logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 08 Oktober 2007 SEMARANG
Line

Jemuna, Makanan Khas Suruh saat Ramadan

GURIH dan manis, itulah rasa yang bisa dikatakan dari Jemuna. Ya, makanan khas Desa Suruh Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang ini, tidak bisa sewaktu-waktu dijumpai dan didapatkan di pasar. Pasalnya, makanan kas ini hanya dibuat dan dijual setahun sekali setiap bulan Ramadan.

Bagi orang luar daerah, tentunya akan bertanya-tanya seperti apakah makanan jemuna itu. Nama dari sebuah makanan yang terbuat dari 100 persen ketela pohon tersebut, terdengar asing bagi mereka yang belum pernah melihat dan merasakan makanan tersebut.

Menurut penuturan Rochimah (61), warga RT 3 RW 1 Dusun Karangasem Desa Suruh, pada mulanya jemuna merupakan makanan tradisional dengan bahan dari ketan. ''Karena sudah biasa, saya mencoba mencari kreasi sendiri membuat jemuna dari bahan ketela pohon,'' ungkapnya. Diakuinya, makanan buatannya tersebut selalu diserbu pembeli baik dari warga setempat maupun dari luar desa. Bahkan karena takut kehabisan, beberapa pembeli sudah ada yang memesan sebelum makanan tersebut dibuat. ''Setiap hari saya hanya menjual sebanyak 15 kilogram saja. Itupun dalam satu jam langsung terjual habis,'' ungkap Rochimah, satu-satunya wanita yang menjual jemuna di Suruh.

Diiris

Rochimah menerangkan, jemuna terbuat dari ketela pohon yang dikukus selama kurang lebih 1,5 jam dengan menggunakan kayu bakar. Setelah matang, ketela diberi garam secukupnya dan ditumbuk sampai halus dengan alu selama 10 menit, yang kemudian dicetak diatas loyang dalam bentuk lingkaran. ''Dalam sehari saya membutuhkan 15 kilogram ketela pohon, lima buah kelapa, dan dua kilogram gula jawa dengan pengeluaran sekitar Rp 45 ribu,'' katanya sambil menumbuk ketela.

Lebih lanjut dikatakannya, makanan tersebut tidak dijual di pasar melainkan di depan teras rumahnya setiap pukul 16.00-18.00. Untuk penyajiaannya pun tergolong sederhana yakni jemuna diiris tipis-tipis kemudian ditaburi parutan kelapa dan diberi kincau (pemanis cair dari gula jawa). ''Setiap porsi kecil saya jual Rp 500 sedangkan porsi besar Rp 1000,'' kata Rochimah yang sudah 20 tahun lebih berjualan makanan tersebut. Dijelaskannya, yang membeli makanan itu kebanyakan justru dari luar daerah. Menjelang buka puasa, mereka sudah datang dan menyerbu makanan itu, yang menurut penuturannya juga bagus bagi penderita maag.

Menurutnya, jemuna hanya ia jual pada saat umat muslim menjalankan ibadah puasa. Sebab, pada hari-hari biasa, makanan tersebut justru kurang laku. ''Pada hari biasa saya hanya menjual dodol dan makanan tradisional lain,'' ungkapnya. (Leonardo Agung B-)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA