logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 06 Oktober 2007 WACANA
Line

TAJUK RENCANA

SBY-JK dan Pemilihan Presiden 2009

Bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, masalah pencalonan kembali pada pemilihan presiden tahun 2009 tentu sudah ada dalam fikirannya. Tetapi menjadi tidak mudah untuk mengungkapkan kepada publik termasuk ketika menjawab pertanyaan wartawan tentang hal itu. Setelah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan akan maju dalam pilpres mendatang, maka bagaimana reaksi SBY-JK sangat ditunggu-tunggu. Dan akhirnya jawaban itu sudah dinyatakan oleh keduanya meskipun seperti diduga belum ada sesuatu yang pasti dan itu bukan sesuatu yang salah.

SBY mengatakan dirinya belum memutuskan apakah akan maju atau tidak dalam pemilihan nanti. Alasannya tentu karena masih harus berkonsentrasi dalam tugas-tugas pemerintahan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh JK. Hanya ada tambahan sinyal yakni kemungkinan pasangan itu akan berpisah di tahun 2009 kalau Partai Golkar akhirnya memutuskan ketua umumnya untuk maju sebagai capres. Lagi-lagi itu bukan untuk ditentukan sekarang. Dan itu pun bisa dikatakan sebagai sesuatu yang bijak karena posisinya berbeda dengan para penantang. Meskipun demikian masih ada yang menilainya sebagai bentuk keraguan.

Yang menarik adalah memprediksi tentang peluang bagi SBY-JK untuk maju lagi dalam pilpres. Hal itu terkait dengan berbagai perkembangan yang terjadi di masyarakat khususnya menyangkut penilaian terhadap keduanya. Hasil survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) misalnya, memberikan gambaran tentang kemerosotan popularitas dan tingkat kepuasan publik terhadap duet SBY-JK. Pada saat awal dilantik yakni Oktober 2004 harapan melambung tinggi karena tingkat kepuasan publik mencapai lebih 80 persen. Tetapi sekarang setelah berjalan tiga tahun tingkat kepuasan merosot drastis menjadi hanya 35 persen.

Bagaimana pun survei semacam itu tak boleh dianggap remeh karena merupakan indikator politik yang cukup dipercaya terutama di kalangan masyarakat terdidik. Dengan asumsi tersebut maka dalam waktu dua tahun terakhir ini duet SBY-JK harus bekerja keras memenuhi janji-janji dan melaksanakan program yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Yang ditunggu tentunya langkah terobosan sebab kalau hanya mengandalkan cara-cara konvensional atau yang sudah baku tampaknya tak bisa mengejar. Memang hasil survei barulah sebatas persepsi masyarakat dan belum tentu obyektif tetapi bisa dijadikan cerminan keadaan.

Hasil survei semacam itu juga menjadi modal bagi calon-calon penantang seperti Sutiyoso. Apalagi ia dikenal mempunyai gaya kepemimpinan yang bisa dikatakan berlawanan dengan SBY yang dianggap kurang kuat dan tegas. Ada kerinduan terhadap strong leadership dan itulah yang kemungkinan menjadi daya jualnya. Namun nilai-nilai konvensional yang berbau primordial tampaknya masih akan berpengaruh besar. Seperti misalnya komposisi pasangan nasionalis-Islam, Jawa-luar Jawa, sipil-militer dan sebagainya. Maka dalam periode mendatang yang akan cukup ramai adalah upaya mencari pasangan yang dianggap bisa memenuhi aspirasi.

Terlalu dini untuk memprediksi lebih lanjut karena semua serba belum pasti. Siapa saja yang bakal berkompetisi dan bagaimana komposisi atau pasangan masing-masing. Bisa jadi duet ini akan berakhir pada saat pilpres nanti tetapi bukan tidak mungkin, dengan berbagai pertimbangan, keduanya akan mempertahankan dengan dukungan koalisi Partai Golkar dan Partai Demokrat. Sementara itu calon-calon penantang seperti Megawati juga belum memutuskan dengan siapa akan berpasangan. Apalagi Sutiyoso yang partainya saja belum jelas. Masih akan banyak perubahan yang terjadi, apalagi dalam politik, karena masih dua tahun lagi.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA