| Sabtu, 06 Oktober 2007 | WACANA |
Debat: Soal Kekayaan SoehartoPerlu Lebih Serius
NAMA mantan presiden Soeharto belakangan muncul lagi ke permukaan, setelah namanya dinobatkan PBB dan Transparency Internasional sebagai tokoh nomor wahid pengeruk uang rakyat sepanjang sejarah kepemimpinannya. Dalam buku panduan yang diterbitkan PBB dan Bank Dunia, Global Stolen Asset Recovery Initiative, dipaparkan 10 tokoh paling banyak mencuri uang rakyat. Ternyata nama Soeharto berada di puncak klasemen dengan aset sekitar 15-35 miliar dolar AS, mengungguli mantan presiden Ferdinand Marcos dari Filipina. Berita mengenai harta melimpah keluarga Cendana sebenarnya bukanlah hal yang baru lagi. Seperti pada dekade 1990-an, yang merupakan puncak bisnis mereka, sempat dikabarkan keluarga Soeharto memiliki harta kekayaan miliaran dolar AS. Forbes yang menyebut kekayaan Soeharto mencapai 16 miliar dolar AS, Newsweek merilis 40 miliar dolar, dan Badan Intelijen Amerika (CIA) menyebut angka 30 miliar dolar AS. Terlepas dari berapa tepatnya kekayaan Soeharto kala itu, pun saat ini, seharusnya kita berpikir bagaimana mungkin kekayaan Cendana bisa sebanyak itu. Apalagi sebelum jadi presiden, Soeharto hanyalah orang biasa. Benarkah mereka menggunakan fasilitas dan proteksi negara dalam bisnisnya? Untuk bisa menjawab pertanyaan itu, pemerintah perlu lebih serius menangani kasus capital flight sepanjang rezim Orde Baru yang melibatkan Soeharto. Sebab dari awal bergulirnya reformasi hingga menginjak tahun kesembilan sekarang, baru sedikit dari kasus mereka yang tersentuh hukum. Itu pun kasus yang remeh. Bahkan pada tahun 2006 sempat muncul inisiatif untuk mengeluarkan SP3 kasus Soeharto, dengan alasan penghormatan dan kesehatan. Aneh bukan? Namun dengan munculnya nama Soeharto sebagai tokoh pencuri uang rakyat oleh PBB, kini rakyat Indonesia bisa sedikit lega. Paling tidak masih ada harapan proses hukum terhadap Soeharto bisa berjalan kembali. Tetapi semuanya itu tergantung pada pemerintah. Apakah kasus ini diteruskan atau dipetieskan. (32) |