tetap kenyal, ukuran sedang (2-3 kg/buah) dan masak pohon. Pohon Induk Pohon induk yang baik harus berumur dua tahun lebih, dan telah beberapa kali panen. Pohon harus merupakan pohon berbunga sempurna-elongata, yang menghasilkan buah berbentuk lonjong. Dari pohon terpilih, pilihlah bunga yang masih kuncup. Bunga itu besar dan tidak ada bunga lain. Biasanya lebih kecil atau sama besar pada satu tangkainya. Kalau ada bunga lain, sebaiknya segera dibuang. Bunga terpilih dikerodong plastik bening, yang diberi lubang ventilasi. Pangkal kerodong ditali dengan pangkal bunga, sehingga tak mudah lepas. Penutupan ini bertujuan agar tidak ada penyerbukan silang dari pohon lain yang biasanya sifatnya berbeda. Kalau bunga membuka, sebaiknya segera diserbuki dengan tepungsari dari pohon itu sendiri yang telah matang. Bunga yang telah diserbuki tetap tertutup plastik kerodong sampai 10 hari. Setelah itu, kerodong boleh dibuka. Buah yang diserbuki diberi tanda dan dijaga agar tidak terserang hama sampai saatnya masak di pohon. (Bersambung-32) -Ir Soekam Parwadi, Kabid Usaha Tani Dinas Pertanian Kabupaten Magelang. |