logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 WACANA
Line

Surat Pembaca

Kemaruk Belanja

Setiap Lebaran tiba, selalu saja jutaan orang tersihir untuk ramai-ramai berbelanja. Shopping, adalah kegiatan wajib yang seolah bagian dari ritual Ramadan. Hati-hati, bahaya laten konsumerisme siap menerkam kita. Konsumerisme memang bukan sekadar shopping, tetapi shopping merupakan gerbang di mana "konsumsi seperlunya" berubah menjadi "konsumsi yang mengada-ada".

Barang-barang itu diburu dengan harga absurd karena memberi kita klaim pada rasa pede dan eksklusif. Lantaran eksklusif, maka juga prestise dan status. Orang tidak merasa mudik kalau tidak naik mobil pribadi, tidak merasa berlebaran jika tidak memakai pakain serba baru. Kita terjebak mengartikan "sukses" adalah kekayaan, kemasyuran dan kenaikan status (sosial).

Selama ini jaim (jaga image) justru lebih penting dari realita sehingga banyak orang lebih memilih terlibat ilusi untuk sukses, ketimbang menatap hal yang lebih realistis. Industri memang selalu mendorong untuk mencari sesuatu yang baru. Menciptakan sesuatu agar orang menjadi membutuhkan.

Sedang kemaruk berbelanja menjelang Lebaran hanya salah satu contoh dari sekian metode yang berujung pada kepentingan bisnis, buah dari tangan industrialisme. Filsuf Prancis, Rene Descartes (1596-1650), meringkas kinerja filsafatnya dalam prinsip masyhur cogito ergo sum (saya berpikir, maka saya ada).

Dengan memelesetkan menjadi emo ergo sum (saya shopping, maka saya ada), kira-kira Anda mengerti impuls yang menggerakkan konsumerisme. Saat kita berasyik-masyuk dalam budaya konsumerisme, lihat fakta menyedihkan. Sementara konsumerisme meluas, 147.000 balita mati karena malnutrisi, banyak anak bunuh diri karena tidak kuat membayar SPP, kemiskinan meningkat dan lainnya.

Jika tetap ber-shopping walau melihat fakta memilukan seperti ini, sungguh patut dipertanyakan nilai amalan Ramadan kita. Kalau melihat kemiskinan merajalela tapi kita memilih abai belaka, masih manusiakah kita?.

Joko Suprayoga

Jl Dieng I/ 40 Perum Brangsong, Kendal

Indonesia Negara

Segala Nikmat

Siapa bilang Indonesia negara terpuruk. Indonesia negara yang paling komplet di dunia, semua ada di sini untuk dinikmati. Indonesia negara yang paling istimewa karena bangsa yang paling gemar berdoa dan pandai menyukuri segala nikmat, di antara sekian miliar penduduk dunia yang betul-betul bisa menikmati karunia-Nya.

Bangsa lain seperti Jepang, Korea, China masih harus berjuang keras memeras otak dan keringat untuk kesejahteraan hidupnya. Bangsa Indonesia nggak perlu dengan cara itu. Kita lebih cocok dan pas serta mujarab dengan ilmu seperti yang disampaikan para petinggi maupun dai yaitu '' bersabar untuk capai nikmat tertinggi".

Maka jadilan bangsa ini betul-betul pakar dan sadar dalam menyikapi bentuk kenikmatan apa adanya. Yang kaya menikmati kekayaannya, yang korup menikmati hasil korupsinya dengan tenang. Koruptor yang dipenjara pun masih menikmati dengan santai dan enjoy, tinggal tunggu remisi agar cepa bebas.

Tak ketinggalan rakyat miskin pun menikmati kemiskinannya dengan caranya sendiri bahkan pengangguran pun menikmati. Toh sampai saat ini belum ada yang mati teriak-teriak karena kelaparan (mana ada orang mati bisa teriak-teriak). Seandainya ada yang mati karena kelaparan/kurang makan, mereka bisa dianggap mati sebagai pejuang kemanusiaan.

Karena dalam kelaparan pun mereka tidak mau korupsi yang merugikan rakyat hingga mereka akan masuk surga. Seperti cerita Nabi Ayub AS yang menderita banyak penyakit namun tetap beriman kepada Tuhan. Beliau tidak mau kompromi/kolaborasi dengan setan hingga akhirnya mendapatkan segala kenikmatan dari Tuhan.

Jadi dalam sakit pun ada nikmat, maka bagi siapa pun yang saat ini belum merasakan/mendapatkan nikmat dunia. Tidak usah risau, simpan keinginan itu untuk kita dapatkan kelak di akhirat.

Mari nikmati bersama segala polah tingkah yang ada saat ini dengan menyukuri karena apa pun ini adalah kehendak-Nya. Akhir cerita Indonesia memang negara segala nikmat.

Sudjarwo

Jl Padangsari 20, Semarang

***

Bus Nusantara

Tanggal 11 September 2007 saya naik bus Nusantara dari Surabaya keSemarang. Dalam perjalanan, AC bus terasa kurang dingin dan setelah sampai Kudus bus berhenti ke kantor pusatnya untuk ganti bus AC yang lebih dingin. Setelah memasuki Demak, saya baru sadar ponsel saya terjatuh di bus pertama.

Saya hubungi kru bus melaporkan hal tersebut. Dengan tanggap kru bus bertindak cepat menghubungi rekannya di kantor pusat. Ternyata ponsel masih ada dan disimpan kru bus di kantor pusat. Krunya menawarkan ponsel diantar keesokan harinya ke agen terdekat dengan domisili saya.(agen Jl Siliwangi).

Esoknya saya datang ke agen dan dengan ramah petugas mengembalikan ponsel dalam amplop utuh, tanpa meminta imbalan apa pun. Saya terharu atas layanan yang mereka berikan. Terima kasih untuk semua kru bus Nusantara atas dedikasinaya yang tinggi pada pekerjaan.

Juga terima kasih kepada pimpinan dan menejemen yang berhasil membangun perusahaan, tidak hanya sekadar mencari keuntungan tapi juga pengabdian kepada masyarakat.

Mohamad Wahyudi

Jl Gajahmada 158, Batang.

***

Kapsul Kesehatan

Di harian ini ditampilkan rubrik Kapsul Kesehatan yang bermanfaat bagi para pembaca. Saya menyampaikan sumbang saran agar di kolom lain juga ditampilkan semacam Kapsul Hukum, tentang pasal-pasal hukum lengkap dengan jumlah tuntutan tahun hukumannya.

Hal ini karena akhir-akhir ini maraknya perkosaan, penculikan, penyiksaan, pemalsuan, penghinaan, perampokan, pembunuhan, pengedar sabu-sabu dan lainnya. Para pelaku sepertinya tetap enteng-enteng saja melakukan padahal hukumannya cukup berat.

Hal ini barangkali mereka belum tahu akibat beratnya hukuman, kecuali bagi mereka yang sudah tahu tetapi sengaja melakukan. Minimal rubrik Kapsul Hukum selain memberi pengetahuan bagi pembaca, juga setidak-tidaknya menjadi peringatan bagi mereka yang akan melakukan, sehingga tindak pelanggaran hukum akan berkurang.

Pamboedi

Jl Hanoman Raya II/11, Semarang

***

Gratisan Lagi Buat

Anggota DPR RI

Saya judeg nganti dheleg-dheleg mendengar dan membaca berita sebagian anggota DPR-RI menerima tiket gratis bulanan tol berlaku 6 bulan yang bisa diperpanjang. Sementara itu para sopir angkutan umum, truk, bus dan mobil pribadi kelas kambing teriak-teriak "keberatan". Dampaknya nanti ongkos transpor pasti naik, harga kebutuhan ikut naik dan semua membebani rakyat kecil.

Yang lucu, Dewan Kehormatan (DK DPR) pura-pura minta tolong masyarakat untuk melaporkan kalau tahu anggota Dewan menerima tiket gratis tersebut. Itu permintaan gombal yang tidak lucu. Kalau DK mau serius, tidak usah minta tolong masyarakat, cukup panggil PT Jasa Marga atau Menteri PU dan anggota Dewan diklarifikasi. Gitu aja kok repot.

Tapi saya yakin kasus ini akan menguap, soalnya duit dari DKP (Dep Keluatan dan Perikanan) yang jelas-jelas diterima oleh sebagian anggota Dewan bahkan oleh ketua DK DPR sendiri, sampai saat ini masih tersimpan di peti es alias tidak ada kelanjutannya. Apalagi duit kecil karcis tol ini. Saya yakin pembahasan kenaikan tarif tol akan berjalan mulus dan hal itu sudah terbukti.

Sungguh enak jadi anggota DPR, raker dengan menteri dapat duit, raker dengan BI juga dapat duit. Kunjungan ke luar negeri dibiayai departemen tertentu, nanti kalau berhenti dapat pensiun seumur hidup.

Tapi sayang, banyak yang tidak peka, hati nuraninya mati, tidak sensitif atas nasib rakyat yang diwakili. Sungguh memprihatinkan.

H Erlangga Chandra (EI)

Bendan RT 8/RW 2, Banyudono

***

Reformasi Pendidikan

Mutu Pendidikan di negeri ini masih memprihatinkan dan menyedihkan. Mutu pendidikan masih sekadar wacana atau cita-cita. Anggaran pendidikan yang diamanatkan UU belum mencapai 20%, sementara kepentingan lain yang justru tidak ada kaitan dengan SDM malah didulukan. Kapan SDM akan berubah bila mutu pendidikan kian tidak bisa diprediksi.

Lembaga pendidikan di negeri ini lebih banyak mencetak penggangguran. Saat ini sekitar 15 juta pengangguran terdidik. Apa yang salah dari sistem pendidikannya ?. Sejak lama rakyat dijejali dengan pola pendidikan ala penjara. Dari pagi hingga sore peserta didik terutama pendidikan formal, selalu dijejali berbagai aturan.

Pekerjaan rumah bertumpuk, seragam harus kelihatan rapi, hukuman badan dan lainnya. Akibatnya peserta didik tumbuh menjadi manusia yang miskin inovasi dan kreativitas. Mereka terbiasa menunggu peluang daripada menciptakan peluang. Kurikulum kerap berubah dan coba-coba, pungutan sulit dihapus dan korupsi buku ajar marak di mana-mana serta kepsek jadi calo buku paket. Menyedihkan.

Reformasi pendidikan harus segera dilakukan, bukan sekadar diwacanakan. Pejabat di jajaran pendidikan yang korup serta main pungli serta mengadakan pungutan tidak resmi harus dipecat. Mampukah reformasi pendidikan berjalan secara transparan dan jujur, mari kita lihat langkah pemerintah.

Wisnu Widjaja

Jl Sindoro I/16 Panggung, Tegal

***

Rehab Your Life

Dalam ilmu kedokteran ada bidang Rehabilitasi Medik. Dokternya disebut Spesialis Rehabilitasi Medik atau sering disebut Dokter Rehab.

Rehab bertujuan memulihkan/memelihara kemampuan fungsional semaksimal mungkin dalam hal fisik, mental, sosial dan ekonomi. Bila sebuah rumah sudah hampir roboh karena rusak, perlu direhab agar berfungsi kembali.

Pasien yang terkena penyakit kronis/berat pun perlu direhab agar dapat berfungsi kembali dan berperan aktif dalam keluarga dan masyarakat. Pasien yang perlu direhab contohnya penyakit stroke, trauma kepala dan tulang belakang, kelumpuhan, nyeri sendi dan otot, pascaoperasi patah tulang, amputasi, pascaserangan jantung koroner, anak yang terlambat bicara serta terlambat bisa jalan.

Organ tubuh yang terkena penyakit itu tidak dapat sembuh 100%, tetapi pasien direhab agar dapat berfungsi kembali. Rehab bisa berupa latihan, penyinaran, terapi wicara, terapi okupasi/pekerjaan, motivasi psikologi, dan sosialisasi ke keluarga/masyarakat. Mendapat musibah dan mengalami cacat/kelemahan bukanlah akhir dari segalanya.

Rehab hidup kita sehingga bisa berkarya dengan kondisi fisik yang ada. Bila kita melihat setengah gelas air, kita bisa menilai gelas itu setengah kosong (pesimistis) atau setengah berisi (optimistis). Manfaatkan kondisi yang ada saat ini dan majulah terus untuk mencapai mimpi. Rehab your life.

Dr A Sugiarto SpRM (08122910565)

Jl Lampersari Raya 5, Semarang

***

Ancaman Asma

di Hari Lebaran

Sebuah harian pernah memuat cerita mengharukan pascameninggalnya seorang blogger ibu muda, Anna Sitti Herdiyanti di Singapura. Kematiannya yang ditangisi komunitas blogger di Indonesia itu disebut akibat sakit asmanya yang akut ketika dia berlibur di Kota Singa tersebut. Saya juga punya teman dekat yang meninggal dunia karena asma tiga hari setelah pernikahannya.

Merujuk kedua peristiwa tersebut dan seiring dengan mendekatnya masa mudik Lebaran, kiranya perlu diingatkan bahwa sakit asma berpotensi menjadi ancaman yang serius bagi penderitanya di tengah suasana liburan tersebut.

American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) menjelang liburan Natal/Tahun Baru 2005 mengingatkan bahwa musim liburan menyimpan ancaman potensial bagi para penderita asma dan alergi lainnya. Akibat ketatnya jadwal dan perjalanan, banyak orang mudah terlupa merawat kesehatannya secara tertib.

Karena itu mereka menyarankan agar penderita dan keluarganya harus senantiasa mengingat pemakaian obat dan menghindari pemicu potensial agar gejala penyakit asma dapat terkendalikan. Terlebih lagi dalam musim liburan juga merupakan masa-masa yang mudah menimbulkan stres sehingga mampu memicu serangan asma.

Bambang Haryanto (081329306300)

Jl Kajen Timur 72, Wonogiri

***

Perihal ICW Dicatut

Terus-menerus saya menerima pengaduan dari berbagai daerah tentang adanya pihak tertentu yang mencatut nama Indonesian Corruption Watch (ICW) dengan modus mengaku cabang/perwakilan, menggunakan singkatan ICW dan mencantumkan nama ini pada lembaganya. Mereka juga memeras atau meminta bantuan dana kepada instansi pemerintah/swasta.

Kredibilitas lembaga ini dirugikan maka saya tegaskan beberapa hal sbb: ICW tidak memiliki cabang/kantor perwakilan di daerah mana pun kecuali hanya ada di Jl Kalibata Timur IV/D-6, Jakarta Selatan. Saya harap jika ada pihak yang mengatasnamakan lembaga ini meminta sesuatu, agar menghubungi saya di 021-7994015/021-7901885 atau kirimkan pengaduan ke icwmail@indosat.net.id.

Kedua, saya imbau kepada masyarakat yang jadi korban pemerasan tersebut segera melapor ke kepolisian. Ketiga, ICW tidak menerima/meminta bantuan dana dari pemerintah, perusahaan swasta dan masyarakat.

Teten Masduki

Koordinator ICW

Jl Kalibata Tmr IV/D-6, Jaksel

***

Mudik Itu Indah

Konon tradisi mudik Lebaran hanya ada di Indonesia, sedangkan di luar negeri bahkan di negara Islam sekali pun tradisi ini tidak ada. Mudik pasti berhubungan dengan orang yang merantau baik skala regional (antarprovinsi) maupun internasional (luar negeri). Ironisnya pencapaian mudik Lebaran ini harus melalui proses perjuangan berat.

Harus diperjuangkan dengan keras dan cerdas. Menguras tenaga dan kantong serta mengorbankan perasaan. Rasa capai, lapar, haus, pusing, marah, sedih bercampur aduk. Perjuangan mudik dimulai dari saat meninggalkan rumah perlu ekstra hati-hati karena bisa-bisa barang yang ada digondol maling.

Kemudian antre karcis/tiket berjam-jam bahkan sampai berhari di stasiun kereta, terminal bus, kapal laut yang dengan harga berlipat pun belum tentu dapat. Selanjutnya harus berebut naik ke kendaraan sikut sana sikut sini. Belum lagi kalau bawa anak bayi/kecil yang menangis panik atau tergencet serta barang bawaan yang banyak.

Mana perut lapar, tenggorokan kering karena berusaha tetap puasa. Setelah duduk, biasanya penumpangnya overload, kipas angin atau AC sudah tidak mempan dan bau aneka aroma menusuk hidung. Perjuangan belum selesai sampai di situ sebab biasanya kalau pulang H-2 atau H-1 sudah bisa dipastikan untuk wilayah tertentu macet total atau paling banter merambat.

Seperti di sepanjang pantura yang langganan macet. Saya pernah dari Surabaya-Jakarta makan waktu hampir dua hari. Perjuangan mudik ini tidak pandang bulu, kaya miskin, tua muda, laki perempuan, kendaraan pribadi atau umum. Perbedaannya hanyalah kadar perjuangan dan pengorbanannya saja.

Sungguh suatu kebahagiaan tersendiri bila kaki ini telah menginjak tanah kampung halaman. Semua pengorbanan dan perjuangan berat seolah sirna begitu saja karena bisa berkumpul dengan orang-orang yang kita cinta. Mulai dari orang tua, kerabat dan handai taulan. Memang mudik itu indah, seindah kita bisa merayakan Lebaran setelah melalui ujian iman yaitu berpuasa satu bulan penuh.

Ludi Mulyadi (024 8311567)

Jl Veteran 8, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA