| Senin, 08 Oktober 2007 | INTERNASIONAL |
Junta Tarik Tentara
YANGON - Junta Myanmar mengendurkan secara drastis pengamanan di Yangon. Tentara ditarik dari sudut-sudut kota. Barikade dihilangkan. Namun penangkapan aktivis terus berlanjut dan situasi tetap mencekam. Junta militer tampaknya yakin tidak akan ada lagi gelombang protes. Kemarin, aparat membongkar barikade kawat berduri yang mengelilingi kawasan Pagoda Shwedagon dan Sule di Yangon. Kedua pagoda itu bulan lalu menjadi pusat koordinasi demonstrasi-demonstrasi antijunta. Warga mengatakan bahwa mereka masih ketakutan. Koneksi internet juga masih diputus. Sebelumnya, para aktivis menggunakan internet untuk mengirim foto-foto mengenai demonstrasi dan kebrutalan aparat dalam menangani aksi protes. Orang-orang di jalanan tetap belum berani berbicara mengenai politik secara terbuka. Para jenderal junta telah mengungkapkan kesediaan mereka untuk berunding dengan ikon demokrasi Aung San Suu Kyi. Syaratnya, Suu Kyi tidak bersikap konfrontatif dan tidak lagi mendukung sanksi internasional terhadap Myanmar. Pemimpin junta Jenderal Senior Than Shwe juga menawarkan perundingan langsung dengan Suu Kyi. Nyan Win, juru bicara Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Suu Kyi, mengatakan tawaran Than Shwe itu dapat membuka jalan untuk perundingan-perundingan selanjutnya. Penangkapan ''Ini merupakan perubahan penting. Dulu mereka tidak pernah mau berbicara dengan Suu Kyi,'' kata Nyan Win. Para pengamat bersikap pesimistis mengenai kemungkinan perubahan di Myanmar. Terlebih lagi, koran-koran pemerintah melaporkan penangkapan aktivis masih berlangsung. Media menyatakan, aparat menangkap 78 orang yang dicurigai ambil bagian dalam aksi-aksi protes di Yangon. Selain itu, junta telah membebaskan 1.216 orang yang diduga ikut berunjuk rasa. Pembebasan diberikan setelah mereka bersedia menandatangani surat pernyataan tidak akan lagi terlibat dalam demonstrasi anti-junta. Aparat juga telah melepas 398 dari 533 biksu yang ditangkap dalam operasi penggerebekan bulan lalu. Sejauh ini, tidak ada data mengenai jumlah orang yang telah ditangkap dan dibebaskan di kota-kota lain. Nyan Win menjelaskan seorang tokoh Liga Demokrasi ditangkap di Kota Mandalay, Sabtu malam lalu. Tekanan internasional juga tidak dapat memaksa junta untuk memulai perundingan dengan Liga Nasional untuk Demokrasi. Namun utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ibrahim Gambari mengatakan ada peluang untuk mengadakan pertemuan antara jenderal junta dan Suu Kyi. ''Dari percakapan dengan saya, dia tampaknya sangat ingin melakukan dialog tanpa syarat apa pun,'' kata Gambari. Suu Kyi belum berkomentar. Peraih Nobel Perdamaian itu telah menjalani 12 dari 18 tahun masa tahanan rumahnya di Yangon. Di rumah itu, tidak ada fasilitas telepon. Suu Kyi juga harus mendapat izin junta untuk menerima tamu. Jumat malam lalu, televisi pemerintah menayangkan rekaman tentang kegiatan Suu Kyi. Itu merupakan tayangan Suu Kyi pertama di televisi pemerintah dalam empat tahun terakhir. Tayangan itu tampaknya bertujuan untuk meredam tekanan internasional.(rtr-ben-25) |