logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 08 Oktober 2007 SEMARANG
Line

NGENTENI DHUL

''Mbatik'' sembari Menunggu Buka Puasa

SELAMA, awal hingga memasuki minggu terakhir bulan Ramadan tahun ini, ibu-ibu dan remaja putri RW 3 Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, punya kesibukan baru. Sedari pukul 09.00 hingga pukul 16.00, aktivitas mereka saban hari hanyalah melatih kesabaran.

Kesabaran? Ya, sabar belajar mbatik, maksudnya. Selama hampir tiga minggu itu pula para ibu rumah tangga dan remaja putri terlihat begitu antusias dan ngiwut belajar nyanting. Kalau dihitung-hitung ada sekitar 12 orang yang belajar ilmu batik. Penuh kesabaran dan ketelatenan mereka ngangsu ilmu bersama-sama. Kalau sudah nyanting, segala tetek bengek urusan persiapan Lebaran bisa lupa. Bahkan, kesibukan ngurus rumah bisa ditanggalkan untuk sementara waktu.

"Mengisi kesibukan sambil menunggu buka puasa. Daripada di rumah tidak ngapa-ngapain, mending ada kegiatan positif dan kreatif. Awalnya iseng-iseng ee.. sekarang jadi keterusan," ungkap Puji Lesatri (30), warga RT 5 sembari mengulas senyum, Sabtu (6/10) sore.

Lain lagi pengakuan Retno Wulandari (18), warga RT 1 yang mengaku tertarik mbatik karena suka seninya nyanting dan berihtiar melestarikan budaya jawa. "Makanya begitu dengar ada kegiatan belajar membatik, saya langsung ikut. Saya memang suka dengan yang berbau kesenian," kata Retno yang mengaku sebelumnya tak pernah mengenal ilmu batik sama sekali.

Lantas dari mana kegemaran ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri itu tiba-tiba muncul? Adalah Hj Suci Yulianti Spd MM (50), tokoh masyarakat setempat yang menyebarkan "virus" mbatik di kalangan ibu-ibu dan remaja sekitar tempat tinggalnya. Kebetulan, Ketua Tiara Kusuma Kota Semarang itu sedang getol-getolnya berlatih ilmu batik. Sudah hampir setahun ini, Suci Yulianti menggelutinya.

Ahli Batik

Karena menemukan keasyikan dan potensi, istri Edi Subiyanto (55) ini menularkannya kepada siapa saja. Ibu-ibu dan remaja putri di sekitar tempat tinggalnya diajak belajar mbatik bersama-sama secara cuma-cuma. Pekarangan belakangan rumahnya yang agak luas, disulap dadakan menjadi tempat praktik.

Tak tanggung-tanggung, dua ahil ilmu perbatikan didatangkan dari Balai Pelatihan Batik Yogyakarta. Mereka adalah Zoechdan dan Ruwardi, ahli mengecap dan mewarnai batik. Para peserta diajari nyanting, ngecap, dan mewarnai batik agar bisa mendapatkan hasil yang berkualitas. Hasilnya tak terlalu mengecewakan. Selama tiga minggu belajar, batik yang dihasilkan sudah bisa dipamerkan. Obesi Suci Yuliati terhadap bati memang besar. Dia ingin membudidayakan dan memasyarakatkan batik.

Melihat keinginan warga, sedianya acara belajar mbatik bersama ini akan diteruskan tidak hanya sebatas bulan Ramadan. Maklum, sepertinya dia berancang-ancang untuk menjadi pengusaha batik. "Ya doakan saja bisa jadi pengusaha batik. Siapa tahu dari kesenangan bisa menghasilkan lapangan pekerjaan," katanya. (Fahmi ZM-18)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA