logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 08 Oktober 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Idul Fitri

Bulan padat beribadat telah meninggalkan kita. Bulan penempaan diri telah berlalu. Bulan yang suci telah meninggalkan kita. Bulan Ramadan yang penuh hikmah dan berkah serta ampunan telah berganti. Yang jadi pertanyaan, apa yang kita dapatkan dari pelaksanaan bulan suci tersebut. Apa yang membekas dalam nurani kita dan bagaimana sikap/perilaku setelah bulan tersebut bisa dilalui.

Yang penting yaitu apakah kita telah membentuk diri menjadi insan bertaqwa, seperti tujuan Allah menurunkan bulan Ramadan. Masing-masing dapat bercermin diri sehingga secara hakiki melihat sejauh mana sikap serta perilaku kita setelah sebulan menjalani "training". Diharapkan setelah bulan puasa ini ada perubahan terutama untuk 11 bulan ke depan lagi.

Kita masih memprihatinkan pekonomian, politik dan perkembangan sosial di negeri ini. Bencana masih kerap datang, keributan baik di elite maupun di tingkat bawah selalu muncul. Masing-masing dari persoalan itu mempunyai misi serta tujuan tertentu.

Pada saat masih terlanda situasi yang kurang menguntungkan rasanya semua patut menahan diri menjaga emosi agar tidak terpancing oleh pihak yang akan memanfaatkan. Semua dikembalikan pada Dzat yang maha tinggi. Hanya iman yang kuatlah sebagai benteng untuk mem-protectdiri.

Idul Fitri tidak identik dengan hura-hura dan kesenangan semu. Juga tidak sama dengan penghamburan uang serta pemuasan nafsu duniawi. Idul Fitri merupakan penutup dari seluruh rangkaian kegiatan ibadah bulan Ramadan, sebagai perlambang pada hari itu kaum muslimin telah berhasil memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu.

Maka sepantasnya kaum muslimin menyambutnya dengan suka cita untuk merayakannya dengan keinginan kuat untuk selalu memelihara kebersihan fitrahnya di hari-hari selanjutnya. Selamat Idul Fitri 1428 H.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal

Sinden Kulit Putih

Tayangan wayang kulit TVRI awal bulan ini sungguh membuat saya tidak mengantuk, sebab mata terus membelalak memperhatikan gerakan wayang, penabuh dan para sinden. Ternyata ada sinden yang berasal dari Eropa. Dia tampak anggun nJawani pakai kebaya rapi, sanggul indah dan cantik.

Dia berkesempatan dialog dengan dalang bahkan dengan beberapa menteri yang hadir antara lain menteri Tenaga Kerja, direktur BTN, menteri Perumahan Rakyat. Dia menggunakan bahasa Jawa. Ucapan sinden asing tersebut sungguh luwes, tak ada yang salah dengan bahasa kromo inggil yaitu bahasa Jawa halus yang biasa disampaikan kepada para sesepuh, orang tua di kalangan etnis Jawa.

Pernah ada TV swasta yang menayangkan gamelan yang ditabuh oleh orang kulit putih semua, baik di Universitas Australia, Amerika seperti di California, Atlanta, Texas dan lainnya. Tetapi belum pernah saya melihat tayangan serupa dari universitas di Indonesia, baik dari Jawa maupun dari suku lain seperti Sunda, Madura, Padang, Batak, Ambon, Papua.

Rasanya wajib para mahasiwa saling mempelajari budaya antarsuku satu dengan lainnya. Para mahasiswa kulit putih saja berminat, mengapa mahasiswa kita kok tidak. Aneh kan. Dengan saling mengenal budaya masing masing, maka akan tumbuh rasa nasionalisme. Masalah ini tidak hanya ditumbuhkan dari unsur politik saja tetapi dari unsur seni dan budaya.

Kita sudah merdeka 62 tahun, berbuat apa saja boleh demi cita-cita dan demi Pancasila. Saya ingat ungkapan rekan Pejuang Kemerdekaan yang sudah purna Letkol (prn) B Purnomo : Freedem, we 1945, Freedom fighters and revolutionaries, defenders of Pancasila. Will we die, we just fade away, but our beat still goes on and on and our spirit will never stop.

Mahasiswa adalah calon penerus pemimpin bangsa, penerus pembangun negara dan penerus pemelihara negara dan bangsa sampai dengan dunia kiamat. Semoga disadari oleh para mahasiwa kita.

Moeljono HP

Jl BantengUtara VII/1, Semarang

***

Kapitalisme dan

Liberalisme

Dari beberapa tulisan yang saya ikuti, umumnya masyarakat begitu anti terhadap paham kapitalisme dan liberalisme. Namun sayangnya, banyak di antara mereka yang hanya waton suloyo atau asal mengecam. Benarkah kapitalisme dan liberalisme adalah paham yang jahat?

Mengapa Amerika yang menggunakan paham tersebut justru bisa menyejahterakan rakyatnya dan mampu mengantarkan menjadi negara adidaya?. Adalah fakta, demokratisasi, globalisasi, kesetaraan jender dan HAM merupakan anak kandung dari liberalisme. Sangat naif jika kita menerjemahkan liberalisme sebagai "kebebasan tanpa batas".

Sepengetahuan saya, justru liberalisme lebih menitikberatkan pada "prilaku yang bertanggung jawab" berdasarkan hak dan kewajiban seseorang yang dijamin oleh negara. Kebebasan tanpa batas identik dengan anarkisme, padahal anarkisme bukanlah produk dari liberalisme. Lalu apa yang salah sehingga kita memusuhi paham tersebut.

Memang benar, dampak negatif dari paham ini akan melahirkan imperialisme dan penindasan terhadap golongan yang lemah. Karenanya konon di Amerika, banyak UU yang melarang monopoli, oligopoli dan UU antitrust. Para buruh dijamin dengan upah yang layak untuk hidup, bukan standar upah minimum yang sekadar bisa hidup.

Yang kaya wajib menyubsidi ke yang miskin dengan penetapan pajak progresif. Kapitalisme dan liberalisme "liar" memang sangat berbahaya bagi orang miskin dan bodoh. Sebab, secara alamiah jika kehidupan dipasrahkan "hukum besi" paham tersebut maka akan terjadi penghisapan yang luar biasa dari pemodal terhadap para buruh.

Akibatnya yang miskin tambah miskin sedang yang kaya makin berlipat ganda kekayaannya. Agar tidak bergerak liar dan jahat, kapitalisme dan liberalisme harus dipagari hukum yang ketat. Tetapi jika pemerintah lemah dan tidak tegas dalam penegakan hukum dan keadilan maka sungguh berat kesalahan pemerintah.

Sebab, negara yang lemah adalah "santapan empuk" bagi para pemilik modal untuk menggarong kekayaan negara dan memeras masyarakatnya melalui berbagai macam kebijakan di bidang perburuhan. Negara yang lemah akan menjadi bulan-bulanan permainan para kapitalis dunia (perusahaan transnasional). Rakyatnya dibiarkan telantar, antre sembako, minyak tanah, sekolah mahal dan sebagainya. Inilah mestinya yang perlu kita sesalkan mengapa hal ini terjadi di negara kita.

Suprayitno

Jl Tlogomukti Tmr I/878, Semarang

***

Semangka Cikepur

Ada orang bilang belimbing Demak, durian Jepara, kelengkeng dan rambutan Salaman, salak Banjar, apel Malang, jeruk Bali dan lainnya. Nama buah dan dari daerah mana sudah lama dikenal. Namun yang satu ini yakni buah semangka di daerah sepanjang pantai pesisir Urut Sewu atau sepanjang Jl Daendels dari Purworejo hingga Kebumen belum punya nama khas.

Satu usulan, bila jalan lintas selatan-selatan yang menghubungkan antara Cilacap, Kebumen dan Purworejo, sampai ke perbatasan Provinsi DIY diberi nama jalan Cikepur (jalan yang menghubungkan antara Cilacap-Kebumen-dan Purworejo). Maka alangkah baiknya kalau nama buah asli daerah ini diberi nama semangka Cikepur atau semangka asli daerah Kabupaten Kebumen, Purworejo dan Cilacap.

Semoga semangka ini bisa membawa popularitas nama daerah, nama jalan atau penghasil buah semangka yang mampu bersaing dalam dunia agrobisnis. Mari bangkitkan kembali kejayaan masa silam Kebumen sebagai lumbung padi, penghasil bahan emping (mlinjo), sebagai daerah penghasil lombok (cabe) serta daerah nyiur melambai (penghasil kelapa), buah bengkoang, dan sebagainya.

Bagaimana pun, Kebumen bisa dikatakan daerah yang subur dan serba ada, tinggal bagaimana petani khususnya memanfaatkan lahan secara optimal atas segala sesuatu yang bertalian dengan olah pertaniannya.

Ambijo

Jl HM Sarbini 40, Kebumen

***

Jamaah Haji Hamil

"Maaf ibu hamil, jadi harus membatalkan keberangkatan ke Tanah Suci. Tapi menurut pembimbing haji Depag, kalau hamilnya baru usia 14 s.d 26 minggu bisa berangkat. Memang dari usia kehamilan boleh tetapi harus divaksin meningitis. Kalau sebelum hamil telah divaksin meningitis bisa berangkat", kata petugas.

"Mana saya tahu tentang vaksin itu, mestinya harus ada anjuran dari Puskesmas jangan ketika terjadi baru ngomong", jawab ibu hamil tadi "Silakan saja, intinya saya tidak merekomendasi tes kesehatan", jawab petugas. Sepenggal dialog tersebut merupakan gambaran kekecewaan yang sebetulnya bisa memberikan kemungkinan untuk menjembatani terkait dengan kehamilan yang berdampak pada batalnya keberangkatan ibadah haji.

Tulisan ini tidak berniat menyinggung atau menyalahkan instansi tertentu, namun mungkin bisa jadi pertimbangan dalam pelaksanaan ibadah haji mengingat kasus itu tiap tahun terjadi. Sebagai muslim menunaikan ibadah haji adalah cita-cita luar biasa sebagai upaya menyempurnakan rukun Islam yang terakhir.

Upaya tersebut tentu hasil dari niat dan kepahaman agama atas seorang muslim. Namun terkadang, kegagalan terjadi karena hamil atau birokrasi. Apakah yang salah birokrasi hajinya, ibu yang hamil, sistem komunikasi atau SDM pelaksananya. Saya tidak akan menunjukkan siapa yang salah.

Birokrasi memang harus ada sebagai regulator tata laksana pelaksanaan haji. Begitu juga ibu hamil, itu karunia Allah. Terkait dengan batal atau tertundanya ibadah haji karena hamil, kita bisa merujuk pada SKB Menag dan Menkes tahun 2000. Isinya, khusus wanita yang usia kehamilannya 14 s.d 26 minggu diizinkan berangkat, asal telah mendapatkan suntikan vaksin meningitis.

Nah, di sinilah paradoksnya. Di satu sisi aturan membolehkan tapi di sisi lain ada syaratnya. Ionisnya, syarat terakhir tak mungkin diterobos karena dari Pemerintah Saudi Arabia dan berlaku secara internasional. Saya tahu karena meng-email Kedutaan Besar Saudi Arabia di Kanada dan menanyakan perihal ini serta kemungkinan ada rekomendasi yang bisa ditempuh.

Usaha saya pun kandas. Tanpa patah semangat, saya konsultasi dengan dokter kandungan Depag dan pembimbing haji yang membolehkan dalam usia seperti di SKB tersebut. Hampir setiap hari buka internet cari informasi. Dari internet ada ada info yang hamil bisa pergi dan ada yang menyatakan batal. Saya punya ide konstruktif tanpa menyalahi aturan Depag, Menkes dan MUI sbb:

Berikan info jelas tentang meningitis menokokus kepada calon jamaah saat tes kesehatan pertama di Puskesmas yang ditunjuk. Beri anjuran kepada wanita usia subur melakukan vaksinasi meningitis awal, tentu setelah dinyatakan tidak hamil dan KB bagi yang meyakini sebab menurut info, daya vaksinasi itu sampai dua tahun.

Sehingga bila terjadi kehamilan dalam usia seperti SKB tersebut dan hasil tes kesehatannya baik maka bisa berangkat. Juga bila sudah tahu aturan ternyata tidak lolos syarat bisa ridha dan berjiwa besar. Depag dan Depkes harus satu kata asertif standar boleh atau tidak. Jangan Depag boleh, Depkes tidak dan perlu mengomunikasikan sama ke pengelola KBIH.

Saya tidak setuju bila wanita hamil yang kesehatannya prima dianggap mengganggu/membebani jamaah yang lain, karena banyak juga orang sakit dan renta bahkan memerlukan bantuan lebih ketika berhaji. Sudahkah ada data tentang masalah ini atau pengelola yang tidak mau direpotkan.

Brokrasi memang harus ada dan dijunjung tinggi, namun bila menghambat umat melakukan proses ibadah tanpa solusi nyata,tentu bisa dikatakan kedzoliman. Wanita hamil, tidak masuk dalam rukun dan larangan haji. Semua datangnya dari Allah, dan hanya kepada-Nya pulalah kita akan kembali.

Hary Sumarsono

Karangasem RT 4/RW 3 Laweyan, Surakarta

***

Freedom Fighters

dan Freedom Writers

Wajah-wajah sepuh itu muncul. Menjelang peringatan hari Kemerdekaan RI, media tak jarang memunculkan foto para Veteran Pejuang (freedom fighters) Kemerdekaan 1945. Sebuah harian memajang foto para Veteran sedang mengikuti upacara memperingati Serangan Umum 4 Hari Kota Solo,di stadion Sriwedari.

Seperti hukum alam, jumlah mereka akan makin surut dari tahun ke tahun. Sebagai generasi muda, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?. Dalam acara yang sama harian itu juga melaporkan arak-arakan, seni happening yang dilakukan pelajar dan guru dengan tema mengenang perjuangan para Veteran dan diakhiri dengan tabur bunga di makam pahlawan.

Acara yang positif. Alangkah baiknya bila hura-hura itu juga diikuti aktivitas yang bernuansakan intelektual. Misal pelajar berkunjung ke rumah para Veteran Pejuang untuk merekam kisah-kisah pribadinya di masa perjuangan. Dengan arahan guru PKN, himpunan tulisan itu dapat diterbitkan dalam bentuk blog atau buku.

Erin Gruwell, guru bahasa Inggris SMA Woodrow Wilson di Long Beach California, dapat dijadikan inspirasi. Dia mengajak para muridnya memahami duka derita, kesusahan atau kepedihan yang mereka rasakan dengan cara menulis di buku harian tentang uneg-uneg yang mereka alami terkait kesulitan hidup serta kemudian mendiskusikan.

Di SMA ini muridnya ibarat anak buangan karena terdiri dari keturunan kulit hitam, Latin, Asia dan kulit putih yang tidak akur. Mereka membentuk gang. Di kantong celana mereka hanya ada dua benda yaitu pistol atau heroin. Sekolah ini hanya pantas disebut sebagai gudang, tempat para remaja siap-siap kena DO atau terbunuh oleh murid lainnya.

Namun karya tulis mereka itu kemudian terhimpun dalam buku The Freedom Writers Diary, diterbitkan tahun 1999 dan menjadi film dengan judul Freedom Writers (2007). Dengan diawali aktivitas menulis, anak-anak buangan itu memperoleh wawasan baru dalam menata hidupnya menjadi tebih optimistis, berhasil dan bermakna.

Bambang Haryanto (EI/081329306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Dana SBI di BI

Presiden prihatin banyaknya dana pemda diparkir sebagai SBI di BI yang jumlahnya mencapai puluhan triliun rupiah yang berakibat sebagai penghambat laju perekonomian daerah. Di harian ini, saya beberapa waktu lalu juga menulis banyaknya bankir kita yang pintar tapi mbodoni, memarkir dananya buat beli SBI walau bunganya sedikit tapi risikonya kecil.

Mereka berkesan malas dan tidak berani ambil risiko, jauh beda dengan peraih nobel, Pak Muhammmad Yunus dari Bangladesh. Sebenarnya kalau mau, ada contoh kecil dan sepele yang menguntungkan. Dana Rp. 4 miliar itu bisa untuk beli 1.000 ekor sapi yang dalam 4 bulan bisa untung 10 % lebih. Sapi seharga Rp 4 juta bisa laku Rp 5 juta dalam tempo 4 bulan.

Kalau digaduhkan peternak bisa hasilnya fifty - fifty atau pemodal dapat Rp 500.000 dalam 4 bulan. Itu sudah lebih dari 10 % atau sebulan dapat 2,5 %. Sementara itu Bupati Wonogiri gedandapan cari dana talangan untuk ekspor chip singkong ke China. Dananya cukup besar tapi untungnya juga besar. Langkah ini positif, dapat mendulang devisa dan pengangguran terbantu. Mestinya bank di daerah berpikir daripada beli SBI.

H Erlangga Chandra (EI)

Bendan RT 8/RW 2, Banyudono

***

Bangkitnya Umat Islam

Di saat orang diselimuti kesibukannya, tidak terasa telah kembali ke bulan Ramadan. Di sini biasanya umat yang beriman akan lebih tampak kebangkitannya, mengingat dan berbakti kepada Allah. Bulan Ramadan mewajibkan umat Islam melaksanakan puasa bagi yang telah dewasa, sehat fisik/rohani.

Dalam situasi apa pun wajib dilaksanakan. Bagi yang diberi dispensi, tentu tidak terus gratis tetapi mereka wajib mengganti puasa dengan membayar fidyah atau mengqadha di lain waktu sesudah Ramadan. Simak umat yang bermacam coraknya. Ada yang kalem, sibuk dan ada juga yang ramai mengadakan perang. Tidak ketinggalan juga umat yang mengalami kelaparan, bersitegang soal politik dan lainnya.

Namun demikian, umat tetap gigih dalam melakukan Ibadah puasanya, mengingat tujuannya membuat umat menjadi taqwa. Umat beriman tidak memerdulikan situasi apa pun tetap berpuasa. Ramadan, bangkitkan kami dari kegelapan, bangkitkan ke alam terang benderang yang sejalur dengan garismu. Limpahkan rahmat -Mu. Semoga mereka kuasa sampai akhir nanti.

Amar Makruf

Purwogondo, Kalinyamat, Jepara


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA