logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 WACANA
Line

Jurnalisme Jawa

  • Oleh Amirudin

ADAKAH Jawa memiliki kebudayaan di aspek jurnalistik yang relatif mapan dan sanggup bersanding dengan jurnalisme global ? Jika punya apakah Jurnalisme Jawa sangat berarti ikut mewarnai perkembangan genre jurnalisme yang umumnya hanya bermashabkan Barat ?

Jurnalisme adalah kata kerja yang menunjukkan jenis kegiatan manusia. Dalam konteks itu, penulis selalu menyebut jurnalisme sebagai kegiatan fiksasi atau membekukan realitas sosial menjadi teks berita yang mengandung informasi. Realitas yang bukan saja berjenis sosiologis yang merupakan kenyataan sosial sebagai akibat hubungan antarmanusia; tetapi juga psikologis yang merupakan fakta hasil persepsi, interpretasi, dan konklusi seseorang terhadap realitas sosiologis yang terjadi di ruang publik. Informasi yang dihasilkan melalui jurnalisme adalah informasi sosial bukan personal, karena bahan dasar jurnalisme adalah realitas sosial yang memiliki newsvalue.

Contoh realitas sosial adalah konflik, kematian, proses hukum, kriminalitas, olah raga, seni budaya, krisis ekonomi dan lain-lain. Sedangkan realitas personal contohnya adalah mimpi dan hal-hal privacy lainnya yang tidak diperkenankan menjadi bahan dasar penulisan berita. Itu berarti jurnalisme tidak mungkin menjadikan realitas personal sebagai bahan penulisan berita karena hakikat jurnalisme adalah sosial untuk kepentingan publik.

Di bagian berikutnya muncul konsep objektivitas karena memang jurnalisme nyaris sama dengan penelitian. Di tingkat tertentu, jurnalisme tetap harus dapat mempertanggungjawabkan informasinya sebagai hasil dari proses fiksasi melalui teknik dan metode tertentu seperti yang dilakukan dan dihasilkan penelitian.

Itulah yang mendasari kerja jurnalisme memerlukan teknik dan metode tertentu agar proses jurnalisme menjadi lebih efektif, akurat, dan hasilnya mudah diikuti pembaca. Bukan saja dalam hal teknik tetapi jurnalisme juga harus bersentuhan dengan etika karena output dari kegiatan ini adalah informasi yang mengkait dengan kepentingan dan hak asasi manusia. Jangan sampai di level proses, kerja jurnalisme kemudian memiliki efek buruk yang bertentangan dengan norma, etika, dan pranata sosial milik masyarakat politik dan budaya tertentu.

Dua hal itulah(teknik dan etika), yang menjadi entitas terpenting dari kegiatan jurnalisme. Sekalipun unsur teknik telah terumuskan formulanya menjadi model baku sebagaimana selama ini, begitu pun dalam hal etika; tetapi ketika dua unsur itu diterapkan dan mengalami interaksi intensif dengan kehidupan masyarakat.Penulis yakin hal itu yang menjadikan jurnalisme memiliki ciri, model, dan ekspresi berbeda.

Jurnalisme di Korea berbeda dengan jurnalisme di AS, begitupun Indonesia berbeda dengan Korea. Jurnalisme yang dikembangkan oleh media di Jawa karena lahir dan telah lama berinteraksi dengan masyarakatnya, ibarat dua lingkaran budaya (budaya media vs budaya masyarakat), sekalipun akhirnya media harus mereinkarnasi sebagai indusri, maka dalam proses berikutnya, media dan jurnalisme membentuk kebudayaannya sendiri.

Masyarakat Jawa yang memiliki kebudayaan dalam hal berkomunikasi, berselera dan bergaya hidup, secara perlahan akhirnya mempengaruhi pembentukan konstruksi jurnalisme sesuai perspektif kebudayaan masyarakatnya. Sinkritisme budaya pada kenyataannya terjadi pula di aras kebudayaan media.

Itulah yang perlu dikaji bagaimana perwujudannya di level teknik dan etika jurnalistik atas pengaruh jenis kebudayaan ini yang ikut mewarnai proses pembentukan budaya jurnalisme di tempat kita. Kajian ini amat penting sebagai upaya menggali kehidupan jurnalistik di dunia Timur (indeginous journalism).

Tetapi saya yakin jika telah ketemu konstruksinya justru jurnalisme ini amat bermanfaat bagi kehidupan sosial karena lebih dapat diterima dan relevan untuk ikut membangun peradaban. Daripada terus-menerus harus berkiblat dengan jurnalisme Barat yang belum tentu cocok dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kita.

Jurnalisme seperti yang dikembangkan Suara Merdeka dan Kedaulatan Rakyat barangkali merupakan replika dari Jurnalisme Jawa, karena kedua koran itu telah lama dan kuat berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan Budaya Jawa. Tetapi tetap perlu diteliti tentang konstruksi dan kebenarannya sebagai model jurnalisme yang pantas dipelihara dan dikembangkan di Indonesia .(11)

--- Amirudin, dosen mata kuliah Jurnalistik Pers, Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA