| Senin, 08 Oktober 2007 | BUDAYA |
SPOT"Lawang Sewu" Vs SPA"SUNGGUH terlalu!" gerutuku usai menyaksikan film Lawang Sewu (Dendam Kuntilanak). Film garapan sutradara Arie Aziz yang diproduksi MD Pictures itu sungguh hanya "memerkosa" salah satu ikon Kota Semarang, gedung Lawang Sewu. Saya makfum, film yang diperani Renny Jayusman (Eyang Putri), Thalita Latief (Diska), Salvita (Naya), Tsania Marwa (Dinda), Marcell Darwin (Yugo), Ronal Gustav (Onil), Melvin (Amen), dan Nuri Maulida (hantu Ratih) itu memang 100 persen film horor. Makanya setiap adegan harus yang serem-serem. Namun mengapa mesti gedung Lawang Sewu yang menjadi setting sentralnya? Mengapa Aviv Ilham sebagai penulis tidak memilih gedung-gedung tua lain yang bukan menjadi ikon Kota ATLAS-ku ini? Sebagai warga Semarang, tentu aku tak rela. Sebab, cerita film itu seolah-olah semakin mengukuhkan citra awam bahwa gedung milik Departemen Perhubungan yang dulu pernah dijadikan kantor PT KAI itu, benar-benar full memedi dan layak dicarikan the ghostbuster. Anehnya, mengapa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan Dinas Pariwisata Kota Semarang juga tidak melarang manakala film itu diputar di bioskop-bioskop di Kota Lunpia ini? Coba bayangkan. Untuk membangun citra positif Kota Semarang, Pak Wali Kota Sukawi Sutarip bela-belain membuat SPA. Berapa miliar rupiah uang pajak masyarakat Kota Semarang digelontorkan ke SPA? Tujuannya agar masyarakat dunia semakin mengenal dan kesengsem dengan langgam Semarang. Tapi masak, citra positif yang dibangun dengan susah payah itu dimentahkan oleh sebuah film horor? (Evi Febrian Surya-45) |