logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 08 Oktober 2007 KEDU & DIY
Line

Rela Tak Kumpul Keluarga saat Lebaran

  • Anak-anak Binaan Yayasan Fatmawati

LEBARAN, hari penuh berkah. Saatnya berkumpul dengan keluarga, kerabat, teman, tetangga, bersilaturahmi, saling memaafkan atas kesalahan masa lalu. Membahagiakan! Namun sebagian orang terpaksa melewatkannya. Bukan tanpa alasan namun demi sesuap nasi, menyambung hidup.

Inilah yang dilakukan anak-anak binaan Yayasan Fatmawati, sebuah lembaga penyedia dan penyalur jasa baby sitter, PRT, pramurukti. Mereka datang dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan DIY, menyediakan dirinya membantu dan melayani orang lain selama Lebaran.

''Daripada nganggur di rumah, lebih baik kerja, apalagi bisa mendapatkan uang. Yah... memang harus meninggalkan Lebaran, tapi ini kan juga untuk masa depan, siapa tahu bisa dipakai terus ke depannya kalau dapat majikan baik,'' ungkap Ida, gadis dari Demak, Jawa Tengah ketika ditemui di Yayasan Fatmawati, Gamping, Sleman.

Dia sendiri pernah bekerja di sebuah pabrik di Jakarta, namun karena pabrik tutup, ia lantas pulang kampung. Selama di kampung dia mencoba mengikuti kursus pelatihan baby sitter. Usai itu kemudian bekerja di beberapa keluarga. Menjelang Lebaran, dia biasanya juga menjadi pengurus bayi, anak-anak secara pocokan.

Pendiri yayasan, Fatmawati menceritakan pada Lebaran ada 50-70 anak binaan bekerja di berbagai daerah. Yang paling banyak ada di Jakarta dan Yogyakarta. Mereka memambantu keluarga-keluarga yang ditinggal mudik pembantu.

Tak Ada Potongan

''Mereka menerima bayaran utuh, sehari Rp 70.000. Biasanya bekerja hanya 10 hari atau kalaupun lebih lama, misalnya sebulan, dibicarakan lagi dengan pihak yayasan,'' tutur Fatma, perempuan asal Dayak yang sudah sejak 1982 mengelola penyediaan dan penyaluran jasa pembantu, baby sitter dan pramurukti.

Honor sebesar itu terutama untuk lokal dan Jakarta, sedangkan luar Jawa mencapai Rp 1 juta. Peminat harus membayar di muka, selain gaji, juga dikenai biaya administrasi Rp 250.000. Selama ini ada yang hanya memerlukan jasa selama Lebaran, tapi ada pula berlanjut hingga bertahun-tahun.

''Anak-anak menerima gaji utuh setelah mereka kembali dari bekerja, tak ada potongan sepeser pun. Bahkan untuk menginap, makan selama menunggu di sini, tak ada tambahan biaya asal menjaga kebersihan saja,'' jelasnya.

Sebagian besar di antara mereka berasal dari Purworejo, Temanggung, Wonosobo, Magelang, Muntilan, dan Demak. Lainnya dari sekitar Yogyakarta. Umi dari Wonosobo menceritakan selama Lebaran ingin mencari tambahan penghasilan dengan bekerja paruh waktu menggantikan pembantu, baby sitter yang pulang kampung.

Begitu pula Tami, Asih, Nurjanah dan Fatur, mereka sabar menunggu peminat yang akan membawa ke rumah masing-masing. Selama menunggu, mereka mengisi waktu dengan bercanda, bercengkerama atau tiduran saja. Harapannya, sesegera mungkin memperoleh pekerjaan, sehingga usai Lebaran masih kebagian waktu bersilaturahmi ke keluarga dan kerabat.

''Saya baru kali ini mencoba membantu orang tua jompo, sebelumnya memang sudah sering, namun kalau pas Lebaran, baru kali ini,'' ungkap Fatur, laki-laki dari Temanggung.

Fatmawati yang sudah begitu dekat dengan anak-anak binaan menyatakan senang dapat membantu pencari kerja. Karena itu dia benar-benar menyeleksi peminat, karena tak ingin salah tempat.

Ida dan teman-temannya, sebagian dari anak muda yang terpaksa menyambut Lebaran dengan bekerja keras guna memperoleh tambahan penghasilan. Mereka tak bisa berkumpul keluarga, berbagi keceriaan. Namun mereka juga menyadari kondisi ekonomilah yang menjadikan demikian. (Agung PW-24)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA