| Senin, 08 Oktober 2007 | SEMARANG |
Kiai Syafii PijoronegoroPejuang Mataram Wariskan Pesantren
SEBAGAI sebuah institusi pendidikan, Pesantren Luhur Dondong jelas sudah sangat kenyang pengalaman. Pesantren yang terletak di Kampung Dondong, Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan itu telah mencapai usia hampir empat abad. Coba dengar, paparan Zamqolun (46), salah seorang pengurus Yayasan Pesantren Luhur Dondong. Dia menceritakan, pesantren itu didirikan oleh Kiai Syafii Pijoronegoro, pada tahun 1612. ''Dengan hitungan itu, pesantren ini boleh dibilang tertua di Semarang, atau bahkan mungkin di tanah Jawa,'' katanya. Kiai Syafii, dalam penuturan Zamqolun, adalah salah seorang pejuang Mataram, komandan pasukan Sultan Agung, yang menyerang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur di Batavia, pada 1629. Dalam perjalanannya, Kiai Syafii singgah dan kemudian bermukim di tempat yang sekarang bernama Kampung Dondong. ''Pada awalnya, beliau mendirikan semacam padepokan, belum berwujud pesantren seperti sekarang. Lambat laun, semakin banyak santri yang datang hingga akhirnya berkembang menjadi pesantren,'' ujar Zamqolun, yang dari silsilah keluarga merupakan keturunan keenam Kiai Syafii. Diceritakannya, sepeninggal Kiai Syafii, pengelolaan Pesantren Luhur Dondong ditangani KH Abu Darda, menantunya. Nama Abu Darda itulah yang kemudian diabadikan sebagai nama musala di lingkungan pondok. Setelah Abu Darda, berturut-turut kemudian pondok dipimpin oleh KH Abdullah Tulkin (cucu Kiai Syafii), KH Ahmad Ardabili (cicit), KH Masqon (canggah), dan KH Ahfadul Alfal. Sekarang, pesantren itu diasuh oleh KH Abdullah Umar, KH Faisol Sanusi, Tubagus Mansur (Gus Toba). Zamqolun menambahkan, Pesantren Luhur Dondong yang dirintis Kiai Syafii itu telah melahirkan ribuan alumni. Sebagian besar alumni menjadi ulama, namun tidak sedikit yang bergerak di bidang lain. ''Ada yang menjadi anggota Dewan, ada juga yang berkiprah di pemerintahan.'' Haul Konon, Kiai Syafii berasal dari daerah Klaten atau Yogyakarta. Pada catatan keluarga, dia disebut sebagai keturunan Ki Ageng Gribig. Tidak ada catatan pasti mengenai tahun lahir dan wafat tokoh besar itu. ''Yang pasti, Kiai Syafii dimakamkan di Dondong sini, tepat di belakang musala Abu Darda,'' tutur Zamqolun. Haul atau peringatan kematian Kiai Zamqolun diperingati setiap 7 Syawal. Peringatan biasanya dilaksanakan dengan tahlil dilanjutkan dengan pengajian di musala Abu Darda, di kompleks Pesantren Luhur Dondong. ''Biasanya haul itu dihadiri pula oleh mereka yang pernah nyantri di sini.'' Sehabis Lebaran nanti, Yayasan Pesantren Luhur Dondong berencana untuk merenovasi musala Abu Darda itu. Musala yang menjadi markas para pejuang dari Badan Keamanan Rakyat/Tentara Keamanan Rakyat (BKR/TKR), dan dikenal dengan nama Markas Medan Barat, kondisinya memang sudah memprihatinkan. Musala itu berupa bangunan semipermanen berlantai dua, sebagian dindingya tembok dan selebihnya papan. Lantai dasar digunakan untuk pengajian dan shalat, sedangkan lantai kedua untuk tempat tinggal para santri. Kondisi musala yang pernah beberapa kali dibakar tentara Belanda itu cukup memprihatinkan. Sebagian gentengnya sudah bocor, sementara dinding papan dan tiang penyangganya terlihat keropos. (18) |