logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 WACANA
Line

Noktah Hitam Tawuran Mahasiswa

Ketenangan Ramadan di Ibu Kota ternoda tawuran mahasiswa. Saat kaum shoimin menunggu waktu berbuka, mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) tawur dengan mahasiswa Universitas Persada Indonesia Yayasan Administrasi Indonesia (UPI YAI).

ENTAH siapa yang memulai, mahasiswa dari dua kampus itu terlibat aksi saling lempar batu dan bom molotov. Peristiwa itu terjadi pada 29 September dan 1 Oktober lalu. Tawuran dua kampus yang bersebelahan itu tampaknya sudah menjadi ''tradisi''. Entah sejak kapan, konflik segitiga antara UKI, UPI YAI, dan Universitas Bung Karno (UBK) memang kerap terjadi.

Seperti yang terjadi sebelumnya, peristiwa itu berlalu begitu saja. Tidak terlihat langkah tegas dari birokrasi kampus maupun aparat keamanan untuk menindak pelaku. Media massa pun terkesan tak menganggap peristiwa itu sebagai ''berita besar''.

Tawuran mahasiswa UKI dan UPI YAI yang terjadi belum lama ini juga tidak banyak menghiasi media massa, termasuk terbitan Jakarta. Lebih banyak beredar di portal berita online, milis-milis, dan blog.

Selain ketiga kampus itu, tawuran mahasiswa juga sudah sering terjadi. Namun juga tidak memantik rasa heran masyarakat. Menjadi potret budaya yang memilukan, sekaligus memalukan!

Tawuran mahasiswa menjadi salah satu dari sekian anomali dalam pendidikan. Ketika gairah muda yang sarat imajinasi dan kreativitas tak memperoleh ruang sepadan. Tergusur logika kapitalisme yang diciptakan oleh dunia kampus itu sendiri.

Butuh Bimbingan

Mahasiswa tak lagi diperlakukan sebagai manusia muda yang membutuhkan bimbingan. Melainkan sekadar konsumen dalam transaksi jual-beli industri pendidikan. Karena godaan meraup keuntungan, kampus menjadi kurang selektif menelisik input. Dalam logika industri, siapa pun boleh membeli asalkan punya uang. Setelah masuk, mahasiswa berubah menjadi ''bahan baku'' dari sistem produksi yang terus diburu produktivitasnya.

Kampus menjadi gaduh. Bukan oleh interaksi akademis di antara penghuninya. Tetapi riuh bak pasar, di mana setiap manusia sibuk dengan diri sendiri. Kampus sibuk mengurusi industrinya, dosen suntuk mengejar proyek hibah dan penelitian.

Sementara mahasiswa malah terasing sendirian. Mereka kehilangan pegangan ketika tengah gamang mencari jati diri. Beberapa di antaranya melarikan diri ke dunia hedonisme. Meskipun mungkin tidak terlibat secara fisik dalam kegiatan hura-hura dan dugem, setidaknya tercipta watak yang maunya pola pikir serba instan dan mudah.

Dalam kondisi ini, tradisi tawuran mahasiswa bukan hal yang perlu diherankan lagi. Waktu demi waktu, peristiwa kekerasan di berbagai perguruan tinggi menorehkan catatan kelam bagi komunitas yang mestinya menjunjung tinggi budaya inte-lektual itu. (Panji Satrio-32)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA