logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 WACANA
Line

Dari Ospek sampai Konflik Yayasan

BERAGAM sebab jadi pemantik tawuran mahasiswa, mulai dari yang sepele hingga serius. Ironisnya, kekerasan kadang dilatarbelakangi rebutan jabatan birokrasi kampus. Mahasiswa cuma menjadi ''penggembira'', sementara yang menuai untung adalah birokrat kampus. Berikut sebaris noktah hitam yang mencoreng citra kampus.

Ospek

Ritual penyambutan mahasiswa baru dan kekerasan rupanya bak dua sisi mata uang. Agenda ini sering memantik kekerasan. Agustus lalu, tawuran terjadi pada acara Ospek di Universitas Negeri Padang. Pelakunya mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Keolahragaan.

Acara serupa juga memicu kerusuhan antara mahasiswa Fakultas Teknik dan Fisip Unhas (Agustus 2005), sehingga beberapa ruang kuliah terbakar. Di Unnes, kantor pers mahasiswa digeruduk gara-gara memuat berita kekerasan di Fakultas Ilmu Sosial (September 2005).

Organisasi Ekstra

Rebutan pengaruh organisasi ekstra kampus juga kerap menjadi biang tawuran. Juni 2004, pemilihan Presiden BEM FISIP Undip diwarnai adu jotos. Pemantiknya adalah rebutan pengaruh antara HMI dan GMNI.

Konflik Laten

Bak anjing dan kucing. Seperti inilah hubungan UKI dan UPI YAI. Dua kampus bertetangga itu sudah lama terlibat bentrok. Peristiwa terbaru terjadi awal bulan ini, di mana mereka terlibat aksi lempar bom molotov yang menimbulkan kemacetan di kawasan Salemba.

Rebutan Jabatan

Tawuran mahasiswa juga sering dipicu rebutan jabatan di kalangan birokrat kampus, misal pemilihan rektor atau dekan. Di FISIP UI, bentrok mahasiswa mewarnai pelantikan pejabat Jurusan Ilmu Politik. Dr Chusnul Mariyah, dosen yang juga anggota KPU, menjadi korban pemukulan (23 September 2003).

Di IKIP Mataram, ketegangan pemilihan rektor (Agustus 2006) berimbas bentrok mahasiswa melawan preman yang diduga suruhan salah satu calon. Satu mahasiswa tewas. Peristiwa serupa terjadi di Institut Teknologi Adhi Tama (ITAT) Surabaya, Juli 2005.

Pola Pengasuhan

Budaya kekerasan sudah menjadi tradisi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), dan memakan korban jiwa hingga 35 orang.

Tradisi kekerasan di kampus pencetak calon birokrat ini disebabkan pola pengasuhan yang salah, di antaranya gap antara mahasiswa senior dan yunior.

Egoisme Kesukuan

Latar belakang suku juga bisa menjadi pemicu konflik. Dua kelompok mahasiswa asal Kupang dan Timor Leste bentrok di Yogyakarta (Juli 2007).

Saat bentrok, timbul korban dari kelompok lain, yakni Flores. Konflik pun meluas menjadi tiga suku.

Konflik Yayasan

Kampus adalah sumber uang. Tak heran kalau pemilik yayasan sering berteru memperebutkan status kepemilikan.

Sudah lazim pula konflik itu berimbas kepada mahasiswa.

Di Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), konflik terjadi antara dua anggota yayasan Helmi Nasution dan Sariani AS (Mei 207).

Dua kelompok mahasiswa kemudian terlibat bentrok dan aksi bakar-bakaran di dalam kampus. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA