| Senin, 08 Oktober 2007 | SEMARANG |
Survei Iklim Bisnis Perlu untuk InvestasiPENGEMBANGAN usaha memerlukan pemetaan bisnis yang bisa menjadi panduan para investor maupun pemegang kebijakan. Adanya survei iklim bisnis yang digagas Suara Merdeka Group, Bank Indonesia, Kadin Jateng, dan GTZ, diharapkan mengatasi kesulitan informasi bisnis di Jateng. Ketua Umum Kadin Jateng, Solichedi, memaparkan daerah ini sekarang diperhitungkan sebagai daerah yang probisnis. Adanya survei iklim bisnis yang berupaya memetakan kondisi usaha secara total di Jateng, setidaknya mampu menjadi indikator untuk berinvestasi. Apalagi penilaian World Bank terhadap posisi bisnis Indonesia yang menempati peringkat ke-134 hanya menguji pada Jakarta, Tangerang, dan Bekasi. ''Bagi orang Jateng, tentu kita gerah,'' katanya dalam Obrolan Sahur Ramadan yang disiarkan langsung Radio Suara Sakti dari lobi Hotel Ciputra Minggu (7/10). Dalam acara yang dipandu Adi Ekopriyono itu, Solichedi menjelaskan dari infrastruktur investasi, dimulai dari pengembangan layanan sistem One Stop Service (OSS) bisa memacu kebiajakan yang kompetitif. OSS saat ini sudah diimplementasikan di 35 kabuaten/kota. Perlu dipahami pelayanan satu pintu hanyalah salah satu indikator penentu perbaikan layanan perizinan, walau itu bukan segalanya. Selama ini, Kadin bersama dengan BPM mengekspos daerah-daerah yang berpotensi. Kaitannya dengan daya saing antarkota saat ini, menurut Solichedi sudah terjebak dalam ekonomi pasar. Karena itu seharusnya kompetisi antarkota dibudayakan. Daripada harus mengomentari daya saing dengan negara lain, lebih baik daya saing antarkota ditingkatkan. Bisa jadi antara Kudus dan Sragen memiliki perbedaan dalam kebijakan ekonominya. Begitu pula dengan kota-kota lainnya. Meski hasil survei iklim bisnis ini berupa data statistik, menurutnya, sangat perlu dipublikasikan. " Diharapkan adanya survei iklim bisnis bermanfaat untuk panduan para investor,'' katanya. (Moh Anhar-18) |