| Sabtu, 06 Oktober 2007 | WACANA |
Pramuka di Kalangan MahasiswaPERNAHKAH Anda mengikuti kegiatan Pramuka? Mungkin waktu masih kecil. Sekarang kegiatan ini cenderung kurang diminati mahasiswa, malah makin ditinggalkan. Mengapa kalangan mahasiswa seperti kurang mengenal Pramuka? Bahkan ada beberapa mahasiswa yang berpendapat, Pramuka itu tidak penting, membuang-buang waktu, kegiatannya itu-itu saja, lebih baik main komputer agar lebih pintar. Menjawab berbagai kritik tersebut, memang dibutuhkan inovasi dalam kegiatan Pramuka, sehingga lebih responsif terhadap gaya hidup generasi muda saat ini. Hal ini pula yang dilakukan Racana Diponegoro di PKM Lantai II Undip, Jl Imam Bardjo No 2 Semarang, akhir September lalu. Mereka menggelar Racana Diponegoro Share and Care. Acara ini merupakan salah satu agenda Forum Komunikasi Racana se-Kota Semarang dan kebetulan diselenggarakan di Universitas Dipo-negoro. Dalam forum ini dibicarakan peran pramuka perguruan tinggi dalam mengatasi masalah anak jalanan. Diawali dengan diskusi dan dilanjutkan buka bersama dengan rekan-rekan dari Satoe Atap dan anak jalanan. Sebagai bagian dari masyarakat, tentu Pramuka menyadari perannya untuk membantu pemerintah dalam perlindungan anak. Begitu pula masalah anak jalanan yang hingga kini belum terpecahkan. Seiring revitalisasi gerakan Pramuka, diharapkan adanya pemberdayaan secara sistematis, berkelanjutan dan terencana untuk lebih meningkatkan peran, fungsi dan tugas pokok gerakan Pramuka. Acara ini dihadiri Racana dari tujuh perguruan tinggi di Semarang, yaitu IAIN Walisongo, Unnes, IKIP PGRI, Unwahas, Politeknik Semarang, Unissula, dan Undip sebagai tuan rumah. Berguru Ilmu Dengan mengangkat tema Racana Diponegoro Share and Care, Forkom mencoba berguru ilmu dengan Satoe Atap (Sayang Itoe Asli Tanpa Pamrih). Satoe Atap adalah sekumpulan mahasiswa yang peduli terhadap pengemis dan pemulung di kampus Undip Pleburan dan sekitarnya. ''Awalnya Satoe Atap dimotori oleh kepedulian beberapa mahasiswa yang tergerak hatinya untuk terjun langsung. Hal yang serupa juga diharapkan akan muncul dari Pandega Perti, mengingat tujuan akhir Pramuka adalah berbakti pada masyarakat,'' ujar Mohamad Rifki, salah satu perintis Satoe Atap. Senada dengan Rifki, Imansyah Budiono SSos selaku Pembina Racana Dipo-negoro mengatakan Pramuka perlu diterima dengan imej yang sesuai. Yaitu sebagai ujung tombak yang berorientasi mengeluarkan ide untuk masyarakat. Sasaran Pembinaan Anak jalanan perlu menjadi sasaran pembinaan dalam kepanduan. Hal ini dapat dila-kukan dengan didirikannya Gugus Depan Teritorial, agar mereka yang tidak bersekolah tetap dapat mengikuti kegiatan kepanduan. ''Selain itu, perjuangan juga bisa dilakukan melalui media. Yaitu dengan menulis artikel di media massa," kata Fuad, ketua Forkom Racana se-Kota Semarang Rahmi Nuraini, anggota Racana Diponegoro, menuturkan diperlukan usaha lebih keras untuk meningkatkan citra Pramuka. Sehingga dapat eksis kembali dan tak hanya dikenal di kalangan SD, SMP, dan SMA. Misalnya mengembangkan kegiatan kepramukaan yang sesuai karakteristik dan minat kaum muda. Hal ini diperlukan karena Pramuka pada hakikatnya kegiatan kaum muda yang punya ka-rakteritik dan minat khas. Memang, menghadapi tantangan globalisasi, diperlukan pembinaan generasi muda yang efektif. Revitalisasi gerakan Pramuka harus dilaksa-nakan. Pramuka dapat berperan dan berbuat banyak dalam mendorong, memberi contoh, serta mengajak generasi muda untuk terus berkarya dan berprestasi. (Dela Sulis-tiyawan Yunior-32) |