| Senin, 08 Oktober 2007 | RAGAM |
Karaginan sebagai Bahan Antisembelit
AGAR-agar, atau populer dengan sebutan jeli, makin digemari orang, terutama anak-anak. Tahukah Anda bahwa itu bukanlah agar-agar biasa seperti yang selama ini kita kenal? Menyantap jeli tak apa-apa, tapi nyaris tak ada manfaatnya. Menyebut nama agar-agar, ingatan kita langsung tertuju pada panganan kenyal, bening, dan berwarna-warni. Begitu masuk mulut, teksturnya terasa lembut dan mencair sendiri kalau tak segera ditelan. Begitulah kenikmatan agar-agar. Sebagai kudapan, ia termasuk pangan yang akrab dengan lidah anak-anak. Agar-agar termasuk golongan makanan murah-meriah. Produk ini dijajakan dalam bentuk bervariasi. Ada agar-agar dalam bentuk bubuk yang mesti diolah lagi, ada agar-agar siap seruput dalam wadah kecil, ada pula yang dihidangkan sudah dalam bentuk puding yang mewah. Rasanya pun beragam. Ada agar-agar yang sekadar berasa manis, tak sedikit pula yang mengandung rasa kecut bak perasan air jeruk. Bahkan ada yang terasa legit, lantaran kaya santan atau susu. Biar pun beragam bentuk, wujud, dan harganya, orang umumnya yakin bahwa semua agar-agar sama. Padahal, kalau dicermati, ada perbedaan menyolok antara beberapa jenis agar-agar tersebut. Artinya, tak semua sungguh-sungguh merupakan agar-agar. Sebagian di antaranya merupakan karaginan (carragenaan). Coba periksa tabel komposisi pada jajanan ''agar-agar'' yang populer dengan sebutan jeli. Hampir pasti di sana tertulis karaginan sebagai salah satu bahan pembuatnya. Apa itu karaginan? Menurut Lanita S Soebagio, konsultan makanan dan nutrisi, karaginan adalah sekelompok polisakarida kompleks. Ia berasal dari daerah yang sama dengan agar-agar, yakni rumput laut. Bedanya, kalau kebanyakan agar-agar diperoleh dari rumput laut jenis Gracilaria dan Gelidium, karaginan berasal dari ekstraksi ganggang laut merah dari jenis Eucheuma. Tanpa Gizi Lezat, sih. Sayangnya zonder gizi. Meski serupa, sebenarnya ada perbedaan antara makanan yang terbuat dari agar-agar dan karaginan. Coba taruh agar-agar di luar lemari es yang bersuhu hangat. Tak begitu lama, agar-agar akan lebih cair, bahkan mencair seluruhnya. Bandingkan dengan jeli yang dijajakan di warung-warung tak ber-AC, tetap saja kenyal kendati berhari-hari berada pada suhu ruangan biasa. Karaginan memang lebih tahan terhadap suhu panas. Jika lidah dan mulut kita telaten mencermati tekstur makanan, perbedaan antara agar-agar dan karaginan bakal terasa saat di mulut. Agar-agar nyaris tak bisa diemut karena lama-lama cair. Tapi karaginan bakal tahan dikulum lama tanpa menjadi lumer. Coba tekan gumpalan agar-agar ke langit-langit, tanpa upaya keras pasti dia akan pecah. Tidak begitu dengan jeli. Tanpa menggigitnya, kita tak gampang memecahkannya di dalam mulut. Lantaran sifatnya yang lebih tahan banting itulah, karaginan lebih populer di kalangan industri makanan. Bukan cuma sebagai bahan pokok pembuatan jajanan semacam jeli, karaginan juga menjadi bahan tambahan makanan lain. Untuk mencampur cokelat dan susu sehingga menjadi susu cokelat, misalnya, karaginan bisa dicampurkan agar campuran kedua bahan itu awet. Itu sekadar contoh. Bahan Kosmetik Sejatinya karaginan banyak terpakai sebagai zat tambahan untuk berbagai jenis bahan makanan seperti es krim, keju, permen, jeli, susu cokelat, jamu, saus, puding, dodol, mayonaise, nuget, dan sosis. Kekenyalan karaginan juga banyak dimanfaatkan orang sebagai campuran produk-produk di luar makanan, seperti pencampur produk kosmetik, salep, krim, pasta gigi, tonic penyubur rambut, hingga sabun mandi. Industri tekstil, cat, obat-obatan, hingga pakan ternak juga banyak memanfaatkan karaginan di bidang industri. Tapi bagaimana tubuh kita? Sayang sekali tak banyak yang bisa kita petik dari zat ini. Bukan zat berbahaya, tapi karaginan nyaris tak punya manfaat gizi apa pun, selain memberi volume pada feses. Maksudnya, agar kita bisa buang air besar, tentu yang kita buang harus memiliki volume cukup. Kalau tidak, kita akan sembelit alias sulit buang air. Nah, di sini karaginan bisa bermanfaat menambah volume, tanpa ada risiko penambahan kalori. Itu sebabnya tak jadi masalah kalau Anda tak suka makan jeli. Kalau pun produsen jeli mengklaim produk mereka mengandung vitamin atau mineral, itu bukan berasal dari karaginannya, tapi dari bahan-bahan tambahannya. (32) -Susiana Purwantisari, dosen Jurusan Biologi FMIPA Undip. |