| Senin, 08 Oktober 2007 | SEMARANG |
PKL Nekat, Lapak Dibongkar
SEMARANG- Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di sisi utara jembatan Mrican, Minggu (7/10), ditertibkan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang. Penertiban itu dilakukan karena mereka dinilai membandel dengan tetap berjualan di trotoar yang dinyatakan terlarang untuk berdagang. Padahal, Dinas Pasar Kota telah menyediakan tempat di bangunan lantai II Pasar Mrican. ''Kami telah berulang kali memperingatkan, baik bertemu langsung maupun melalui surat teguran. Tetapi para pedagang itu tidak menghiraukan,'' kata Kabid Satpol PP, Sumarjo. Dijelaskan, keberadaan para PKL yang berjualan di sepanjang Jl Tentara Pelajar itu melanggar Perda No 11 Tahun 2000. Selain itu, barang dagangan dan pembeli yang kerap meluber ke badan jalan menyebabkan arus lalu lintas tersendat. Penertiban yang dilakukan sekitar pukul 09.00 itu, diikuti belasan petugas Satpol PP yang mengendarai truk. Kendati demikian, sekitar enam pedagang yang ada di sana terlihat tidak kaget dengan kedatangan petugas. Mereka tidak memberi perlawanan ketika petugas mengangkut lapak dan payung. Seperti diberitakan Suara Merdeka Sabtu (6/10), bangunan lantai II Pasar Mrican mulai difungsikan. Puluhan pedagang buah dan sayuran yang biasanya berjualan di tepi Jalan Tentara Pelajar maupun di trotoar jembatan Mrican mulai memindahkan barang dagangannya. Bangunan lantai II itu mempunyai kapasitas tampung 57 pedagang. Masing-masing petak berukuran 1 x 1,5 meter. Namun, Dinas Pasar dan Satpol PP Kota Semarang ternyata memberikan toleransi kepada 6 pedagang yang berjualan di tepi jalan. Mereka diberi waktu sehari untuk membongkar lapak dan memindahkan dagangannya ke lantai II. Salah seorang pedagang, Kastipah (50) mengatakan, keberadaan mereka tidak melanggar peraturan seperti yang dikatakan petugas Satpol PP. Sebab, menurut dia, mereka berjualan tidak di atas trotoar. ''Kami menggelar lapak tidak sampai ke trotoar. Kami menggunakan lahan yang berada di belakang trotoar,'' ungkap Muhari. Ditanya perihal bangunan lantai II Pasar Mrican, dia mengatakan, kalau di tempat itu sepi pembeli. Padahal, mereka harus menambah pendatapannya untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. ''Kalau harus pindah dalam waktu dekat ini, kami keberatan. Di atas (lantai II- red) sepi pembeli. Sedangkan kami harus memikirkan kebutuhan hari raya,'' ungkap dia. (H40-18) |