| Senin, 08 Oktober 2007 | WACANA |
Undip sebagai Pusat Studi Unggulan
IMBAUAN Prof. Satjipto Rahardjo untuk menjadikan Undip pusat studi unggulan tertentu sungguh tepat. Setelah setengah abad malang melintang menyelenggarakan, pendidikan tinggi negeri yang pertama di Jawa Tengah dalam berbagai cabang ilmu, baik ilmu-ilmu terapan (applied sciences), ilmu-ilmu murni (pure sciences), ilmu-ilmu sosial (social sciences), maupun ilmu-ilmu budaya (culture sciences) mulai pendidikan strata I (sarjana), strata 2 (magister) hingga strata 3 (doktor), sudah saatnya universitas ini mengembangkan bidang keilmuan atau cabang-cabang keilmuan tertentu yang spesifik, yang menjadi trademark-nya Undip, baik di tingkat nasional, regional, maupun internasional. Dengan kata lain Undip dapat menjadi sebuah Centers of Excellence(pusat keunggulan) untuk mengembangkan studi cabang ilmu-ilmu tertentu, yang akan menjadi rujukan ke mana orang akan belajar dalam cabang ilmu tersebut, karena disana terdapat ahli-ahlinya yang piawai dari "aliran" tertentu, yang memiliki banyak literatur mutakhir dan progresif, memiliki sistem pendidikan yang mengikuti perkembangan mo-dern, menghasilkan tesis dan disertasi berupa temuan baru yang menantang bagi perkembangan masyakarat dan peningkatan martabat manusia. Sebagai universitas yang ingin menjadi research university, sudah selayaknya Undip semakin meningkatkan kegiatan risetnya, sehingga menghasilkan penelitian unggulan, baik bertaraf nasional maupun internasional, guna memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dunia, maupun untuk diimplementasikan bagi kesejahteraan umat manusia. Dalam rangka pengembangan riset ini seyogianya mulai diarahkan kepada bidang bidang tertentu yang akan atau sudah menjadi spesialisasinya yang dipilih oleh fakultas, jurusan/program studi sebagai excellence atau keunggulannya. Tentunya dengan mengingat keahlian sumberdaya manusianya serta ketersediaan sarana dan parasarananya, yang secara bertahap dapat terus ditingkatkan. Dengan demikian akan menghasilkan produk-produk unggulan yang semakin menjadi keahlian dan andalan Undip. Pada gilirannya keahlian yang menjadi andalan ini akan menjadi pusat rujukan dan pusat konsultasi dari berbagai pihak yang membutuhkan. Baik pemerintah sebagai pemegang kebijakan, masyarakat umum, maupun pihak luar negeri yang menginginkan kerjasama di bidang-bidang tertentu tersebut. Langkah awal Dengan mengacu kepada cita-cita mengembangkan sebuah keunggulan, jurusan Sejarah Fakultas Sastra Undip telah memilih salah satu bidang kajian yaitu sejarah dan budaya maritim (bahari). Pilihan ini diilhami oleh Pola Ilmiah Pokok (PIP) Undip yang pernah dirintis sejak tahun 1976 dan dicanangkan tahun 1978, yaitu pengembangan lingkungan wilayah pantai. (Seperempat Abad Undip, 1981) sebagai arah orientasi penelitian dan pengabdian masyarakat. Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa Undip terletak di wilayah pesisir yang mempunyai masalah sosial ekonomi, budaya dan teknologi yang khas, yang memerlukan penanganan bagi kesejahteraan masyarakatnya, serta pemanfaatan potensi kekayaan laut dan pantai (Buku Pedoman Undip, 1989). Orientasi kepada sejarah maritim ini dianggap tepat karena beberapa alasan. Pertama, penulisan sejarah Indonesia sudah sangat berkembang, tetapi sebagian besar masih berorientasi ke "darat". Padahal Indonesia adalah negara laut terbesar di dunia yang ditaburi ribuan pulau, sehingga aktivitas kemaritiman adalah sebuah keniscayaan yang mesti ditampilkan. Kedua, sumberdaya wilayah lautan dan pesisir sangat berlimpah, namun belum banyak digali dan dimanfaatkan oleh/untuk bangsa sendiri. Ketiga, dalam sejarahnya kerajaan Nusantara yang besar dan kaya adalah kerajaan maritim (Sriwijaya, Aceh, Demak, Goa-Makasar dll). Bahkan Majapahit memadukan potensi darat (pertanian) dan laut (pelayaran dan perdagangan) hingga menjadi imperium yang diakui seantero Nusantara. Keempat, budaya maritim dan pesisiran yang pernah membawa kejayaan Nusantara semakin menghilang. Ini perlu digali kembali guna memperkaya identitas sebagai bangsa. Untuk menuju unggulan ini diperlukan persiapan secara bertahap, agar pengembangan studi mempunyai arah yang jelas. Pertama, pendidikan S2 dan S3 bagi para dosen yang diarahkan kepada studi sejarah dan budaya maritim. Namun perlu diingat bahwa jurusan atau program studi perlu tetap memberikan pendidikan yang bersifat umum sesuai dengan kurikulum baku jurusan. Kedua, menyempurnakan kurikulum sesuai dengan kebutuhan studi unggulan. Ketiga, membangun jaringan kerjasama dan komunikasi ilmiah dengan berbagai pihak yang berkaitan dengan kemaritiman/kelautan, baik lembaga-lembaga pendidikan clan lembaga riset ( di dalam dan di luar negeri), maupun berbagai lembaga dan instansi lain yang relevan. Hingga saat ini proses menuju spesialisasi sejarah dan budaya maritim sebagai unggulan terus berjalan, meski perlahan dan bertahap. Baru menghasilkan beberapa doktor dan disertasi mengenai sejarah maritim, mendirikan Pusat Studi Sejarah dan Budaya Maritim Asia Tenggara, dan mendirikan Magister Ilmu Sejarah dengan sejarah maritim sebagai salah satu spesialisasinya. Pola Ilmiah Pokok Universitas sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi, pengembangan ilmu, dan pengembangan kebudayaan memiliki otonomi keilmuan yang besar. Maka diharapkan tumbuhnya dinamika pada masing-masing unit (fakultas) dan sub unit (jurusan/program studi) agar terus mengembangkan keilmuan yang dipegangnya. Sangat bisa dipahami apabila berkembangan itu sesuai dengan minat, perhatian, dan kepekaan para dosen-cendekiawan dalam menangkap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Apabila misalnya fakultas Hukum mengembangkan studi hukum progresif, Fakultas Psikologi mengembangkan Ilmu Psikologi Jawa sebagai psikologi alternatif, adalah karena hal-hal itulah yang dirasakan sebagai sebuah keprihatinan dan kebutuhan masyarakat. Dalam hal ini kiranya tidak perlu pengembangan studi tersebut dikait-kaitkan atau dicocokkan dengan Pola Ilmiah Pokok (PIP) Undip(bila masih digunakan). PIP kiranya sangat baik untuk memberikan "warna keahlian yang khas" bagi sebuah universitas dalam sebuah "wilayah studi" tertentu, dalam kasus Undip adalah wilayah pantai dan kelautan, sehingga ia menjadi Center of Excellence dalam penelitian di wilayah tersebut. Dengan demikian PIP akan memberikan arahan bagi cabang-cabang ilmu yang dapat meneliti di area tersebut, seperti ilmu perikanan, ilmu kelautan, ilmu-ilmu sastra, sejarah, antropologi, ekonomi, teknik, kesehatan, dll. Penelitian-penelitian dapat bersifat monodispliner (meneliti dengan cabang ilmunya sendiri), dapat pula bersifat multidisipliner (satu wilayah diteliti dari berbagai aspek dengan ilmu yang sesuai untuk meneliti aspek-aspek tersebut). Sudah tentu berbagai cabang ilmu yang lain yang tidak relevan dengan wilayah studi tersebut tidak perlu mengikuti penelitian. Mereka dapat mengembangkan keunggulan ilmunya sendiri, sehingga kelak akan tercipta banyak Centers of Excellence, baik yang monodisiplin, maupun yang multidisiplin. PIP dapat pula ditinjau kembali setelah satu kurun waktu, untuk kemudian diganti dengan PIP yang baru, sesuai dengan perkembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat. Sudah banyak ilmuan, sudah banyak produk pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, tinggal mewujudkan, membina, mengembangkan keunggulan demi kepentingan masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Selamat berulang tahun Emas (11) - AM Djuliati Suroyo,ketua Program Studi Magister Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro |